
Semua orang masih melihat kearah aku dan Zefan. Hatiku semakin kacau saja. Vidi mencoba memberikan isyarat agar aku menerima Zefan. Tapi, hatiku masih diam bahkan ingin rasanya lari dari sana.
"Dia wanitaku." Aku menoleh ke sumber suara. Aqil. Dia mendekat dan langsung memeluk pinggangku.
Aku masih diam karna bingung dengan semua ini. Setelah sadar, aku mendorong Aqil dengan sangat keras.
"Apa yang kau katakan?" tanyaku pada Aqil.
"Alisha, kau ini wanitaku," kata Aqil dengan tatapan mata yang menusuk.
Zefan berdiri dan melihat kearah Aqil. Mata Zefan berubah menjadi merah, dia menahan sebuah amarah.
"Dengar. Aku sudah memilih Zefan," kataku dengan lantang. Semua mata kembali tertuju padaku.
Apa aku salah mengatakanya? aku berjalan mendekat kearah Zefan dan mengambil cincin itu. Aku memasangnya tepat di depan Aqil.
"Kau sudah lihat? aku memilih Zefan daripada pria sepertimu," kataku lagi.
"Apa kau benar menerimaku?" tanya Zefan. Dia masih terpaku karna hal yang tidak terduga, kedatangan Aqil.
"Buat apa aku berbohong, aku sudah katakan jika aku akan membuka lembaran baru." aku tersenyum pada Zefan.
Maaf Zefan, aku salah karna mempermainkan hatimu. Aku menerima kamu karna aku ingin Aqil pergi jauh dariku.
Aqil menarik paksa diriku keluar dari keramaian itu "Mau apa kau?" tanyaku pada Aqil saat kita sudah berada ditempat yang cukup sepi.
"Katakan padaku jika kau benar-benar mencintainya!" teriak Aqil padaku.
Aku memandangnya. Hatiku meneriakan nama Aqil, aku bahkan menahan diri untuk tidak memeluknya.
"Katakan Alisha!" Aqil semakin berteriak.
"Aku ... " aku terdiam sejenak dan mencoba mengatakan apa yang Aqil inginkan "aku mencintai Zefan, lebih dari aku mencintaimu," kataku.
Aqil tertawa namun tawa itu terdengar dipaksakan. Dia memojokanku ke tembok.
"Aku mencarimu hingga saat ini dan kau malah memilih pria lain." Mata Aqil mengatakan semua yang dia inginkan. Aku menatap mata itu, mata yang dulunya aku kagumi.
"Kamu juga akan menikah. Apa salahnya aku mencintai pria lain," ujarku.
"Kau tega padaku Al." Aqil langsung pergi begitu saja, meninggalkan aku dengan rasa sakit yang ada dalam hati.
Aku terduduk, tidak berdaya rasanya. Hati ini bahkan membenciku karna aku harus melepaskan Aqil.
Suara langkah kaki membuat aku terbangun dari dudukku. Aku merapikan baju dan kerudungku.
"Kau bahkan menipuku Al," kata Yesi. Kali ini dia terlihat sangat kecewa.
__ADS_1
"Maaf kan aku, aku melakukan ini karna aku tidak ingin ada yang terluka," jawabku.
"Kau malah semakin membuat terluka untuk semua orang. Kamu egois Al," kata Yesi. Yesi langsung menyusul Aqil, mungkin dia akan menenangkan Aqil.
💝 💝 💝
Zefab mengantarkanku sampai apartemen. Dia beberapa kali menanyakan bagaimana keadaanku. Aku hanya diam, aku memikirkan apa yang sudah aku lakukan. Aku memberikan harapan palsu pada Zefan. Aqil bahkan harus terluka karna kebohonganku.
"Alisha, jangan memikirkan hal yang tidak penting. Sekarang kau hanya fokus padaku, bukan pria lain, mengerti?" kata Zefan padaku.
Aku menatap matanya dengan lembut "Terimakasih sudah mau bersamaku, aku tidak akan membuat kamu kecewa." Ini bukanlah sebuah janji, tapi aku akan mencoba.
"Mau aku antar sampai atas?" tanya Zefan.
"Tidak perlu, aku masih bisa sendiri." Aku turun dari mobil Zefan. Zefan bahkan ikut turun dari mobilnya.
"Aku akan selalu menantimu sampai kau siap menjadi istriku," kata Zefan perlahan.
"Terimakasih, Zefan." Aku tersenyum, kali ini aku sangat berterimakasih pada Zefan.
Kami terdiam beberapa saat. Hanya saling pandang dan sebuah senyuman.
"Apa sekarang aku boleh pulang," tanya Zefan kemudian.
Aku mengangguk, "Tentu saja boleh." Aku tertawa mendengar pertanyaan Zefan.
Zefan masuk ke mobil dan melambaikan tanganya padaku.
"Hati-hati dijalan," kataku pada Zefan.
Aku tetap berdiri di sana hingga Zefan dan mobilnya hilang disebuah belokan. Hati ini merasa sedikit bahagia.
💝 💝 💝
Foto Mama dan Papa masih setia menemaniku. Sudah berapa lama aku tidak ke makam mereka karna pernikahanku dengan Aqil. Aku memandang foto itu, perasaan rindu kembali menyeruak.
Hampir saja aku menangis sampai aku mendapat pesan dari Vidi. Dia dan Mila sudah dibawah. Aku bergegas untuk turun dan menjemput mereka.
"Kok ke sini malem-malem sih?" tanyaku pada mereka.
"Mila takut kamu kenapa-napa," jawab Vidi.
"Aku nggak apa-apa kok. Kalian udah makan?" tanyaku pada Mila dan Vidi.
"Belum, niatnya juga mau bawa kamu makan." Mila menggandeng tangan Vidi.
"Kebetulan banget, Ayo." tanpa ba bi bu aku langsung masuk ke mobil Vidi daripada harus lihat kemesraan mereka.
__ADS_1
"Apa yang dilakukan Aqil padamu?" tanya Vidi saat kami sudah di dalam mobil semua.
"Tidak ada." aku menggelengkan kepalaku.
"Kami tahu kamu sedang berbohong," kata Mila.
Aku menggelengkan kepala dan kembali fokus melihat keluar mobil.
"Apapun yang terjadi kamu harus menanggung akibatnya." Vidi mengatakan itu dengan tatapan yang masih fokus ke jalanan.
"Aku tahu itu." aku pasrah dengan apapun yang akan terjadi nantinya.
"Urusan pernikahan Aqil dan Yesi, aku yang akan menanganinya sendiri," kata Mila.
"Aku turun di sini," kataku sedikit keras.
"Kenapa?" tanya Vidi.
"Aku ada urusan mendadak." Kini aku juga harus berbohong pada Vidi.
Vidi menghentikan mobilnya, aku langsung turun tanpa menanggapi semua pertanyaan mereka. Aku kira Vidi dan Mila akan berada dipihakku ternyata, mereka hanya mau mencerca keputusanku.
"Bahkan sudah tidak ada taxsi untuk sekarang." aku menghelan nafas panjang.
Aku sudah berjalan terlalu jauh, bagaimana aku akan kembali. Aku duduk dibangku yang berada ditepi jalan. Beberapa kali aku mendapat pesan dari Zefan. Tidak ada niatan untuk membalasnya.
"Maafkan aku, Zefan," kataku lirih.
"Kau menyesal memilih dia, kan?" kata seseorang di sampingku.
Aku menoleh dan betapa kagetnya aku. Aqil, kenapa dia bisa tahu aku di sini. Aku menoleh ke kiri dan kanan namun tidak ada Yesi di sana.
"Kau, kenapa ada di sjni?" tanyaku padanya.
"Setiap ada Aqil pasti ada Alisha," kata Aqil dengan senyumannya.
"Tidak," aku menyanggah kalimat Aqil.
Aqil tertawa dan berdiri di depanku, "Alisha, jangan bongi hatimu. Kamu mencintaiku dan akan selalu memcintaiku." Aqil mengusap pipiku namun aku menepis tanganya.
"Aku sudah menjadi milik orang lain. Jangan lakukan hak yang menjijikan." aku langsung bersiap pergi. Hari ini aku merasakan sakit hati yang terus bertambah.
"Kau akan tetap menjadi milikku, Alisha!" teriak Aqil di belakangku.
Aku berlari kecil, aku takut Aqil akan kembali mendapatkanku. Aku takut hati ini kembali meneriakan namanya lagi. Aku tidak ingin masa laluku yang kelam kembali lagi.
💝 💝 💝
__ADS_1
to be continued