Bertahan

Bertahan
Bab 64 S 2


__ADS_3

Aku menatap beberapa angsa yang sedang bermain di atas danau buatan yang ada di belakang rumah. Aku merasa ikut senang melihat hal itu.


"Kau lebih sering melamun sekarang, ada apa?" tanya Zefan yang langsung duduk di sampingku.


Aku menoleh dan mengambil tangan Zefan. Aku memeluk tangan itu.


"Apa kamu masih saja penasaran dengan kelanjutan cerita kamu?" tanya Zefan.


Hanya anggukan yang aku berikan, "Fan, apa nanti aku boleh datang ke kantor kamu?" tanyaku.


"Memangnya kenapa?"


Aku mengeratkan pelukanku pada tangan Zefan.


"Apa kamu merasa kurang kerjaan di dalam rumah?" tanya Zefan.


"Bukan begitu, hanya saja aku ingin membawakan makan siang untuk kamu. Walaupun hanya sekali."


"Kenapa hanya sekali, kamu bisa melakukanya setiap hari."


Aku melepaskan tangan Zefan. Kembali aku menatap angsa-angsa itu. Suasana sudah semakin siang, tapi Zefan seperti tidak ada niatan untuk pergi.


"Kenapa kamu masih di sini?"


Zefan mengecup pelan pipi kananku, "Apa kamu lupa? hari ini kita akan ke rumah Mama."


Aku menertawakan diriku sendiri, "Maaf, aku lupa. Apa kita akan membawa hadiah untuk Mama?"


"Aku sudah menyiapkanya."


"Terima kasih."


💝💝💝


Hari ini memang hari ulang tahun Mama dan Mama akan mengadakan acara makan-makan di rumahnya. Mama juga mengundang beberapa kenalan, termasuk keluarga Yesi.


"Ngelamun lagi, ayo masuk ke mobil kasihan Mama nungguin kamu lho."


Aku pura-pura marah dan masuk ke dalam mobil. Zefan tersenyum dan menjalankan mobil secara perlahan. Diperjalanan dia juga terus memegang tanganku.


"Kau memberikan alasan apa hingga Mila menyetujui kamu pergi dari kantor."


"Pengen tahu aja," kataku dengan tawa kecil.


Zefan menatapku dan kemudian mencium tanganku.


"Kenapa kau menyukaiku?" tanyaku pada Zefan.


Zefan diam, dia terlihat berfikir kali ini lalu dia menatap kembali ke jalanan di depanya. Aku merasa Zefan menyembunyikan sesuatu dariku.


Sampai di rumah Mama, Mama terlihat sedang duduk di depan rumah dengan secangkir teh di genggamanya.


"Mama, kami datang." Aku langsung memeluk Mama.


Mama membalas pelukanku, "Kenapa kalian datang sangat terlambat?" tanya Mama kemudian.


Aku menoleh pada Zefan, dengan senyumanya Zefan mendekat pada Mamanya dan membisikan sesuatu.


"Kamu ini," Mama menoleh padaku dengan senyuman aneh, "Apa yang dikatakan Zefan benar?" tanya Mama.


Aku bingung karena memang tidak tahu apa yang di katakan Zefan tadi.


"Tidak perlu di pikirkan. Sekarang kita ke atas untuk meletakan barang yang kita bawa." Zefan menarikku masuk.

__ADS_1


Beberapa kali aku menanyakan hal tentang apa yang Zefan katakan pada Mama. Namun hanya tawa yang menjadi jawaban.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau mengatakanya aku akan memilih diam sampai besok." Aku meletakan tasku dan akan pergi ke balkon kamar.


Hap, "Apa kau sangat ingin tahu?" tanya Zefan.


Pada akhirnya aku menoleh juga pada Zefan, "Menurutmu."


"Aku mengatakan ..." Zefan mendekat padaku, dia membisikan, "Aku mengatakan jika kita baru saja membuatkan cucu untuk Mama."


Aku melotot mendengar apa yang dikatakan Zefan. Apa dia sudah gila? dia bahkan berani mengatakan hal itu pada Mama. Bagaimana nanti aku akan menemui Mama, aku pasti akan merasa sangat malu.


"Tidak usah menunjukan pipi merah itu. Aku sudah tahu kamu malu," kata Zefan.


"Kau ini sangat suka membuat aku seperti ini. Lagi pula kamu sudah berbohong pada Mama," kataku.


"Ok, kita akan membuatkan cucu untuk Mama sekarang agar aku tidak jadi bohong sama Mama." Zefan menarikku ke atas tempat tidur.


Aku mencoba mendorongnya, namun sia-sia. Zefan mencium diriku beberapa kali sampai kami mendengar sebuah ketukan.


Tok, tok, tok, "Zefan, Alisha. Bantu Mama pasang lampu di bawah dong."


"Baik, Ma." Jawabku dengan senang hati.


Aku mendorong Zefan. Dia hanya pasrah duduk di sampingku.


"Dia yang menginginkan cucu, tapi dia juga yang mengganggu," kata Zefan.


Aku menarik tangan Zefan, "Sudahlah, ayo kita bantu Mama."


Dengan malas Zefan mengikuti langkah kakiku. Sampai di bawah ada beberapa orang yang sedang menata ruangan.


"Mereka siapa, Ma?" tanyaku.


"Kenapa Mama tidak bilang padaku, aku kan bisa menelfon tempatku bekerja."


Aku mengajak Mama duduk di meja yang masih belum selesai disiapkan.


"Kata Zefan kamu sudah keluar dari kantor kamu." Mama melirik kearah Zefan.


"Aku tidak bohong Ma." Teriak Zefan.


Aku memegang tangan Mama, "Iya, Ma. Aku hanya ingin lebih banyak waktu dengan Zefan."


"Mama sangat setuju mendengar kamu berhenti bekerja. Kata orang kelelahan juga bisa menghambat kehamilan."


Kali ini aku hanya tersenyum. Kembali Mama mengingatkan aku tentang kehamilan. Sepertinya memang benar jika Mama sangat ingin seorang cucu.


"Kalau begitu kamu istirahat di kamar saja, nanti Mama akan bawakan susu dan camilan ke kamar kamu."


Kenapa Mama malah menyuruhku istirahat, "Ma, aku tidak lelah. Aku bisa membantu Mama."


"Dengar saja apa kata Mama. Kamu istirahat saja."


"Baiklah, Ma."


Aku melangkah masuk ke dalam kamarku. Sampai di dalam kamar aku masih tidak tahu akan melakukan apa. Niatku ke sini membantu Mama bukanya malah di kurung di dalam kamar dengan alasan istirahat.


Aku membuka pintu yang menuju balkon. Aku melihat beberapa orang yang datang dan membawa alat-alat. Baru kali ini aku melihat acara ulang tahun dengan sangat mewah. Apa Mama dan Zefan adalah keluarga yang sangat kaya?


Tok tok tok. Aku menoleh kearah pintu kamar, Aku bergegas membuka pintu kamar takut jika Mama yang datang.


"Permisi, apa dengan Nona Alisha," kata seorang gadis. Di sampingnya ada gadis lain yang membawa koper kecil.

__ADS_1


Aku menganguk pelan. Aku tidak tahu siapa mereka.


"Kenapa tidak biarkan mereka masuk, mereka orang suruhan Mama." Mama datang dengan susu dan beberapa camilan.


"Mereka siapa?" tanyaku pelan.


"Ayo semuanya masuk."


Kami sudah di dalam kamar. Mama meletakan nampan itu di meja sebelah tempat tidurku.


"Ini adalah Alisha. Menantuku," kata Mama memperkenalkan aku pada mereka, "Alisha, ini Bi dan Ba mereka adalah tukang rias yang Mama suruh datang ke sini."


Aku menoleh bingung pada Mama. Untuk apa juga ada seorang penata rias di sini.


"Sayang, nanti banyak tamu yang datang. Mama mau kamu terlihat lebih cantik lagi."


"Tapi, Ma ..."


"Ikuti saja apa yang Mama katakan. Anggap jika ini adalah hadiah dari kamu untuk Mama."


"Baiklah Ma." Aku ikut saja apa yang Mama katakan dari pada aku di bilang menantu tidak patuh.


Mama melepaskan peganganya pada tanganku, "Baiklah, Mama akan meneruskan pekerjaan Mama. Nanti Mama akan ke sini lagi."


Aku hanya mengangguk.


"Aku serahkan menantuku pada kalian. Buat dia terlihat lebih cantik lagi," kata Mama sebelum menutup pintu.


"Serahkan saja pada kami," kata Ba.


Setelah Mama pergi mereka menyiapkan segala sesuatu. Sementara aku diam dan hanya melihat, jika boleh jujur aku tidak terlalu tahu tentang make up.


"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku kemudian.


"Bi, jelaskan padanya," kata Ba yang menyuruh Bi menjelaskan padaku.


Bi mendekat padaku, "Nona, Nona sudah terlihat cantik padahal hanya menggunakan pelembab. Mertua Nona ingin Nona berdandan di acara hari ini."


Aku hanya mendengarkan apa yang Bi katakan padaku.


"Mertua Nona sangat baik, sebenarnya kami bukan pegawai salon biasa. Kami pegawai salon yang khusus dimiliki mertua anda."


Aku bahkan baru tahu jika Mama memiliki tukang rias sendiri. Pantas saja Mama selalu terlihat cantik dengan polesan make-up natural.


"Lakukan saja apa yang mertuaku mau," kataku kemudian.


Setelah hampir dua jam lebih akhirnya selesau juga mereka merias dan memakaikan baju untukku.


"Di mana Al?"


Aku tahu jika itu Zefan, dia mungkin bertanya pada seseorang di luar kamar ini. Aku akan segera keluar dari kamar, namun Bi mencegahku.


"Belum saatnya bertemu dengan suamimu."


Ba membuka pintu dan menemui Zefan. Dia terlihat mengatakan sesuatau dan Zefan hanya mengangguk. Dia terlihat tersenyum dan langsung pergi dari sana. Entah apa yang dikatakan Ba pada Zefan sampai Zefan mau mengikuti apa yang dia katakan.


"Tunggu dua jam dan kau akan segera menemui suamimu."


Dua jam, itu bukan waktu yang singkat. Jika dua jam lagi maka aku akan keluar saat acara sudah dimulai.


💝💝💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2