
Setelah melihat mobil Zefan pergi. Aku kembali masuk ke dalam rumah. Tok tok tok. Baru saja beberapa langkah, sudah ada yang mengetuk pintu. Mungkin Bi Iyah yang sudah pulang, tidak biasanya dia lewat pintu depan setelah ke pasar.
Aku membukanya perlahan sembari memanggilnya.
"Bi Iyah sudah pu...."
Tatapan itu, "Aku bukan pembantumu."
"Kau."
"Ya, aku disini."
Yesi masuk dengan langkah pasti. Dia menabrakku.
"Bagaimana? apa kamu senang dengan apa yang aku lakukan pada suamimu?" tanya Yesi.
Yesi duduk dengan kaki yang dia letakan di atas meja. Matanya mengelilingi rumahku dengan tatapan mengerikan.
"Rumah yang bagus. Oh ya, apa kamu tidak membuatkan aku minum?"
"Untuk apa aku membuatkan kamu minum. Kamu bukan tamu di sini," kataku.
"Baiklah. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau di sini."
"Maksud kamu apa?"
Yesi tersenyum, "Aku bisa melakukan hal lain lagi selain membuat suamimu terluka. Semua ini juga aku lakukan untuk suamiku yang sudah kamu penjarakan."
Tidak aku sangka. Bukan Mila yang melakukan penusukan pada Zefan. Tapi Yesi, dia melakukan ini atas nama balas dendam.
Tidak lama. Mama datang ke rumah. Wajahnya terlihat panik.
"Ada apa, Ma?" tanyaku.
"Sayang. Kamu ikut Mama ke rumah. Di sini tidak aman."
Aku mengernyitkan dahi, "Maksud Mama?"
"Yesi akan melukaimu. Dia akan balas dendam untuk suaminya," kata Mama.
"Mertua yang sangat menyayangi menantunya," kata Yesi.
Mama menoleh pada Yesi. "Kau di sini. Untuk apa kau ke sini."
"Bukankah kau sendiri sudah tahu. Untuk apa lagi bertanya."
Yesi mendekat kearah kami.
"Yesi. Jaga sikap kamu pada orang tua."
__ADS_1
Yesi tertawa dengan cukup keras. Tawanya sangat mengerikan. Dia mendekat padaku dan akan mendorongku. Namun Mama memilih menolongku. Hingga dia sendiri yang di dorong oleh Yesi.
"Apa yang kamu lakukan?" teriakku.
Aku mencoba membantu Mama untuk berdiri. Yesi tidak terlihat menyesal. Dia malah tersenyum melihat Mama yang terluka di depannya.
"Seharusnya aku melakukan hal ini sejak dulu. Suamiku memang benar, kalian itu orang-orang yang lemah."
Karena melihat Mama tidak sadarkan diri. Darah juga mengalir dari dahinya. Aku mengambil ponsel untuk menelfon ambulance.
"Mau apa kamu?" Yesi mengambil paksa ponsel di tanganku, "Biarkan saja dia mati."
"Kembalikan ponselku." Aku mencoba kembali menarik ponselku.
"Tidak mungkin aku berikan."
Prak. Ponselku pecah di hadapanku. Dia bahkan melakukan hal sampai sejauh ini. Aku melirik kearah meja. Di sana ada telfon rumah. Aku bisa menggunakannya. Tapi, Yesi tetap akan menggagalkan rencanaku.
"Alisha. Bagaimana jika kamu mengalami hal seperti aku. Hamil dan ditinggal suaminya, karena di penjara."
"Aku juga kehilangan anakku karena suami kamu."
Yesi mendekat padaku. Entah sejak kapan dia membawa pisau di tanganya. Tatapanya sangat tajam. Di matanya tidak ada apapun, hanya tatapan keputus asaan.
"Aku ingin. Bukan kamu yang seperti aku, tapi suami kamu. Bukan untuk di penjara, tapi untuk mati di tanganku." Tatapan Yesi sangat menakutkan.
Kali ini, aku tidak tahu harus menelfon polisi atau ambulance. Kondisi Mama semakin parah, karena darah yang keluar semakin banyak.
"Tidak semudah itu," kata Yesi.
Kali ini aku harus memilih. Biarkan aku terluka, tapi Mama bisa di selamatkan. Aku memilih berlari sekuat tenaga kearah meja.
Hap. Sret. Aku mengaduh. Karena punggungku tersayat. Aku tidak mendapatkan telfonnya. Namun, aku malah mendapatkan sayatan ini.
"Lepaskan aku." Aku tetap mencoba meraih telfon itu.
Sayatan demi sayatan aku rasakan. Perih, sakit, panas. Semua menjadi satu. Sampai di mana, Yesi membalik tubuhku dan menindihku.
"Apa itu sakit?" tanya Yesi dengan seringai mengerikan itu.
Aku tidak menjawab. Kini, pisau berlumuran darah itu bermain di leherku. Bisa saja, Yesi melakukan hal mengerikan itu saat ini.
Brak. Seorang polisi mendobrak pintu dan masuk ke rumahku.
"Angkat tangan. Saudari Yesi, anda sudah terkepung," kata Seorang polisi.
Yesi mengangkat tangannya.
"Jatuhkan senjatamu dan tiarap." Kembali polisi itu memperingati Yesi.
__ADS_1
Setelah itu banyak polisi yang masuk. Aku juga melihat beberapa tenaga medis datang. Yesi yang memang merasa sudah terkepung menjatuhkan pisaunya. Dia juga tiarap di sampingku.
"Hidupmu memang penuh keberuntungan. Aku iri padamu," kata Yesi padaku.
Aku hanya diam sembari menahan rasa sakit. Dua tenaga medis mendekat padaku, mereka membantuku untuk bangun dan mendapat pertolongan.
"Anda di tangkap atas penusukan pada saudara Zefan dan, peneroran terhadap keluarga saudara Zefan."
Dengan tenang. Yesi mengikuti semua perintah polisi yang menangkapnya. Mama sudah di bawa oleh ambulance yang datang lebih awal. Aku sangat berharap, jika Mama baik-baik saja.
💝💝💝
Sudah satu bulan sejak kejadian di rumah. Aku dan Zefan kini sedang liburan di pantai. Liburan yang panjang tanpa ada yang menganggu.
"Bagaimana pemandangannya?" tanya Zefan sembari memelukku dari belakang.
"Tentu sangat indah. Semoga saja, masa depan kita juga indah."
"Ya."
Sampai sekarang aku masih takut melihat bekas luka di punggungku. Sangat banyak, bahkan mengerikan untukku. Untung saja suamiku mau menerimaku apa adanya.
"Ayo makan. Aku sudah siapkan makan malam romantis di bawah," kata Zefan padaku.
"Ayo. Sudah lama, aku tidak makan masakan kamu."
Zefan mengusap lembut kepalaku. Kami turun ke ruang makan, semuanya sudah di rapikan. Makan malam yang istimewa, di hari pernikahan kita.
"Aku akan mencuci piring dulu. Kamu bisa masuk ke kamar lebih dulu," kataku pada Zefan.
"Baiklah. Aku akan menunggumu untuk malam ini."
Aku hanya tersenyum dan lanjut membersihkan sisa kami makan. Di vila ini, Zefan dan aku sengaja tidak membawa Bi iyah. Kami ingin hari kami yang sudah lama tidak kami nikmati.
Setelah selesai. Aku langsung masuk ke kamar.
"Apa kamu tidak mau seorang anak di tengah keluarga kita?" tanya Zefan.
Aku terdiam karena pertanyaanya yang sangat mendadak.
"Kenapa? kamu masih belum siap?" tanya Zefan.
"Bukan begitu. Aku sangat menginginkan hal itu, tapi..."
"Tidak ada tapi, aku butuh jawaban kamu."
Aku mengangguk perlahan. Zefan melangkah untuk mendekat padaku. Suara musik mengalun dari ponsel Zefan. Tangan Zefan melingkar di pingganggu. Ciuman kami menjadi hal yang indah saat ini.
💝💝💝
__ADS_1
TAMAT