
Saat Mila membukanya aku tidak berani melihat dan memilih untuk melihat ke luar jendela.
"Al, ini ..."
Aku hanya diam dan menunggu.
"Apa kamu tidak ingin lihat?" tanya Mila.
Aku menggeleng dengan cepat, "Katakan saja apa isinya?"
Aku mendengar Mila menghela nafas dan menyodorkan kotak itu padaku. Aku memandang kaget dengan apa yang ada di dalam kotak itu.
"Bagaimana? tidak menakutkan bukan?" tanya Mila.
"Ya tidak menakutkan." Aku langsung mengambil kotak itu dan akan membawanya pergi.
Mila menarik tanganku agar aku tidak pergi, "Apa Zefan yang memberikanya?"
"Aku tidak tahu."
"Baiklah aku yang akan menelfonya, sepertinya Zefan ingin melihat kamu memakai pakaian itu. Pasti terlihat seksi sekali," kata Mila dengan nada menggoda.
"Dasar mesum."
Aku keluar dengan membawa pakaian tidur nan tipis ini. Siapa juga yang mengirimkanya untukku. Tidak mungkin Zefan, dia tahu apa yang aku tidak suka dan apa yang aku suka.
💝💝💝
Seperti biasa makan siang ini aku mencari makanan di dekat kantor dengan Mila. Aku juga menceritakan apa yang aku temukan kemarin pada kotak makan siang.
"Apa sekarang kamu sudah tahu siapa yang mengirimnya?" tanya Mila.
"Belum," aku masih merasa sedikit takut.
"Zefan pasti menjagamu. Oh ya, apa Vidi mengabarimu selama tiga hari ini?" tanya Mila.
"Tidak, memangnya kenapa?"
Raut wajah sedih terlihat saat Mila membahas tentang Vidi.
"Tiga hari yang lalu kami dinner, di sana aku meminta dia segera melamarku. Tapi, tidak ada jawaban yang aku terima."
Aku menepuk pundak Mila beberapa kali, "Aku akan coba menghubunginya."
"Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku tentang Kakak Vidi."
Aku tersenyum, "Tidak masalah, nanti satu persatu masa laluku akan aku ingat."
Mila menghela nafas, "Ok, kita lupakan kesedihan kita dan makan bakso yang pedas. Bagaimana?"
"Ayo." Aku langsung setuju dengan apa yang Mila katakan.
Memang tidak ada gunanya untuk mengingat kesedihan. Keaedihan hanya membuat terpuruk dan kehilangan semangat untuk hidup. Bagiku, hidup ini harus di buat bahagia apapun keadaanya.
"Kamu cari tempat duduk aku yang pesan makanan," kata Mila padaku.
"Ok."
Hanya ada beberapa meja yang tersisa, aku memilih Meja yang cukup jauh dengan yang lain. Agar bisa berbicara dengan leluasa nantinya.
"Kamu mau minum apa?" teriak Mila padaku.
"Lemon tea."
💝💝💝
Menunggu memanglah hal yang paling tidak menyenangkan. Jika bukan karena Zefan ada rapat mendadak aku tidak mungkin menunggu taxsi hampir satu jam. Mungkin karena jam sibuk.
"Kamu belum pulang?"
__ADS_1
Aku kaget saat ada orang yang menepuk pundakku tiba-tiba.
"Kaget ya, maaf. Apa Mila sudah meninggalkan kamu?" tanya Aqil lagi.
"Ya."
Aqil dengan sangat percaya diri langsung membukakan pintu mobil untukku.
"Ayo, kita bisa pulang bersama. Aku akan mengantar kamu," kata Aqil.
Namun di dalam mobil aku melihat Yesi yang menatapku tidak suka. Ya, jika aku di posisinya saat ini aku juga akan merasa kesal pastinya.
"Maaf, aku akan naik taxsi saja." Sebenarnya aku juga tidak ingin terlalu dekat dengan Aqil.
"Ayolah." Aqil memegang pergelangan tanganku dengan sangat keras, "Jika kamu tidak ikut, kamu tahu kan apa yang akan aku lakukan." Bisik Aqil.
Kenapa aku selalu mendapatkan situasi yang sangat tidak menguntungkan.
"Sudahlah, dianya nggak mau kenapa harus di paksa,” kata Yesi kemudian.
"Bagaimana?" tanya Aqil lagi padaku.
Aku mengangguk pelan.
"Sayang, maaf aku terlambat." Mendengar suara Zefan membuat aku lega. Dia bagaikan penyelamatku sekarang.
"Kenapa telat?" aku langsung mendekat dan menggenggam tangan Zefan.
"Maaf, aku sudah mengirimkan pesan padamu kan tadi?” kata Zefan.
Aku mengangguk dengan senyuman.
"Terima kasih, Aqil. Kamu sudah memberi tumpangan pada istriku," kata Zefan pada Aqil.
Dengan wajah kecewa Aqil langsung tersenyum, "Aku hanya merasa kasihan karena Al berdiri sendiri sejak tadi."
"Aqil, nanti aku telat pergi ke salon. Cepat sedikit dong," teriak Yesi dari dalam mobil.
Setelah hanya tinggal aku dan Zefan. Aku langsung memeluknya.
"Ada apa?" tanya Zefan.
"Kamu penyelamatku," kataku di dalam pelukan Zefan.
"Ini di depan umum. Ayo kita pulang dan kau bisa memelukku sepuasmu." Bisik Zefan.
Mendengar hal itu aku malah menyembunyikan wajahku di pelukan Zefan.
💝💝💝
Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku saat aku dan Zefan sedang makan malam di luar.
"Siapa?" tanya Zefan.
"Aku kan belum melihatnya." Aku mengambil ponsel yang berada di dalam tas.
Dari nomor kemarin, nomor yang tidak aku kenal.
Aku sudah memperingatimu ya. Jika kamu masih macam-macam, aku akan melakukan hal buruk padamu.
"Siapa?" tanya Zefan lagi.
"Orang yang kemari lagi. Dia kembali mengirim pesan ancaman padaku."
Zefan memegang tanganku, "Tidak apa, aku sudah menyuruh seseorang menyelidikinya."
"Tapi aku takut, tadi pagi aja ada yang ngirim baju aneh padaku."
Zefan mengernyitkan dahi, "Baju apa?"
__ADS_1
"Baju tidur tapi sangat tipis. Aku mau membuangnya saja."
"Kenapa harus dibuang?" tanya Zefan padaku.
Aku bingung dengan Zefan, "Memangnya kenapa?"
"Aku mau kamu memakainya malam ini." Zefan langsung tertawa setelah mengatakanya.
"Zefan, pikiran kamu kok kaya gitu."
Zefan masih saja tertawa-tawa. Sampai kembali aku mendapatkan pesan lagi. Kali ini Mila.
Apa kau sudah mendapat kabar dari Vidi?
Aku bahkan lupa. Aku akan menelfonya besok pagi saja. Jam segini Vidi pasti sudah tidur.
"Zefan, aku berhenti kerja aja gimana?" tanyaku pelan.
"Terserah kamu aja," kata Zefan.
"Kalau begitu aku akan memikirkanya dulu. Aku ke toilet sebentar ya."
Aku meninggalkan Zefan yang masih makan. Aku harus memikirkan matang-matang tentang pekerjaan ini.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi," bisik Aqil saat aku keluar dari toilet.
"Kamu, kamu kenapa di sini?"
Kenapa selalu ada Aqil di manapun. Bahkan aku tidak memiliki waktu untuk sendiri.
"Tadi siang aku sudah tidak bisa menangkapmu. Sekarang aku akan menangkapmu," kata Aqil padaku.
Aku langsung berjalan dengan cepat, lalu kemudian berlari. Aku sangat takut, bagiku Aqil sudah seperti seorang psikopat sekarang.
"Kamu kenapa? tanya Zefan saat aku kembali duduk dengan wajah ketakutan.
"A..Aqil. Aqil ada di sini." Aku kembali mengedarkan pandanganku.
"Mungkin hanya halusinasi," kata Zefan mencoba menenangkan aku.
Aku menggeleng, "Dia benar-benar ada di sini." Aku hampir menangis saat mengatakanya. Aku benar-benar takut kali ini.
"Baiklah, kita pulang sekarang. Aku akan membayarnya dulu."
"Cepat."
💝💝💝
Sampai di rumah Mas Naja membuatkan aku coklat panas. Katanya agar aku bisa lebih tenang.
"Al, kamu mungkin terlalu takut dengan Aqil. Sampai kamu terus di bayangi olehnya. Atau mungkin, kamu ingat lagi masa lalu kamu," kata Zefan.
Aku meletakan gelas ke atas nakas. Kenapa sekarang Zefan jadi berubah.
"Al, kamu tidur aja. Aku akan tidur setelah kamu tidur."
Aku menggeleng, "Jika kamu sudah mengantuk, kamu bisa tidur dulu Fan. Aku mau cari udara segar."
Aku mengambil jaket yang aku gantung di sebelah pintu masuk kamar.
"Kamu mau ke mana?" Zefan memelukku dari belakang, "Maaf kalau aku ada salah kata sama kamu. Aku percaya kok sama kamu, jangan pergi ya."
"Siapa yang mau pergi. Aku kan hanya bilang mau cari udara segar, bukan mau cari suami baru."
"Kamu berani menggodaku ya." Zefan menarikku ke tempat tidur.
"Apa yang kamu lakukan Zefan." Teriakku.
"Aku ingin dirimu malam ini," kata Zefan dengan berbisik lirih.
__ADS_1
💝💝💝
to be continued