
Sudah hampir tiga hari aku berada di dalam ruangan ini. Hanya ada cahaya marahari yang menemani. Sudah beberapa kali aku mencoba lari, tapi hasilnya sama saja.
"Aqil. Tanganku sangat sakit."
Aqil menoleh dan memberikan senyumanya. Sejak aku berada di sini, sifat Aqil perlahan berubah. Dia tidak menyakitiku lagi. Dia lebih sering memperhatikan aku.
Ya, kali ini aku tidak memiliki cara lain. Aku akan melakukan hal yang sama seperti saat Aqil membawaku. Kasihan melihat kondisi Aqil, dia sangat terpuruk walau memiliki banyak harta. Namun, aku juga masih memiliki Zefan. Suamiku.
"Apa kau mencoba mengelabuhiku lagi?" tanya Aqil.
Aku menggeleng, "Mana mungkin. Kau selalu bisa menangkapku." Aku memberikan tatapan yang mungkin akan membuat Aqil tersentuh.
Aqil mendekat padaku. Dengan penuh perhatian Aqil melepaskan tanganku. Dia membantuku untuk duduk.
"Aqil. Kali ini aku akan bertanya dengan sungguh-sungguh." Aku menatap mata Aqil, "Kenapa kau membawaku ke sini?"
"Sudah aku bilang. Aku tidak ingin jauh darimu lagi, kita akan hidup bahagia dengan anak yang dikandungmu."
"Apa kau benar mencintaiku?"
Aqil kaget dengan apa yang aku tanyakan. Dia berdiri, kali ini aku melihat Aqil gelisah. Tidak seperti Aqil yang biasanya. Aku tahu jika tidak mencintaiku, dia hanya ingin sebuah perhatian dari orang-orang di sekelilingnya.
"Apa mungkin. Kau hanya ingin menjadikan aku bonekamu?"
"Sudahlah. Aku akan mengambilkan obat untuk lukamu."
Aqil bergegas keluar dari kamarku. Aqil tidak sadar jika ponselnya aku ambil. Kesempatan ini aku gunakan untuk mengabari posisiku pada Zefan. Dia mungkin sedang mencariku sekarang.
Setelah berhasil mengirim pesan aku meletakan ponsel itu ke atas nakas. Suara langkah kaki semakin mendekat, Aqil akan segera datang. Aku harus tetap memperlihatkan wajah seperti biasa.
"Ini. Obati lukamu." Aqil melemparkan kotak obat ke arah sampingku.
Perlahan aku mencoba untuk mengambilnya.
"Tunggu."
Aku sangat takut. Apa Aqil tahu apa yang aku lakukan, jika iya. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Apa aku akan kehilangan nyawaku di sini. Di tangan Aqil?
"Kenapa ponselku ada di sini?" wajah Aqil terlihat berfikir.
"Kau sendiri yang meletakan di sana."
"Apa benar?"
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Aqil menatapku, "Obati saja lukamu dan jadilah anak baik."
Kembali Aqil keluar dari dalam kamar. Aku mengobati bekas jahitan di tanganku. Mungkin terlihat jelas jika tidak ada yang menjaga tempatku berada. Namun, sebenarnya banyak anak buah Aqil yang berjaga.
__ADS_1
💝💝💝
POV Zefan.
Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Zefan. Zefan yang hampir putus asa mengambil ponselnya.
Sayang. Bagaimana kabar kamu? aku tahu kamu cemas. Bisakah kamu melacak nomor ini. Aku tidak tahu aku ada di mana sekarang. Aqil yang membawaku.
Brak. Zefan menggebrak meja yang ada di depanya. Dia merasa jika pihak polisi dan pengadilan sudah membohonginya.
Dengan langkah pasti. Zefan kembali masuk ke dalam kantor. Di sana banyak orang yang sudah menunggu keputusan Zefan.
"Cari tahu nomor ini. Jika sudah, kita harus segera turun tangan. Bawa kembali istriku padaku."
Jika ada orang baik, pasti ada orang yang jahat. Zefan mengumpulkan beberapa detektif dan polisi yang memang sudah bekerja lama untuk Zefan.
💝💝💝
Tanpa sepengetahuan Aqil aku mengambil cairan bius dari kotak obat. Aku akan membius Aqil agar aku bisa pergi dari sini.
Kali ini bukan Aqil yang datang menemuiku di dalam kamar. Melainkan seorang pelayan yang terlihat sudah cukup berumur.
"Nona, Tuan Aqil sudah menunggu di ruang makan."
Aku mengangguk. Tidak biasanya Aqil membiarkan aku keluar dari kamar. Kali ini aku makan di meja makan bukan hanya di atas tempat tidur saja.
"Ayo makan. Aku tahu kamu sudah lapar," kata Aqil.
"Itu ikan nila bakar dengan saus pedas. Dulu, Mama sering membuatkan kita. Kau sangat menyukainya." Aqil mengatakan dengan mata tertunduk.
Hampir saja aku menangis. Dulu, Aqil memang sering datang ke rumah. Mama akan memasak makanan sepesial sampai Papa pulang dan kita makan bersama.
Sulit rasanya mengingat kenangan manis itu. Bagaimana tidak, Aqil anak yang sudah diangkat oleh Mama dan Papa. Dia malah membunuh orang tuaku.
"Maaf. Maaf untuk semuanya," kata Aqil.
Aku menggeleng, "Aku akan ke kamar. Aku ingin sendiri."
Bukanya berlari ke kamar. Aku hilang arah hingga samoai di taman yang sangat luas. Aku terduduk di bangku taman itu.
"Ma, Pa. Apa aku harus memaafkan semuanya? jika iya? aku mungkin akan kembali terluka."
Aku menangis tersedu di temani bunga dan angin yang berhembus pelan. Sebuah tangan merangkulku, dia membawaku ke dalam pelukanya.
"Akhirnya aku menemukan kamu. Aku sangat rindu."
Mendengar suara itu. Aku mendongakkan kepala, aku tidak bermimpi. Dengan senang aku memeluk tubuh hangat itu, pelukan yang sangat menenangkan.
"Kenapa kamu menangis?"
__ADS_1
"Aku rindu Mama dan Papa."
"Apa kau tidak merindukanku?"
"Tentu saja aku merindukan kamu. Kamu ayah dari anak ini."
Zefan memelukku dengan erat. Entah bagaimana bisa Zefan masuk ke sini. Yang jelas, aku merasa sangat senang.
Prok prok prok. Sebuah tepuk tangan membuat aku dan Zefan melepaskan pelukan ini.
"Bagaimana reuni kalian? apa menyenangkan?" tanya Aqil dengan senyuman iblisnya.
Baru saja dia membuat aku luluh. Sekarang aku harus kembali melihat wajah itu dengan ekspresi yang mengerikan lagi.
"Al. Bagaimana aktingku?" tanya Aqil.
Dia mendekat dan langsung menarikku dari samping Zefan. Zefan terlihat diam, matanya kosong. Dia seperti orang yang tekena hipnotis.
"Apa yang kau lakukan pada suamiku?" Aku mencoba melepaskan tanganku dari cekalan tangan Aqil.
Aqil tidak menjawab dia hanya mencekal tanganku lebih keras lagi. Lalu dia menarikku masuk ke sebuah ruangan.
"Apa kau kira aku tidak tahu? aku tahu semua yang kamu lakukan." Aqil mencengkeram wajahku dengan keras.
Aku mencoba berontak. Aku ingin berteriak namun Aqil menaruh lakban di bibirku. Tanganku diikatnya dengan kencang. Lalu, dua orang masuk membawa Zefan.
Dia juga diikat sama sepertiku. Hanya saja dia tidak diberikan lakban di mulutnya.
"Bagaimana Fan. Apa kau senang bisa melihat istrimu?" tanya Aqil dengan seringai iblisnya.
"Apa yang kau lakukan. Istriku sedang hamil," teriak Zefan dengan lantang.
Buk. Sebuah tonjokan mendarat di perut Zefan. Aku hanya mampu memejamkan mata, tidak kuat melihat semua ini.
"Bagaimana kalau kita bersepakat. Berikan istrimu dan anakmu bersamaku. Aku janji, aku tidak akan menyakitinya."
Aku menggeleng dengan cepat. Aku tidak ingin berpisah dari Zefan. Namun, aku juga tidak ingin melihat Zefan disiksa seperti ini.
Buk buk. Kali ini dua tonjokan mendarat di tubuh Zefan. Kakiku lemas rasanya, aku terduduk dengan tangan masih terikat. Ingin berteriakpun tidak bisa.
"Aku tidak akan pernah memberikan Alisha. Walaupun nyawaku taruhanya."
Aqil geram mendengar jawaban Zefan. Dengan sekuat tenaga, Aqil bersiap untuk kembali melukai Zefan. Kaki lemasku aku pakasakan berlari dan, Buk. Sebuah tonjokan keras mendarat di perutku.
"ALISHA." Teriak Aqil dan Zefan bersamaan.
Aku menatap mata Zefan. Berharap dia baik-baik saja. Perutku rasanya mulas dan seperti kram. Jika aku keguguran saat ini, mungkin aku akan membuat Aqil bahagia dan Zefan terluka.
💝💝💝
__ADS_1
to be continued