
Hubunganku dengan Zefan kini semakin dekat, walau belum ada kata yang benar-benar diucapkan. Masih sepagi ini namun Zefan sudah mengirimkan banyak pesan untukku.
"Sepertinya kamu sedang bahagia?" tanya Mila padaku.
Aku langsung menutup ponselku dan menoleh padanya, "Setidaknya jangan membuat jantungku melonjak dong," kataku pada Mila.
"Bukannya Zefan yang membuat jantung kamu melonjak?" Mila duduk disampingku.
"Ada apa mencariku?" tanyaku pada Mila.
"Hari ini bukanya kamu ada janji dengan client?" tanya Mila padaku.
Benar saja, hampir aku lupa jika Mila tidak mengingatkan. Aku memasukan ponselku ke tas dan berlari tanpa menjawab pertanyaan Mila.
Aku menghentikan beberapa taxsi, tidak ada yang berhenti. Padahal aku sudah telat, aku putuskan untuk berlari ketempat tujuanku.
Tiiin, tiiin. Suara klakson mobil membuat aku berhenti dan menoleh.
"Aku sedang buru-buru. Ada apa?" aku berteriak pada sopir itu.
"Ayo naik." Zefan mebukakan pintu mobilnya untukku.
Aku tidak tahu jika Zefan berada didekat sini. Jalan ini sangat jauh dari kantornya. Apa dia sengaja kesini ya?. Aku tersenyum dan langsung masuk ke mobil Zefan.
Di dalam mobil aku hanya diam. Zefan bisa tahu semuanya pasti karna Mila. Dia dan Vidi sangat berniat menjodohkan aku dengan Zefan. Zefan itu baik, kata mereka.
"Kamu tidak ke kantor?" tanyaku pada Zefan.
"Baru sampai dan aku dapat laporan jika kau mau berlari kearah butik," kata Zefan.
"Maaf, aku merepotkanmu." Aku menatap lembut pada Zefan. Dia bahkan mampu meninggalkan hal yang penting untukku.
"Bodoh, jangan bilang maaf. Sudah sampai, apa kau tidak mau turun?" Zefan mencoba menyadarkanku dari lamunan.
"Oh ya." Aku melihat sekeliling. Benar saja, aku sudah sampai di butik untuk fitting baju.
"Terimakasih, Zefan," aku mengatakanya dengan senyuman.
"Sama-sama. Aku pergi dulu ya?." Zefan berpamitan denganku.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan." Aku melambaikan tanganku padanya.
Apa aku sudah gila?. Bahkan aku senyum-senyum sendiri hanya karna hal sepele yang dilakukan Zefan. Aku bahagia di dekatnya, tapi kenapa hatiku belum meneriakan namanya.
💝 💝 💝
Aku sudah mempersiapkan bajunya sejak kemarin, jadi Aqil dan Yesi tidak perlu menungguku lagi.
"Dimana Yesi?" tanyaku langsung pada Aqil.
"Sekarang kau sudah kenal denganku?" Aqil mendekat padaku.
"Aku kenal kamu karna kamu tunangan Yesi," kataku masih dengan nada tenang walau jantungku betdetak kencang.
"Kau sangat dengan pria itu." Aqil menarikku kesebuah ruang ganti.
"Apa yang kamu lakukan?" aku mendorong tubuh Aqil yang semakin mendekat.
"Jangan-jangan dia suami kamu yang baru?" Aqil semakin mendekat.
"Itu bukan urusanmu, kita sudah tidak ada ikatan apapun." Aku mencoba membuka pintu itu, namun ternyata terkunci.
"Aku kira kamu benar-benar mencintaiku ... ," Aqil kembali mendekat, sorot matanya begitu tajam "ternyata kamu hanya ingin berpisah dariku sejak awal."
"Apa kamu tahu betapa sakitnya aku. Ketika aku tahu, kamu pergi setelah perceraian kita." Aqil melemparkan sebuah kunci padaku.
"Maaf, kita sudah berbeda jalan." Setelah mengatakan itu, aku langsung keluar dari sana. Tidak mungkin aku terus meladeni Aqil, yang ada Yesi akan curiga padaku nantinya.
"Gaun ini sangat indah." Yesi beberapa kali memutar tubuhnya untuk mengagumi gaun pengantin itu.
Ternyata selera Aqil masih sama, semua bernuansa mawar putih.
"Kau di sini?" tanya Yesi.
"Maaf aku terlambat, Yes," kataku pada Yesi.
"Kau sudah bertemu Aqil bukan?" tanya Yesi.
"Sudah." Aku membantu Yesi merapikan gaunya. "Gaun ini sangat cocok untukmu," ujarku.
__ADS_1
"Ini kan pilihan Aqil. Tentu cocok untukku," kata Yesi, masih dengan senyumanya.
Aku ikut tersenyum dan membukakan tirai. Tirai itu sengaja aku buka agar Aqil bisa melihat Yesi. Yesi yang sudah bahagia berada di samping Aqil.
💝 💝 💝
Setelah selesai fitting baju aku bersama Yesi mencari tempat makan. Aku sempat menolak namun Yesi terus memaksaku. Sampai aku benar-benar harus kembali ke kantor karna Mila memanggilku.
"Kita bisa pulang bersama," kata Yesi yang langsung menggandeng tanganku.
"Bukannya kamu mau makan dengan Aqil?" tanyaku pada Yesi.
"Aku tidak lapar lagi. Aku akan mengantarmu dan sekalian bertemu Mjla." Yesi terus menggandeng tanganku. "Iya kan, Aqil?" Yesi meminta persetujuan dari Aqil.
"Baiklah, ayo." kamipun masuk ke mobil. Sudah lama aku tidak naik mobil ini. Selera Aqil dan gayanya masih tetap sama.
Di dalam mobil hanya Yesi yang terus bercerita. Aku dan Aqil hanya diam, entah kenapa aku merasa sudah menghianati Yesi. Apa benar Yesi belum tahu tentang masa lalu Aqil denganku?. Aku bertanya dalam hatiku terus menerus.
"Kok kantor Mila ramai banget ya?" tanya Yesi padaku.
Benar. Kenapa sangat ramai?, apa ada yang rusuh ya?. Aku langsung turun dan melihat keramaian itu.
"Itu wanita yang ditunggu pria itu ya?" tanya seorang gadis pada temanya.
"Iya, beruntungnya wanita itu," balas yang satunya lagi.
Apa mereka sedang membicarakan aku ya?. Aku menerobos keramaian itu dan melihat Zefab berada ditengah-tengah orang, di dadanya ada sebuah papan yang bertuliskan "I Love Alisha".
"Zefan, apa yang kamu lakukan!" teriakku. Tanpa sadar aku sudah berada di depan Zefan.
Zefan langsung berada diposisinya, dan mengambil sebuah cincin dari sakunya. Aku mundur beberapa langkah dari Zefan.
"Alihsa ... " Zefan menatapku lembut " apa kamu mau menjadi istriku?" tanyanya dengan bangga.
Aku melihat sekelilingku. Banyak yang mengambil gambar mereka juga bersorak.
"TERIMA!. TERIMA!" teriak mereka.
Di sana juga ada Vidi dan Mila. Mereka tersenyum padaku dan kemudian mengangguk. Ini terlalu mendadak, jika aku menolak, Zefan akan sangat malu. Namun jika aku terima, aku belum siap dengan semua konsekuensinya.
__ADS_1
💝 💝 💝
to be continued