Bertahan

Bertahan
Part 58 S 2


__ADS_3

Aku sedang bersiap untuk pergi makan siang dengan Mila.


"Selamat siang."


"Siang," aku menoleh keasal suara.


"Apa ini ruangan Ibu Alisha?"


Aku mengangguk, "Iya, silahkan duduk," kataku pada Gadis pengantar barang itu.


"Tidak perlu, saya sedang buru-buru."


Gadis pengantar barang itu langsung pergi setelah meletakan sebuah kotak. Aku mengambilnya dan membuka, ternyata kotak makan siang dengan isinya.


"Siapa yang mengirim ini?"


Aku bersiap untuk menelfon Zefan. Mungkin dia yang mengirimkanya untukku.


"Al, ayo kita makan siang," kata Mila saat masuk ke ruanganku.


Aku memperlihatkan kotak makan yang aku terima baru saja.


"Apa Zefan yang sudah mengirimkanya untuk kamu?"


"Entahlah, Aku baru saja mau menelfonya."


"Baiklah, aku akan pergi makan dengan yang lain. Dadah."


Sekarang aku bisa menelfon Zefan dengan leluasa. Aku memencet nomor Zefan dan langsung tersambung.


"Hallo bungaku."


Aku kaget karena suara yang keluar bukan dari dalam telfon. Ternyata Zefan sudah berdiri diambang pintu.


"Baru saja aku mau menelfon kamu untuk berterima kasih," kataku. Aku kembali duduk di kursiku sementara Zefan duduk di sofa.


"Terima kasih? untuk apa?"


"Bukanya kamu yang mengirim kotak makan ini?" kembali aku memperlihatkan kotak itu.


Zefan mendekat kearahku, "Aku tidak mengirimnya. Memang apa isiny?"


Aku menggelengkan kepalaku. Zefan mengambil alih kotak makan itu dan membukanya.


"Apa ini?" Zefan memperlihatkan isi kotak yang isinya usus sapi namun belum di masak.


Aku langsung masuk ke kamar mandi karena mual melihat itu.


Tok tok tok. Zefan mengetuk beberapa kali pintu kamar mandi. Aku membasuh mukaku dan mencoba untuk tenang.


"Kamu nggak apa-apa kan, Al?" tanya Zefan.


"Aku mau keluar kalau itu sudah di buang."


"Aku sudah suruh OB untuk buang. Kamu bisa keluar."


Aku membuka pintu dengan hati-hati. Aku takut jika Zefan mengerjaiku.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Zefan lagi.


Aku hanya menggeleng lalu duduk di sofa. Aku masih memikirkan siapa yang mengirimkan hal mennjijikan itu padaku.


Aku memeluk lengan Zefan yang sedang duduk di sampingku. Aku takut jika orang itu akan kembali mengirimkan hal semacam itu lagi.


"Apa kamu tahu siapa yang mengirimnya?" tanya Zefan kemudian.


Dengan tatapan kosong aku menggelengkan kepala.


"Kamu yang tenang. Aku akan suruh orang untuk menyelidikinya." Zefan mengelus kepalaku dengan lembut.


"Aku mau pulang saja, boleh?”


Zefan langsung berdiri dan menggenggam tanganku. Dia begitu perhatian saat aku seperti ini.


"Aku akan ke kantor setelah mengantar kamu pulang dulu."


Aku tersenyum. Walau masih ada bayangan tentang hal tadi tapi aku tidak ingin memperlihatkan wajah sedih ini pada Zefan.


Aku mengirim pesan pada Mila jika aku pulang dan tidak bisa ikut ke gedung.


"Apa kau akan memakan sesuatu sebelum pulang?" tanya Zefan saat kami sudah di dalam mobil.


Aku kembali menggeleng, "Aku hanya ingin istirahat saja di rumah."


Zefan mengangguk.

__ADS_1


💝💝💝


Sampai di rumah aku juga masih terbayang dengan apa yang aku alami. Bahkan aku melihat ranting yang tergeletak seperti apa yang aku lihat tadi.


"Tidak apa-apa. Jangan panik," kata Zefan.


Dia bahkan mengantarkan aku sampai di kamar. Zefan merawatku dengan telaten, aku sangat beruntung memiliki Zefan.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Aku mengambil ponsel yang aku letakan di dalam tas. Nomor yang tidak aku kenali.


Bagaimana kado hari ini? ini hanya peringatan kecil. Jika kamu mendekati suamiku lagi, aku akan berbuat lebih dari ini.


Aku terpaku melihat semua tulisan itu. Siapa dia? dan siapa suaminya. Kenapa harus aku yang mendapatkan hal ini.


Zefan langsung merebut ponsel itu dan membaca pesan yang baru saja masuk. Kini mata Zefan tertuju pada diriku.


"Apa kamu dekat dengan pria lain?"


Aku bahkan tidak menyangka jika Zefan akan menanyakan pertanyaan semacam ini.


Zefan duduk di sampingku, "Jujur saja, aku tidak mau kamu berbohong dan mengalami hal ini," kata Zefan.


"Aku tidak dekat dengan siapapun, bahkan kamu juga terus bersamaku. Mana mungkin aku menyembunyikan hal sebesar ini."


"Kamu tenang saja. Aku akan melakukan apapun demi kamu."


Aku tersenyum mendengar perkataan Zefan. Zefan kembali meluluhkan hatiku.


"Apa boleh aku minta satu pelukan?" tanyaku saat Zefan sudah akan keluar dari kamar.


Dengan langkah lebar Zefan langsung mendekat dan memelukku, "Bukan hanya satu, sebanyak yang kamu mau aku akan berikan."


"Kamu memang yang terbaik," lirihku dalam pelukan Zefan.


Setelah beberapa menit kami diam dalam posisi. Akhirnya Zefan melepaskan pelukanya padaku.


"Aku harus kembali ke kantor," kata Zefan.


Dengan perasaan kecewa aku menganggukan kepalaku juga.


"Jika butuh apa-apa, panggil saja Bi Iyah."


"Iya."


"I love you."


💝💝💝


Setelah menenangkan pikiran akhirnya aku keluar dari kamar. Aku melihat Bi Iyah sedang sibuk di dalam dapur.


"Lagi masak apa, Bi?" tanyaku.


"Lagi masak rendang sapi."


Huek, aku langsung teringat dengan kotak makan tadi siang. Kepalaku langsung terasa berputar.


"Ada apa, Non?" tanya Bi Iyah.


"Tidak apa, Bi Iyah lanjutkan saja. Oh ya, nanti buatkan saja aku telur dadar," kataku pada Bi Iyah.


"Baik, Non. Kalau ada apa-apa katakan saja ya, Non."


"Iya, Bi. Aku kembali ke kamarku dulu."


Setelah aku pikir lebih baik aku mencari udara segar. Aku memilih ke taman belakang dekat danau. Di sana pemandanganya sangat indah dan membuat aku bisa melupakan sejenak masalah-masalahku.


Ting, sebuah pesan masuk. Kali ini dari nomor Aqil.


Kenapa kau tidak datang? apa kau sakit?


Aku mengabaikan pesan itu. Bahkan aku memilih mematikan ponselku agar tidak ada yang mengganggu.


Banyak bunga yang sudah bermekaran. Aku bahkan belum sempat memetik dan mengganti bunga di ruang bunga.


"Tebak siapa aku?" aku merasakan mataku ditutup dengan tangan.


Aku memegang tangan itu, "Siapa lagi yang jika bukan suamiku," jawabku.


Zefan melepaskan tanganya dan langsung tiduran di pangkuanku.


"Kamu sudah pulang? kenapa bisa tahu aku ada di sini?" tanyaku pada Zefan.


"Aku mencarimu, kata Bi Iyah kamu di kamar. Ternyata kau sedang ada di sini."


Aku hanya tersenyum.

__ADS_1


"Apa dia mengirim pesan lagi?"


Aku memikirkan siapa yang di maksud Zefan. Mungkin pesan tanpa nama itu.


"Tidak, hanya Aqil yang menanyakan kenapa aku tidak ikut datang."


"Kalau begitu, kita makan saja dulu. Aku sudah sangat lapar." Zefan menarik tanganku. Namun aku tidak beranjak sedikitpun.


Dengan ragu aku bertanya pada Zefan, "Apa aku boleh makan di kamar saja?"


"Kenapa?" Zefan kembali duduk di sampingku.


"Bi Iyah masak, ....masak..."


"Masak apa?"


"Masak rendang sapi. Aku masih terbayang tadi siang."


Zefan terlihat berfikir.


"Kau sudah mengatakan pada Bi Iyah jika aku akan makan telur dadar di kamar saja."


Dengan tatapan lembut Zefan mengusap kepalaku, "Aku tahu perasaan kamu. Kamu bisa makan di kamar."


"Terima kasih."


💝💝💝


Aku masih di dalam kamar dengan Zefan pagi ini. Sangat malas rasanya untuk pergi ke kantor. Aku takut jika hariku akan seperti kemarin lagi.


"Sayang, kamu nggak mau ke kantor?" tanya Zefan dengan suara lirih.


"Malas," jawabku.


"Aku juga masal." Zefan langsung memelukku.


"Tapi, aku harus tetap kerja atau Mila akan mengoceh tanpa ujung padaku."


Zefan terus memegang tanganku saat aku akan bangun.


"Apa?" tanyaku pada Zefan yang masih di dalam selimut tebalnya.


"I love you."


Aku hanya tersenyum dan masuk ke kamar mandi. Aku mandi dan bersiap pergi ke kantor.


"Al, pakaianku di mana?" teriak Zefan.


"Sudah aku letakan di sofa kamar. Aku berangkat dulu ya."


"Iya."


Aku sudah siap keluar namun lagi-lagi Zefan memanggilku.


"Aaal."


"Iya," jawabku.


"I love you."


Aku membalas dengan teriakan juga, "I love you too."


Aku berangkat dengan taxsi yang sudah aku pesan. Sejak keluar dari rumah aku merasakan tidak enak di dalam hatiku.


"Ini sudah sampai, Mbak." Kata sopir taxsi yang terlihat masih sangat muda.


"Terima kasih." Aku memberikan uang dan langsung turun.


Sampai di tempat kerja aku kembali mendapatkan sebuah kotak. Aku tidak mau membaw kotak itu keruanganku. Tanpa pikir panjang aku langsung membawanya ke ruangan Mila.


"Ada apa?" tanya Mila begitu aku masuk.


"Tolong bukakan kotak ini." Aku meletakan kotak itu di meja Mila.


"Apa ini?"


"Buka aja," kataku.


Saat Mila membukanya aku tidak berani melihat dan memilih untuk melihat ke luar jendela.


"Al, ini ..."


💝💝💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2