Bertahan

Bertahan
Part 43 S 2


__ADS_3

Zefan menatapku lekat. Dia sedang mengajakku jalan kali ini. Dia mengajakku kesebuah taman yang sangat indah. Hampir semua bunga sedang bermekaran.


"Katakan padaku bagaimana sekarang?" tanya Zefan padaku.


"Aku sangat bahagia," kataku pada Zefan.


"Kenapa?" tanya Zefan lagi.


Aku mengernyitkan dahi, apa maksud pertanyaan Zefan. Apa dia menanyakan hatiku atau hanya perasaan saat ini.


"Aku bahagia bersamamu ditempat ini." Aku tersenyum pada Zefan.


Aku yakin suatu saat nanti hatiku hanya terpaku padanya. Mungkin saat ini belum seutuhnya, tapi aku akan selalau mencoba.


"Kau sudah siap menjalani hubungan yang serius denganku?" tanya Zefan.


Aku mengangguk pelan. Aku sudah meyakinkan hatiku. Kali ini aku yakin dengan pilihanku.


"Apa aku tidak sedang bermimpi?" tanya Zefan, dia terlihat sangat senang mendengar jawabanku.


"Kau tidak bermimpi." aku memetik sebuah bunga. "Maukah kau menikahiku?" tanyaku pada Zefan.


"Sangat mau," kata Zefan.


Kami tertawa. Zefan akan memelukku namun dia urungkan. Kali ini aku benar-benar merasa yakin dengan Zefan.


"Ayo kita pulang." Zefan menggandengku dan langsung mengajakku pulang.


"Kenapa kita akan pulang?" tanyaku. Zefan mengajakku pulang secara tiba-tiba.


"Aku akan mengabarkan hal baik ini pada Mama, dia pasti akan memelukmu." Zefan mengatakan dengan senyumannya. Dia tidak menyembunyikan rasa senangnya.


Aku mengangguk, "Ayo kita ke rumah Mama," kataku kemudian.

__ADS_1


Diperjalanan Zefan hanya menceritakan tentang dirinya. Dia juga mengatakan hal yang dia inginkan setelah menikah denganku. Sampai pada akhirnya kita sudah sampai di rumah Mama. Di sana terlihat sangat sepi.


"Mama ke mana?" tanyaku pada Zefan.


"Aku juga tidak tahu. Aku akan menelfonya." Zefan sedikit menjauh dariku untuk lebih tenang menelfon Mama.


Setelah selesai menelfon Zefan langsung masuk ke mobil, dia juga langsung menyuruhku masuk.


"Mama masuk ke rumah sakit." Tanpa basa-basi Zefan langsung tancap gas.


"Mama kenapa?" tanyaku pada Zefan.


Tidak ada jawaban. Dia tetap fokus pada jalanan. Zefan pasti sangat khawatir, aku juga mungkin akan seperti itu jika orang tuaku masuk rumah sakit.


💝💝💝


Zefan meninggalkan aku sendiri. Setibanya di rumah sakit Zefan langsung mencari Mamanya. Sedangkan aku kebingungan mencari ruangan milik Mama Zefan. Aku tidak tahu namanya, bagaimana aku menanyakan pada resepsionis.


Aku memutuskan untuk duduk dan menunggu Zefan kembali. Ponselnya juga tertinggal di dalam mobil.


Aku menoleh keasal suara. Aqil. Kenapa juga aku harus selalu bertemu denganya. Aku sudah berjanji untuk tidak dekat-dekat dengan Aqil dan Yesi.


"Aku... aku sedang ..." aku memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengatakan pada Aqil.


"Dia sedang menemaniku menunggu Mama di sini." Zefan datang, kali ini wajahnya tidak sepanik tadi. Dia menghampiriku dan langsung menggenggam tanganku.


"Aku kira dia sendiri di sini," kata Aqil. "Sakit apa Mamamu?" tanya Aqil kemudian.


"Kamu tidak perlu tahu. Lebih baik kau pergi dari sini." Zefan langsung menarikku menjauh dari Aqil. Aqil melambaikan tanganya dan tersenyum padaku.


Kami berjalan cukuo jauh hingga akhirnya berhenti disebuah ruangan. Mama Zefan berada di dalam sana. Aku melihat Zefan, dia sedih terlihat dari sorot matanya yang teduh.


"Ayo masuk." Aku mengajak Zefan masuk.

__ADS_1


Mama terlihat lucat namun begitu melihat aku dan Zefan. Mama langsung tersenyum dan menyuruhku mendekat.


"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Mama saat kami sudah berada di sampingnya.


"Hubungan kami baik saja Ma." Zefan mencoba mengalihkan pertanyaan Mama.


"Mama tahu, maksud Mama kalian sudah sejauh mana?" Mama menggenggam tanganku. "Mama takut tidak bisa hadir diacara pernikahan kalian nantinya," kata Mama.


"Mama jangan seperti itu. Mama pasti akan hadir diacara pernikahan kami," aku mencoba menghibur Mama.


"Jadi kau sudah setuju untuk menikah dengan Zefan?" tanya Mama dengan wajah ceria.


Aku hanya menjawab dengan senyuman. Malu rasanya untuk mengatakan yang sejujurnya. Apa lagi jika teringat kalau dulu aku pernah gagal menjalani rumah tangga.


"Aku dan Alisha sudah datang ke rumah. Malah dapat kabar Mama masuk ke sini. Makanya, Mama tinggal sama aku aja." Zefan mengomel tidak jelas.


Hari ini aku melihat sifat Zefan yang lain. Aku melihat cintanya pada Mamanya sangat dalam. Dia tidak ingin kehilangan Mamanya.


"Mama hanya kelelahan. Nanti juga baikan." Mama mengambil sebuah apel dan memberikanya padaku.


Aku mengupas apel itu dan mulai menyuapi Mama. Aku hanya melihat Zefan dan Mamanya saling balas percakapan. Sesekali aku ikut tertawa karna mereka.


Zefan mendekat dan memegang tangan Mamanya, "Ma, aku membuat taman dan ruangan bunga untuk Mama. Mama pindah kerumah saja ya," kata Zefan.


"Tapi, ...... "


"Ma, Mamakan masih bisa berkunjung ke rumah Mama," kataku. Aku kasihan melihat Zefan yang terus menerus merayu Mamanya tanpa hasi.


"Baiklah. Kalian siapkan saja tempat untuk Mama," kata Mama kemudian.


Wajah Zefan langsung terlihat bahagia. Mungkin dia sangat ingin bersama dengan Mamanya namun Mamanya malah memilih tinggal di rumah yang sederhana.


💝💝💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2