
Pagi ini aku di bantu Bi Iyah membuat sarapan. Zefan masih tidur karena tadi malam pulang larut.
"Bi, tolong semuanya di taruh ke meja. Aku akan membangunkan Zefan."
Aku juga harus berangkat bekerja. Setelah menikah kesibukanku bertambah dua kali lipat. Bagaimana tidak, aku juga harus mengurus semua keperluan Zefan.
"Zefan, ayo bangun. Ini sudah siang, nanti kamu telat loh," aku sedikit menggoyangkan tubuh Zefan.
Dengan sigap Zefan menarikku ke sisinya dan memelukku.
"Kenapa menarik diriku lagi?" tanyaku pada Zefan yang masih setengah tidur.
"Lima menit lagi aku akan bangun dan aku akan memelukmu sebentar," kata Zefan.
Aku membiarkan posisi ini sampai akhirna lima menit berlalu.
Aku menepuk wajah Zefan dengan pelan, "Ayo bangun. Nanti kita terlambat."
"Aku masih ingin dengan kamu," kata Zefan lagi.
Aku pun bangun dan membiarkan Zefan. Jika aku terus menurutinya, aku juga tidak bisa berangkat bertemu clientku.
"Bi, ayo makan bareng. Zefan kayaknya belum lapar."
Aku dan Bi Iyah makan dengan tenang. Setelah selesai aku langsung berganti pakaian untuk kerja.
"Kenapa kau tidak membangunkan aku?" tanya Zefan sembari memelukku.
Aku menoleh pada Zefan, "Aku bahkan sudah membangunkan kami beberapa kali. Mau ke kantor?" tanyaku pada Zefan.
Zefan mengangguk.
"Kalau begitu kamu mandi, aku akan siapkan baju dan sarapan."
"Aku tidak mau sarapan. Siapkan saja baju untukku."
"Baiklah."
💝💝💝
Sampai di tempat Mila, Zefan masih sempat untuk bercanda denganku.
"Sudahlah, kamu nanti telat."
"Biarkan aku telat. Itu kan perusahaanku," kata Zefan dengan mudahnya.
"Aku tahu. Sudah dulu ya, nanti Mila bisa marah karena aku telat." Aku mencium tangan Zefan dan langsung masuk ke kantor.
Belum juga aku sampai di dalam kantor Zefan sudah menahanku lagi.
"Apa lagi?"
"Nanti aku jemput untuk makan siang," kata Zefan.
"Dengan senang hati," jawabku dengan senyuman.
Cup. Setelah menciumku dengan tiba-tiba, Zefan langsung pergi begitu saja.
Aku masuk dan melihat Mila sedang menelfon seseorang. Mungkin client yang sedang komplain atau Vidi yang sedang memencing emosi Mila.
"Kau akhirnya datang juga," kata Mila begitu melihat aku diambang pintu ruanganya.
"Ada apa? aku baru masuk kerja lho," kataku.
Mila menghela nafas panjang dan kembali duduk di kursi kebanggaanya.
"Apa ada masalah?"
Mila mengangguk pelan, "Apa kau ingat dengan acara resepsi Yesi dan Aqil?"
Aku mengangguk, "Ya, aku juga diundang. Memangnya ada apa?"
"Dia mau aku dan kamu harus turun tangan sendiri di resepsi itu."
Aku kaget mendengar penjelasan Mila. Bukanya Yesi yang membatalkan aku begitu saja.
"Aku tahu ini gila, tapi ini yang terjadi."
__ADS_1
Aku menggeleng, tidak mungkin rasanya aku harus ikut andil dalam hal ini. Aku tidak mau diperlakukan mengerikan lagi dari Aqil dan Yesi.
"Aku masih ada client lain. Kamu tahu akan hal itu kan, Mil." Aku memang sengaja mencari alasan.
"Biar diurus yang lain. Jika Yesi dan Aqil membatalkan, kita akan rugi besar."
Benar, tapi aku harus mengesampingkan perasaanku. Bagaimanapun aku juga harus tetap profesional dalam pekerjaan ini.
"Bagaimana?" tanya Mila.
"Baiklah, tapi ada syaratnya."
"Syarat? sekarang kau membicarakan syarat dengan aku?" tanya Mila.
Aku mengangguk. Kali ini aku serius dengan syaratku.
"Baiklah. Apa syarat kamu, yang penting jangan buat aku kesusahan."
Aku membisikan sesuatu untuk Mila. Mila langsung menjauh dan menatapku aneh.
"Kenapa harus aku?"
"Hanya itu cara yang aku punya. Jika tidak mau, aku akan memilih untuk melayani client lain. Bagaimana?"
Dengan malas akhirnya Mila setuju juga dengan apa yang aku katakan.
"Sekarang kita harus ke gedung dan melihat dekorasi yang akan di pasang."
"Ayo."
💝💝💝
Siang ini aku masih tetap berada di gedung yang sedang didekorasi untuk besok. Beberapa kali Zefan menelfonku namun aku mengacuhkanya karena masih banyak pekerjaan.
"Siapa?" tanya Mila yang beberapa kali melihatku mematikan ponsel.
"Suamiku." Aku kembali meletakan ponselku ke dalam tas.
"Angkat dulu aja, di sini biar aku yang urus," kata Mila.
Aku memeluknya, "Kamu memang yang paling tahu aku."
"Mau apa kamu?" tiba-tiba saja ponselku direbut seseorang.
Aqil. Dia ke sini? untuk apa?
"Kembalikan ponselku." Aku meminta kembali ponselku yang berada di tangan Aqil.
"Kamu sedang bekerja, tapi malah bermain ponsel di sini."
"Apa aku harus meminta ijin kamu? kamu bukan bosku. Paham." Aku merebut kembali ponselku dan pergi ke halaman samping.
Akhirnya Zefan mengangkat panggilanku.
"*Hallo Zefan. Maaf, aku baru sempat menelfonmu," kataku.
"Tidak apa, kamu sekarang di mana*?”
Aku menyebutkan alamat di mana aku berada pada Zefan.
"*Kebetukan sekali aku sedang dekat dengan lokasimu. Tunggu sebentar dan aku akan sampai."
"Baiklah. Aku akan menunggumu*."
Akupun mematikan ponselku dan menunggu Zefan sembari melanjutkan pekerjaanku.
Aku melihat Aqil yang sedang membahas beberapa hal dengan Mila. Setelah Aqil pergi aku langsung menghampiri Mila.
"Apa aku bisa keluar sebentar? Zefan mengajakku makan siang bersama."
Mila menoleh padaku, "Baiklah, tapi kamu harus kembali ke sini."
"Tentu saja."
Zefan. Dia sudah sampai di sini ternyata. Zefan mendekat padaku dan menyodorkan sebotol air mineral.
"Aku tahu kamu sudah sangat lelah."
__ADS_1
"Terima kasih."
Mila mengambil botol yang ada di tanganku dan langsung menenggaknya.
"Kalian bisa pergi sekarang."
"Baiklah, aku akan membawa istriku pergi sebentar." Zefan menarik tanganku untuk mengikutinya.
Aku melihat Mila sedang banyak pikiran akhir-akhir ini. Vidi juga tidak menampakan batang hidungnya di hadapanku sejak aku pulang. Apa mereka sedang punya masalah?
"Kenapa melamun saja?" tanya Zefan begitu kami di dalam mobil.
"Tidak apa."
"Baiklah. Hari ini kita akan makan apa dan di mana?" tanya Zefan padaku.
"Aku ingin makan ayam goreng. Masalah tempat, kamu aja yang putusin."
"Ok."
💝💝💝
Kami sudah memesan makanan sampai akirnya Aqil datang ke meja kami.
"Apa aku boleh bergabung di sini?" tanya Aqil.
"Tidak," kataku dengan tegas.
Aqil mengernyitkan dahi begitu mendengar jawabanku. Sedangkan Zefan hampir mempersilahkanya duduk.
"Apa aku terlihat memuakan untuk kalian?"
Pertanyaan aneh apa ini? kenapa Aqil membuat alasan aneh.
"Kau tahu bukan. Pasangan baru haruslah memiliki waktu untuk bersama." Aku menggandeng tangan Zefan.
"Baiklah, maaf aku sudah mengganggu."
Aqil terlihat kecewa dan membalikkan badanya.
"Tunggu," kata Zefan. Aku langsung menoleh kearah Zefan.
"Kamu bisa duduk dengan kami," kata Zefan kemudian.
Aku hanya bisa menghela nafas dengan keputusan Zefan. Kenapa aku merasa jika Zefan ingin membuat aku dan Aqil berdamai.
"Apa setelah ini kau langsung ke kantor?" tanyaku pada Zefan.
Zefan sudah sejak tadi menatap jam tanganya. Lalu kemudian mengangguk.
"Aku buru-buru karena ada rapat penting."
"Biarkan aku yang mengantar Alisha ke gedung. Aku juga akan ke sana," kata Aqil tanpa basa basi.
"Aku bisa naik taxsi kok. Kamu kalau mau ke kantor hati-hati di jalan."
Zefan merapikan kerudungku, "Aku akan merasa tenang jika kamu ke sana bersama Aqil. Kita kan sudah sama-sama kenal."
Aku tidak mampu untuk menolak perkataan Zefan. Akhirnya aku menganggukan kepalaku. Aku mengantar Zefan hingga masuk ke dalam mobil.
"Nanti mau di jemput atau bagaimana?" tanya Zefan sebelum menjalankan mobilnya.
"Terserah kamu aja."
"Aku akan menjemputmu nanti." Zefan melambaikan tanganya padaku.
Aku hanya tersenyum mengantar Zefan yang meninggalkan aku dengan Aqil.
"Ayo."
Aku baru sadar jika Aqil sudah ada di sampingku.
"Ayo? aku bisa ke sana sendiri. Selamat tinggal." Aku meninggalkan Aqil yang masih diam terpaku di depan restoran itu.
Aku mengiyakan perkataan Zefan agar dia tidak terluka. Namun aku tidak ingin kejadian mengerikan saat di hotel terulang lagi. Jadi, aku memilih menggunakan taxsi untuk kembali ke gedung.
💝💝💝
__ADS_1
to be continued