Bertahan

Bertahan
Part 37 S 2


__ADS_3

Begitu sampai di kantor aku langsung turun tanpa menunggu Zefan. Aku tidak ingin Aqil melakukan hal yang merugikan bagi orang lain.


"Akhirnya kau datang juga," kata Mila begitu melihatku.


"Maaf, aku dari rumah Mama Zefan." Aku mengelilingi ruangab itu namun tidak ada Aqil di sini, "Dimana Aqil?" tanyaku pada Mila.


"Dia di ruanganku, sudah sedikit tenang," kata Mila, namun wajahnya masih terlihat takut.


"Aku akan keatas. Zefan di luar, apa kau bisa menemaninya dulu?" Tanyaku pada Mila.


"Tentu."


Aku naik menggunakan lift, jika menggunakan tangga akan membuang waktu. Apa sebenarnya yang Aqil inginkan.


Beberapa kali aku mengatur nafas di depan ruangan Mila. Aku membuka pintu dan melihat Aqil sedang duduk sendiri. Dia terlihat sangat kacau.


"Aku sudah di sini. Apa maumu?" Aku enggan berlama-lama denganya.


Aqil menoleh dan langsung berjalan kearahku. Aku memang sengaja tidak menutup pintu, aku takut jika aku tidak bisa pergi dari ruangan itu. Pandangan Aqil terlihat sangat mengerikan, baru kali ini aku melihat tatapan itu.


"Kau bertanya apa mauku?" tanya Aqil.


Aku mengangguk pelan, "Kenapa kau membuat kerusuhan di sini?" tanyaku lagi.


"Jika aku tidak membuat kerusuhan. Apa kau akan menemuiku?" Kini Aqil balik menanyaiku.


"Untuk apa kita bertemu lagi. Kita sudah punya jalan masing-masing," kataku.


"Aku mau kamu dan kamu milikku selama-lamanya." Aqil bahkan memecahkan sebuah vas bunga di ruangan itu.


"Tidak." Aku menggelengkan kepalaku dengan keras, "Kita berbeda."


"Kau membuat aku jatuh cinta. Seenaknya saja kamu membuangku," kata Aqil.


"Cukup. Kamu akan menikah Aqil, rubah sifatmu," kataku dengan nada sedikit keras.


Aqil tersenyum namun senyumanya sangat mengerikan. Dia mendekat padaku.


"Apa jika aku merubah sifatku. Kamu akan kembali padaku?" jarak kami semakin dekat.


"Aku membencimu Aqil." Setelah mengatakan itu aku keluar dari ruangan itu.


Aqil menahan tanganku dan menarikku ke dalam pelukanya. Aku mencoba melepaskan pelukan itu, namun percuma saja. Tenaga Aqil sangatlah kuat.


"Katakan jika kau mencintaiku," bisik Aqil ditelingaku.


"Tidak akan."


"Oh ya, jika kau tidak mencintaiku. Kenapa kau mau mengandung anakku?" tanya Aqil lagi.


"Bukankah anak itu sudah kau bunuh," aku mengatakanya dengan suara bergetar. Aku kembali teringat dengan masa-masa itu.


"Aaaarrggghhh..." Aqil melepaskan pelukanya dariku dan mendorongku.

__ADS_1


Aku melihat Zefan dan Mila di sana. Mereka datang untukku, tapi kenapa aku terluka saat melihat Aqil menahan sakit karna dipukul Zefan. Mila mendekat padaku dan membantuku berdiri.


"Aku akan membawanya ke kantor polisi," kata Zefan.


"Tidak perlu, biarkan dia pergi. Aku mohon, Zefan," kataku pada Zefan.


"Apa yang kamu pikirkan, Al?" Tanya Mila padaku.


"Ini masalahku dengan Aqil. Untuk kerusakan kantor, kau bisa katakan padaku." Aku tersenyum pada Mila.


"Baiklah, aku akan melepaskan Aqil untuk kali ini," kata Zefan.


Kini Aqil sudah dibawa ke luar oleh satpam. Hanya tinggal aku, Mila dan Zefan. Mereka beberapa kali menanyai apa aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja saat melihat Aqil dilepaskan. Mulutku memang sanggup berbohong namun tidak dengan isi hatiku.


"Apa kamu sudah mau pulang?" Tanya Zefan padaku.


"Iya, aku kan masih cuti. Kenapa juga aku harus ada di sini." Aku tertawa. Tawa yang sedikit aku paksakan.


"Kata siapa kamu cuti. Kamu bahkan tidak mengabariku," kata Mila padaku.


"Sudahlah, kita bahas itu nanti. Aku mau pulang dulu."


"Tunggu, kamu tadi mengatakan jika kamu dari rumah Mama Zefan?" tanya Mila.


"Tentu, dia kan calon menantunya." Zefan langsung menimpali omongan Mila.


"Aku iri dengan kalian," kata Mila dengan nada bercanda.


"Aku akan bilang pada Vidi untuk cepat menikahimu," kataku.


Tanpa jawaban dari kami Mila langsung pergo begitu saja. Hanya tinggal aku dan Zefan. Dia memandangiku dari kepala hingga ujung kaki.


"Kamu benar tidak apa-apa kan?" tanya Zefan kemudian.


"Menurutmu?" tanyaku padanya.


Zefan tersenyum dan menggandeng tanganku, "Kita pulang," katanya kemudian.


Aku mengikuti langkah kaki Zefan. Apa yang aku lakukan adalah hal yang baik untuk semua orang.


💝 💝 💝


Malam ini aku ditemani dengan secangkir teh dan biskuit. Aku memandang kearah kota, kota yang hampir tiga tahun ini menjadi tempat tinggalku. Kota yang menemaniku melewati hari untuk melupakan kenanganku.


"Andaikan aku bisa memutar waktu kembali. Mungkin aku akan mencari Zefan untukku," lirihku.


Tinggal sendiri memanglah sulit. Setiap hari hanya ditemani oleh sepi. Kadang saja ada yang mampir dan menemani bicara. Mungkin aku akan menelfon seseorang untuk sedikit berbagi cerita.


Acara menelfonkupun aku urungkan ketika aku mendengar gedoran pintu. Padahal aku sudah pasang bel. Cara mengetuk pintunyapun tidak sopan, bahkan sangat kasar menurutku. Apa mungkin orang salah alamat.


"Lebih baik aku lihat."


Aku membukakan pintu dan sebuah pelukan langsung mendarat di tubuhku. Aqil. Dia mabuk dan datang ke sini. Apa yang harus aku lakukan.

__ADS_1


Aku melepaskan pelukan itu dan menidurkan Aqil disofa rumah. Kali ini dia benar-benar sangat kacau.


"Aku mohon Alisha, jangan pergi lagi." Aqil memegang tanganku dengan erat.


Semua yang dikatakan tidak aku gubris sama sekali. Aku tidak ingin ada masalah lain, akupun memutuskan menelfon Vidi dan Mila. Mungkin mereka bisa datang dan menemaniku. Tidak mungkin aku harus satu rumah dengan Aqil yang notabenenya adalah mantan suamiku.


💝 💝 💝


Tidak lama Vidi dan Mila datang, mereka benar-benar terkejut saat melihat Aqil berada di sana.


"Aku kira kau membohongiku," kata Vidi.


"Apa kita bawa dia ke rumahnya saja," kata Mila kemudian.


"Tidak mungkin. Aku tidak mau orang tua Aqil salah paham dengan semua ini. Apa lagi Yesi, aku bahkan bergidik ngeri," kataku pada mereka.


"Kalau begitu. Kalian bisa tidur di kamar, aku akan menjaga Aqil di sini," putus Vidi.


"Kau tidak apa-apa jika tidur di sofa?" Aku tidak yakin apa Vidi mampu.


"Serahkan saja padaku." Vidi terlihat sangat percaya diri.


"Baiklah." Mila langsung menarikku masuk ke kamar.


Sebenarnya aku masih khawatir dengan Vidi, aku tahu dia tidak sekuat itu.


💝 💝 💝


Pagi sekali Mila dan Vidi sudah pamit pulang. Vidi terlihat kurang tidur tadi malam. Aku sudah menduganya sejak awal. Sedangkan Mila terus menyuruhku untuk datang ke kantor pagi ini.


Setelah selesai masak dan berbenah diri aku lihat Aqil sudah mulai bangun dari tidurnya.


"Kau sudah bangun?" tanyaku padanya.


"Kau kenapa di rumahku?" kata Aqil dengan wajah aneh bangun tidurnya.


"Seharusnya aku yang tanya begitu. Cepat bangun dan keluar dari sini," kataku.


Aku melihat Aqil masuk ke kamar mandi, mungkin untuk cuci muka. Aku membiarkanya kali ini karna tidak mungkin Aqil keluar dengan wajah anehnya.


"Apa aku boleh sarapan juga?" tanya Aqil mengagetkanku. Wajahnya terlihat memelas.


"Ok."


"Apa kita semalam hanya berdua?" tanya Aqil padaku.


"Menurutmu?."


"Kenapa aku tidur disofa bukan diranjangmu?"


"Apa kau gila."


Aqil manatapku sampai pintu apartemenku terbuka. Aku melihat Mama Zefan, Zefan dan Yesi di sana. Mereka menatapku lekat. Aku hanya diam terpaku, sedangkan Aqil dia biasa saja.

__ADS_1


💝 💝 💝


to be continued


__ADS_2