Bertahan

Bertahan
Part 44 S 2


__ADS_3

Aku mendapatkan pesan dari detektif yang aku suruh untuk menyelidiki tentang Mei dan kotak yang dikirim padaku. Aku meminta untuk bertemu denganya di sebuah cafe kecil di dekat persimpangan jalan. Aku tidak mau ada yang mengetahui tentang semua ini.


"Kau mau kemana di jam kerja seperti ini?" tanya Mila padaku.


"Aku akan bertemu client sekalian bertemu dengan seseorang," kataku pada Mila.


"Kau sudah pandai membuat alasan ya.” Mila menjitak kepalaku.


Aku memang berbohong tentang client pada Mila.


" Sebenarnya kau mau kemana?" kembali Mila bertanya tentang kenapa aku pergi dari kantor.


"Ada urusan penting."


"Bertemu Zefan dan Mamanya?" Mila mendorongku keluar dari ruangan. "Semoga beruntung," kata Mila padaku.


"Terimakasih Mil."


Aku langsung pergi ke tempat tujuanku. Mila tidak tahu sebenarnya aku mau kemana. Aku memang merahasiakan ini. Aku tetap mencari diriku yang sebenarnya karna Vidi tidak mau aku tahu siapa diriku.


💝💝💝


Sampai di cafe yang aku tuju aku melihat seseorang dengan pakaian gelap. Padahal cuaca cukuplah panas. Aku langsung tahu jika dia adalah detektif yang menungguku.


"Sudah lama?" tanyaku padanya.


Tidak ada jawaban hanya sebuah berkas yang dia sodorkan padaku. Aku membukanya, Mei ternyata mengambil semua barang-barang itu dari bawah tanah.


"Hanya ini?".

__ADS_1


" Mei di rumah Aqil sangat mengenaskan. Mungkin jika kau datang padanya dan mengasihinya. Dia akan memeberikan jawaban yang kamu cari. Dia ingin menyampaikan sesuatu padamu."


Aku terdiam. Apa Aqil memperlakukan Mei sangat jahat hingga detektif ini mengatakan hal seperti itu.


"Kau juga harus mencari tahu. Ayah Ibumu tidak meninggal karna kecelakaan. Vidi juga bukan pamanmu yang asli."


"Apa maksudmu?"


"Maaf aku hanya mampu membantumu sampai di sini." Detektif itu langsung pergi begitu saja. Bahkan aku belum membayarnya.


Ada apa ini sebenarnya. Misteri dalam hidupku tidak ada habisnya. Katanya ibuku kecelakaan karna Gama tapi aku malah mendapat kabar yang sebaliknya. Aku harus percaya dengan siapa kali ini.


"Kita memang jodoh." Aqil langsung duduk di depanku.


"Dimana Yesi?" tanyaku pada Aqil.


"Dia sedang berbelanja. Aku akan menunggunya denganmu di sini," kata Aqil.


💝💝💝


Beberapa kali aku membaca berkas itu dan memahaminyam. Di sana juga ada foto makam keluargaku. Banyak bunga yang terlihat masih segar. Aku bahkan kesana sudah lama. Apa ada yang membersihkan dan mengunjunginya. Aku harus tahu siapa dia. Dia pasti tahu sesuatu.


"Kau sedang apa?" tanya Zefan. Dia duduk di sampingku.


Aku memberitahukan semuanya pada Zefan. Aku mencoba jujur padanya, aku tidak ingin hubunganku dengan Zefan hanyalah hubungan tanpa kejujuran.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Zefan.


"Mungkin aku akan pulang ke sana beberapa hari," kataku pada Zefan.

__ADS_1


"Mau aku temani?" tanya Zefan padaku.


"Tidak usah. Siapa nanti yang menjaga Mama, aku takut Mama akan kenapa-napa." Aku meletakan berkas itu.


"Kalau begitu kamu harus tetap mengabariku, ok?"


"Ok."


Aku dan Zefan memutuskan untuk ke rumah sakit lagi. Mama di sana dengan asisten Zefan, aku ke sana juga mau pamit. Tidak mungkin aku pergi dengan diam-diam.


💝💝💝


"Kamu ke sana sendiri?" tanya Mama padaku.


Aku mengangguk pelan. "Aku ingin tahu siapa diriku sebenarnya Ma," kataku pada Mama Zefan.


"Mama hanya bisa do'ain kamu. Apa Zefan perlu menemanimu?" tanya Mama.


"Tidak perlu. Aku akan sering mengabari kalian."


Mama memelukku dia memberikan semangat padaku. Aku juga sudah setuju untuk menikah setelah pulang dari kota kelahiranku. Sampai hari ini Zefan selalu menemaniku. Aku akan mencoba untuk tidak mengecewakanya.


"Kamu akan berangkat kapan?" tanya Zefan saat kami dalam perjalanan pulang ke apartemen.


"Besok mungkin, aku juga harus bilang pada Mila," kataku.


"Aku akan mengantarmu besok."


Kami kembali diam sampai di apartemenku.

__ADS_1


💝💝💝


to be continued


__ADS_2