
Setelah mendengar kabar Zefan terluka. Aku langsung ke rumah sakit. Dia sudah berada di ruang operasi. Menunggu, hal yang sangat tidak menyenangkan.
Tidak lama dokter keluar dari ruang operasi. Aku mendekat dan menannyakan bagaimana keadaan Zefan.
"Bagaimana suami saya, dok?"
Dokter itu tersenyum, "Suami ibu sudah melewati masa kritis. Kita tinggal menunggu dia siuman saja."
Sedikit lega, tapi masih ada kekhawatiran di dalam hatiku.
"Saya permisi dulu, bu."
"Aku mengangguk."
Dengan langkah berat. Aku masuk ke ruangan Zefan di rawat. Terlihat pucat, bahkan banyak luka di tubuhnya. Sekarang, aku hanya bisa mengandalkan Mama. Mama sedang mencari info tentang kecelakaan Zefan ini.
"Kenapa ini bisa terjadi," lirihku.
Tangisku pecah. Aku hanya bisa meratap sembari memegang tangan Zefan. Kenapa setelah mendengar kabar baik, aku harus mendengar kabar yang menyakitkan ini.
"Kau mengatakan kita akan liburan lagi setelah urusan Aqil selesai. Kenapa kamu malah seperti ini."
"Kita akan liburan sebentar lagi."
Mendengar kata itu aku langsung menatapa Zefan. Dia sudah bangun, walau masih sangat lemah.
"Jangan menangis. Aku tidak apa-apa," kata Zefan.
Aku mengangguk. Ke dua tanganku mencoba menghapus air mata ini. Namun, tetap saja air mata ini tidak bisa dibendung.
"Kenapa terjadi hal seperti ini?"
"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja, sopir yang membawaku tidak bisa datang. Seseorang menggantikannya, dia perempuan. Lalu, aku tidak ingat lagi."
Aku menghela nafas, "Semoga polisi cepat menemukannya. Aku tidak mau hal seperti ini terjadi lagi."
"Kenapa kamu lapor polisi? ini akan semakin rumit."
"Maksudmu apa? aku melakukan ini demi kamu."
Zefan terlihat tidak senang. Aku yang merasa bersalah hanya diam. Beberapa saat kami terjebak dalam keheningan.
"Aku tahu kamu sangat khawatir padaku."
Aku membenarkan selimut pada tubuh Zefan.
"Jangan banyak bicara. Kamu istirahat saja dulu. Aku akan menemui Mama sebentar."
Zefan mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Aku keluar dengan hati-hati agar tidak mengganggu istirahatnya.
Sampai di taman rumah sakit ini. Mama terlihat sangat gelisah, bahkan ponsel yang beberapa kali berdering tidak digubrisnya.
"Ma, ada apa? kenapa Mama malah memanggilku ke sini?"
"Sebenarnya polisi sudah tahu pelakunya dari rekaman CCTV."
"Lalu?"
"Tapi polisi masih mencarinya. Kamu hati-hati ya, jaga Zefan juga. Mungkin pelakunya akan melakukan hal lain lagi."
__ADS_1
"Iya, Ma." Aku memeluk Mama, tubuhnya gemetar, "Mama tidak mau menemui Zefan?"
"Mama ada urusan. Nanti setelah selesai, Mama akan ke sini lagi. Jaga diri kamu ya, Sayang."
Aku mengangguk, "Mama hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai di sana. Langsung kabari aku."
Mama meninggalkan aku sendiri. Jika polisi sudah tahu dan sedang mencari pelakunya. Kemungkinan besar, Zefan akan tetap dalam bahaya. Lebih baik, aku akan menemaninya.
💝💝💝
Sudah satu minggu. Akhirnya Zefan kembali pulang ke rumah. Aku selalu bersamanya, takut jika ada yang datang melukai salah satu dari kami.
"Sejak aku di rumah sakit. Kamu sangat sering melamun, ada apa?"
Aku menggeleng, "Tidak ada apa-apa. Aku hanya memikirkan siapa yang sudah tega melukai kamu."
Zefan mengusap pelan rambutku, "Tidak perlu khawatir. Kita serahkan semuanya pada kepolisian."
"Tapi aku tidak tenang jika dia belum tertangkap."
Zefan memilih untuk diam dari pada berdebat denganku. Setelah beberapa saat di bawah terdengar ada keributan.
"Aku turun. Di bawah sepertinya ada keributan."
Zefan mengangguk.
Benar saja. Vidi di bawah sedang mengacau. Bahkan pengawal dan juga Bi Iyah kewalahan dengan sikap Vidi.
"Ada apa ini?" tanyaku.
Vidi mendekat dan Plak. Tiba-tiba saja dia menampar pipiku.
"Vidi. Apa yang kamu lakukan?"
"Maksud kamu apa?" tanya Zefan yang berada di tangga terakhir.
Vidi tertawa kecil, "Kalian berdua sama saja. Hanya mementingkan diri masing-masing. Kalian tidak tahu betapa terpukulnya aku karena kehilangan Kak Sarah. Sekarang kalian akan merebut tunanganku juga."
"Kita bisa bicara baik-baik. Ayo duduk dulu," kata Zefan mencoba menenangkan Vidi.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin meminta penjelasan dari kalian tentang Mila. Kenapa kalian melakukan hal semacam ini."
Aku mendekat pada Bi Iyah.
"Tolong buatkan minuman untuk kita ya, Bi."
"Baik, Non."
"Vidi. Ayo duduk, aku akan menceritakan semuanya. Setelah itu, kamu bisa menyimpulkan siapa yang benar dan siapa yang salah."
Vidi duduk. Wajah marahnya masih sangat terlihat. Perlahan tapi pasti aku menceritakan semuanya.
"Aku membuat keputusan sulit ini dengan pikiran. Aku juga tidak ada niatan menyakiti siapapun. Aku melakukan ini, demi kalian semua," kataku.
"Kamu punya bukti apa?"
Zefan mengambil ponselku dan mulai memainkan rekaman. Rekaman saat aku dan Mila bersama.
"Jadi, apa yang aku lakukan pada kalian..."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kami tahu posisi kamu bagaimana, yang jelas. Masalah ini sudah selesai."
Vidi mengangguk perlahan. Dia mendekat dan meminta maaf padaku. Dia merasa bersalah karena sudah menamparku tanpa alasan apapun.
"Sudahlah, sekarang kamu sudah terbebas dari Mila. Kamu bisa memiliki wanita lain," kataku.
"Aku pulang dulu. Tidak ada alasan lagi aku di sini."
Aku dan Zefan mengantar Vidi sampai di depan rumah. Dia terlihat sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Mila. Sama seperti aku saat pertama kali tahu Mila berubah hanya karena Aqil.
"Ayo masuk. Lukaku masih sangat sakit."
Perlahan aku membantu Zefan masuk ke dalam kamar. Aku membiarkanya istirahat dulu hari ini. Nanti sore aku akan ke kantor polisi dan menanyakan perkembangan kasus penyerangan Zefan.
💝💝💝
Pagi yang cerah. Tentunya dengan harapan yang baru dan semangat yang baru. Aku membuka korden jendela. Menampakan sinar mentari yang begitu indah.
"Fan. Mau sarapan apa hari ini?"
Zefan sudah bangun sejak tadi. Dia menerima telfon dan tidak bisa tidur lagi. Mungkin ada hal yang membuatnya tidak bisa tidur.
"Buatkan aku roti lapis saja. Oh ya, siapkan juga setelan jasku."
Aku bingung dengan apa yang dikatakan Zefan. Tidak mungkin kan dia akan berangkat kerja. Dia masih terlalu lemah.
"Apa ada hal yang sangat penting?"
Zefan mengangguk, "Ini tidak bisa di tunda. Bagaimanapun kamu tidak mau kan jika perusahaan kita bangkrut?"
Aku hanya bisa menghela nafas.
"Jangan marah. Aku hanya akan duduk disana."
"Baiklah. Nanti siang aku akan bawakan makan siang," kataku.
"Terima kasih."
Aku mengangguk, "Kamu bisa siap-siap saja. Aku akan siapkan roti lapisnya di bawah."
Kami sarapan tidak di temani Bi Iyah. Dia sudah pergi ke pasar sejak tadi pagi. Bahan makanan di rumah memang sudah banyak yang habis.
"Jangan terlalu lelah ya. Aku nggak mau hal lain terjadi lagi pada kamu."
Zefan memelukku dan mencium keningku.
"Aku akan jaga diri dengan baik."
"Aku tahu."
Setelah melihat mobil Zefan pergi. Aku kembali masuk ke dalam rumah. Tok tok tok. Baru saja beberapa langkah, sudah ada yang mengetuk pintu. Mungkin Bi Iyah yang sudah pulang, tidak biasanya dia lewat pintu depan setelah ke pasar.
Aku membukanya perlahan sembari memanggilnya.
"Bi Iyah sudah pu...."
Tatapan itu, "Aku bukan pembantumu."
"Kau."
__ADS_1
💝💝💝
to be continued