
Sudah beberapa hari ini sejak tahu aku hamil. Aqil memintaku untuk tinggal bersama denganya lagi. Aku sempat menolak karna ingin menjaga hatiku. Apa lagi wanita hamil akan lebih sensitif untuk segala hal.
Pagi ini setelah membuat sarapan aku mengganti pakaianku dan siap untuk kekantor Gama. Bagaimanapun aku sudah terikat kerjasama denganya.
"Kamu mau kemana rapi seperti ini?". tanya Aqil.
"Aku akan ke kantor Gama. Aku sedang ada urusan bisnis dengan dia". Aku mengambilkan nasi dan lauk untuk Aqil.
"Kenapa harus Gama. Apa tidak ada yang lain?". wajah Aqil terlihat tidak senang kali ini. Bukanya sekarang Gama adalah Kakak iparnya.
"Awalnya juga aku tidak tahu. Aku tahu saat aku sudah tanda tangan dan melihat dia".
"Sudahi saja kerjasamanya". Aqil menatapku tajam. "Atau kamu menyukainya?". tanya Aqil kemudian.
"Aku tidak ada pikiran untuk mencintainya". Aku meletakan kembali piringku dan meminum jus yang sudah aku buat. "Lagi pula, aku tidak ada uang untuk membayar denda jika aku melanggar kontrak".
"Sudahlah. Biarkan saja dia bekerja, aku juga tidak ingin dia berada dirumah terus menerus". Mei tiba-tiba datang dan langsung mengikuti alur pembicaraan kami.
"Aku akan bayar semua dendanya. Mulai hari ini kamu hanya perlu dirumah dan menjaga kandungan kamu" Aqil menggenggam tanganku.
Aku tersenyum kecil. Mei terlihat sangat tidak suka dengan perlakuan Aqil padaku. Aku tahu dia cemburu, mungkin. Karna aku juga merasakan hal yang sama jika Aqil melakukanya pada Mei.
"Aku ingin makan. Cepat ambilkan". Mei menyuruhku kembali. Seperti biasanya.
"Aku bukan pembantumu". Aku berdiri dan akan meninggalkan mereka berdua. Namun Aqil menahanku.
"Kamj harus makan. Kasihan bayi yang ada diperutmu".
"Kamu hanya perduli dengan anak ini. Bukan dengan aku". Aku melepaskan pegangan tangan Aqil.
Beekali-kali aku disakiti oleh Aqil. Berkali-kali juga aku berharap padanya. Padahal aku tahu jika hubungan Mei dengan Aqil akan segera diresmikan. Jika itu terjadi, aku hanyalah orang lain dalam rumah ini. Kenapa aku begitu bodoh mau kembali kerumah ini.
💝 💝 💝
Aku sedang menyiram tanaman didepan rumah. Sampai Gama datang dan langsung menarikku.
"Kamu berhenti dari kontrak itu?. Kenapa?". tanya Gama dengan mata yang berapi-api.
"Suamiku yang meminta. Maaf, aku harus masuk". Aku berjalan untuk kembali kedalam rumah.
"Apa kamu tahu jika aku masih mencintaimu".
Aku berhenti tepat setelah Gama mengatakan hal itu. Aku menoleh padanya tatapanya sudah berubah. Tidak berapi-api lagi.
"Kamu mencintaiku?". Aku mencoba menahan air mataku. "Kamu tidak sedang berguarau kan?. Jika kamu benar mencintaiku, kenapa kamu membunuh orang tuaku".
"Maaf Al. Aku tahu aku melakukan kesalahan, tapi saat itu aku tidak memiliki cara lain. Aku mengira jika kau sendiri kau akan berjalan kearahku". Gama mencoba mendekatiku.
"Berhenti. Kamu sudah melakukan kesalahan dimasa lalu. Kamu juga melakukanya sekarang". Aku mencoba mengalihkan pandanganku agar air mataku tidak jatuh "Kamu menyuruh Mei mendekati Aqil, karna kamu tahu semuanya sejak awal".
"Iya, aku melakukanya agar kamu terluka seperti yang aku rasakan dulu. Aku mau kamu juga merasakanya".
"Jika memang itu tujuanmu. Kamu sudah berhasil Gama. Kamu berhasil membuat aku terluka dengan cara kamu".
__ADS_1
Lari. Itu yang aku lakukan, aku berlari kekamarku dan meratapi semua yang terjadi. Hanya karna pernyataan cinta dimasa lalu yang aku tolak. Kini aku harus menderita. Apa memang takdirku untuk terus kehilangan orang yang aku sayang.
💝 💝 💝
Hari ini sudah mulai acara untuk persiapan pernikahan Aqil. Sebagai istri sahnya jelas rasa sakit hati dan merasa dihianati itu ada. Namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur.
"Al. Tolong beresin kamar untuk aku dan Aqil ya. Hias yang indah biar romantis". Mei menyerahkan semua barang yang akan digunakan untuk menghias.
Aku harus tetap sabar dengan semua ini. Aku yakin setelah semua ini Aqil akan membuka hatinya untukku walau sangat perlahan.
"Dengar Lili, kamu sekarang tidak akan bisa mendekati Aqil". Bisik Mei ditelingaku.
"Aku tidak akan mendekatinya. Aqil sendiri yang akan mendekatiku" Jawabku.
"Kamu sedang bermimpi ya?".
"Aku harus terus bermimpi untuk cepat sampai dengan tujuanku".
"Jangan terlalu percaya diri. Aku memiliki Gama yang akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan kamu dan Aqil". Mei menghentakan kakinya dan pergi meninggalkna aku.
Aku menghela nafas panjang dan mulai menyelesaikan tugasku. Banyak orang yang datang untuk membantu acara ini. Mereka beberapa kali menasehatiku dan mengatakan jika aku wanita yang tegar Padahal hatiku sangat hancur.
"Aku akan membantumu". Nia dengan wajah yang ceria mengambil barang yang sedang aku bawa.
"Kamu sudah keluar dari rumah sakit?". tanyaku.
"Belum. Aku harus terapi untuk trauma. Kamu tahu apa yang sudah terjadi padaku". Nia menunduk.
"Jangan kaya sinetron deh. Cepetan selesaiin kerjaanya". Kata Mei tiba-tiba.
Nia langsung mundur begitu melihat Mei. Senyuman Mei terlihat sangat menakutkan untuk Nia. Dulu Nia begitu berani namun karna penculikan itu. Nia harus merasakan semuanya sendiri.
"Sayang, ayo kebawah kita juga harus siap-siap" Aqil langsung memeluk pinggang Mei. Tepat didepanku.
"Kamu disini?. Bukanya kamu harus berangkat ke singapura dengan asisten kamu". kata Aqil begitu melihat Nia.
"Dia akan berangkat setelah menemuiku". kataku pada Aqil. Nia terlihat enggan untuk bicara.
"Kalau begitu hati-hati ya". Aqil membawa Mei pergi dari sana.
"Sudah tidak ada Mei. Kalau kamu seperti ini, kamu langsung kesingapura saja". kataku pada Nia.
"Tapi aku jngin menemanimu" Nia memelukku sangat erat.
"Tidak apa-apa disini ada Papa dan Mama" Aku mencoba meyakinkan Nia.
"Kalau begitu aku berangkat".
"Hati-hati. Jangan lupa kabari aku". kataku.
Nia berjalan menjauh ditemani asistenya. Aku kembali membenahi barang-barang dan meneruskan menghias kamar Aqil dan Mei.
💝 💝 💝
__ADS_1
"Sayang. Mama sudah datang". Aku memeluk Mama. Dia terlihat sangat cantik dengan bajunya.
"Kenapa Mama tidak memakai baju seragam?". Semua keluarga menggunakan baju seragam untuk acara resepsi Aqil dan Nia. Namun berbeda dengan Mama.
"Lupakanlah. Oh ya, Papa minta maaf karna tidak bisa datang kesini". Mama mengambil satu buket bunga dan parsel buah. "Ini tanda maaf darinya".
"Kenapa hadiahnya buat aku. Seharusnya untuk Mei, dia yang akan menikah" kataku pada Mama.
"Bagi kami. Kamu menantu satu-satunya". Mama memelukku lagi. "Kamu harus kuat sayang. Demi dirimu dan bayi kamu".
"Aku tahu Ma".
Banyak orang yang sudah datang. Acara juga sudah dimulai. aku hanya duduk dipojok ruangan karna terlalu berisik ditengah ruangan ini.
Seperti mimpi rasanya melihat suamiku bersanding dengan wanita lain.
💝 💝 💝
"Bagaimana perasaanmu?". tanya Gama saat aku sudah berganti pakaian biasa.
"Menurutmu?".
"Aku sudah bilang Pisah saja dengan Aqil. Aku akan membahagiakan kamu". Gama mendekat kearahku.
"Aku sudah menolakmu berkali-kali. Kamu seharusnya sadar".
"Seharusnya kata-kata itu buat kamu. Kamu juga ditolak berkali-kali oleh Aqil" kata Gama.
Benar apa yang dikatakan olehnya. Aku selalu berharap walau aku tahu jika harapanku akan hancur.
"Kata siapa aku menolaknya. Dia istriku yang aku cinta". Aqil menarik tanganku dan menggandengku.
"Jangan jadi pahlawan, kamu hanya cinta mati pada adikku". Gama langsung meninggalkan aku dengan Aqil.
Aku melepaskan gandengan itu dan masuk kamar. Kembali aku memiliki harapan pada Aqil. Perlakuanya yang kadang menjauhiku dan kadang mendekatiku membuat aku terombang-ambing dalam perasaan.
"Kenapa masuk ke kamar?".
"Aqil. Kenapa ke kamarku?. Kamu seharusnya dengan Mei" kataku pelan.
"Kamu juga istriku". Aqil memelukku.
"Maaf. Aku ingin sendiri". Entah kenapa perutku terasa sakit. Aku tidak ingin Aqil tahu tentang ini.
"Aku ingin menemanimu dan anak kita".
"Aku mohon. Aku ingin sendiri Aqil". kataku menahan sakit.
"Baiklah. Besok malam aku akan menemanimu". Aqil mengecup keningku dan meninggalkan aku sendiri.
💝 💝 💝
to be continued
__ADS_1