
Pembunuh? berarti sejak awal Aqil adalah seorang pembunuh. Aku mendengar suara langkah kaki, brak. Pintu terbuka, mataku dan matanya bertemu.
"Kau ..."
Aku langsung menariknya ke kamar sebelah. Aku membekap mulutnya agar Aqil tidak tahu. Sampai di dalam kamar dia melepaskan bekapanku.
"Kau ini siapa? beraninya melakukan hal ini," kata Sarah dengan ketus.
Aku tersenyum dan mendekat padanya. Aku langsung memeluknya, pelukan seorang Ibu yang selama ini aku rindukan. Bagaimanapun dia pernah mengasuhku dan melindungiku.
Aku tidak bisa berkata apapun, hanya air mata yang mengalir.
"Kau.... kau ...." Mama Sarah membalas pelukan Alisha, "Alisha." Panggilnya lembut.
Aku mengangguk dalam pelukanya. Semua bahasa tidak ada yang mampu mengungkapkan tentang perasaan ini.
Mama Sarah melepaskan pelukanya, dia menangku dengan ke dua tanganya. Matanya menatap lekat pada diriku.
"Kamu sudah besar. Selama ini, aku hanya bisa menatap wajahmu di dalam foto."
Aku diam dan masih senang menatap eaut wajah ini. Kini, aku benar-benar memiliki alasan membenci Aqil. Namun aku masih belum menemukan keberanianku melawanya.
Aku mengusap air mata Mama Sarah, "Mama mau ijut aku pulang kan?" tanyaku pelan.
Mama Sarah menggeleng, "Kali ini belum bisa," kata Mama dengan wajah menunduk.
Aku tidak tahu kenapa, tapi Mama terlihat takut saat ini.
"Ma, aku boleh tanya tentang Aqil?" tanyaku.
Dengan cepat Mama menggelengkan kepalanya, "Mama akan ceritakan semuanya, namun bukan sekarang. Mama juga tidak ingin kamu menceritakan pada siapapun tentang pertemuan kita."
Aku tidak percaya dengan apa yang di katakan Mama Sarah.
"Mama tahu kamu sangat ingin Mama ikut dengan kamu. Mama juga sangat menginginkanya. Mama masih memiliki hal lain."
Mama Sarah meninggalkan aku terduduk, dia membuka pintu dan memastikan tidak ada siapapun di depan pintu.
"Ayo."
Mama Sarah menarikku untuk ikut keluar dari dalam kamar. Sampai di sebuah persimpangan, Mama Sarah memelukku.
"Kita akan bertemu lagi, maafkan Mama sayang." Mama Sarah melepaskan pelukanya dariku.
Dia berlari dengan cepat, aku diam. Semuanya seperti mimpi, orang yang selama ini aku cari akhirnya aku temukan. Walau banyak pertanyaan yang masih aku pendam dalam hatiku.
Aku merasakan menggenggam sesuatu di tanganku. Aku membuka perlahan genggaman tangan kiriku, sebuah gelang dengan hiasan separuh hati.
"Kau di sini?"
Aku langsung menyembunyikan gelang itu di dalam saku. Lalu aku menoleh, Zefan sudah di belakangku.
"Katanya mau ke toilet. Kok malah di sini?" tanya Zefan padaku.
Aku menggeleng, "Aku melihat kenalanku. Aku mengikutinya sampai di sini."
"Lalu apa kamu bertemu denganya?"
"Tidak, aku salah orang."
Zefan melihat jam tanganya, "Kita pamitan sama Yesi dan Aqil lalu pulang."
"Vidi dan Mila?"
"Mereka sudah pulang sejak tadi."
Aku dan Zefan mencari Yesi dan Aqil. Mereka sedang duduk di meja dengan beberapa tamu penting.
"Lebih baik kita tidak usah pamit," kataku pada Zefan.
Zefan tetap menggenggam tanganku, "Lihat mereka sudah pergi. Ayo."
__ADS_1
Sampai di depan Yesi dan Aqil kami langsung berpamitan. Masih tetap sama, aku merasakan takut dengan tatapan yang diberikan Aqil padaku.
"Ya sudah. Kami pergi dulu, selamat malam," kata Zefan.
"Malam, tunggu Fan."
Zefan menoleh karena mendengar panggilan Aqil.
"Jaga istrimu baik-baik."
"Pasti."
💝💝💝
Aku masih duduk di meja rias. Aku menatap gelang yang diberikan Mama Sarah padaku. Aku akan selalu memakainya, karena ini adalah barang berharga untukku sekarang.
"Sedang apa kamu?" tanya Zefan yang baru saja bangun dari tidurnya.
Aku menoleh dan mengulas senyum untuknya. Aku berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
"Selamat pagi, Sayang," kataku.
Zefan tersenyum, "Pagi juga bidadariku." Zefan menarikku ke dalam pelukanya.
"Apa kau mimpi buruk?" tidak biasanya Zefan seperti ini.
"Tidak, aku sangat sayang padamu."
"Aku juga menyayangimu."
Aku melepaskan pelukan Zefan dan akan pergi. Namun gelang yang aku pakai tersangkut pada baju Zefan.
Zefan mencoba melepaskanya, "Kau dapat dari mana gelang ini?" tanya Zefan padaku.
"I...ini. Ini aku beli kemarin."
"Kenapa wajah kamu terlihat takut?"
Zefan menarikku ke sampingnya, dia menatap lekat padaku. Jantung ini kenapa berdetak seperti ini. Aku bahkan sulit bernafas.
"Apapun yang kamu suka. Kamu bisa memilikinya."
Wajah kami sangat dekat dan ...cup. Zefan mencium bibirku. Lalu dia berlalu masuk ke kamar mandi. Selepas kepergian Zefan aku memegangi dadaku. Masih saja berdetak dengan cepat.
"Kenapa aku harud merasakan hal macam ini." lirihku.
Aku turun dengan tasku dan Zefan. Kami akan pergi bersama kali ini, karena Zefan sedang tidak memiliki banyak pekerjaan di kantor.
"Bi, masak apa hari ini?" tanyaku pada Bi Iyah yang sedang menyiram tanaman di samping dapur.
Bi Iyah menoleh, "Makanan kesukaan Tuan Zefan."
"Baguslah, terima kasih, Bi."
"Sudah tugasku, Non."
Aku menyiapkan piring dan air minum sampai Zefan turun. Dia sudah siap dengan pakaian yang aku ambilkan tadi. Aku juga menyiapkan tas yang sudah aku belikan untuknya.
"Kali ini kau mau jadi apa untuk Mila?" tanya Zefan di sela kami makan.
Aku menoleh, "Maksud kamu apa?"
"Kemarin jadi asisten, sekarang jadi apa?"
"Sekarang, aku akan jadi istri yang setia untuk kamu dan menjadi ibu untuk anak-anak kamu."
Zefan mencubit pipiku, "Apa kau sudah hamil?"
"Belum." Aku menundukan kepalaku.
"Aku akan berusaha agar kau cepat hamil."
__ADS_1
Mendengar apa yang di katakan Zefan membuat aku tersedak. Aku menepuk-nepuk dadaku.
Zefan mengambilkan minum untukku, "Minum ini, kau bahkan sampai tersedak karena ucapanku."
Setelah selesai minum aku menoleh pada Zefan, "Bukan karena ucapanmu, tapi karena aku tidak hati-hati."
"Pandai sekali kamu berbohong," kata Zefan. Dia mengusap kepalaku lembut.
💝💝💝
Zefan benar-benar mengantarkan aku sampai di ruanganku.
"Kamu sudah sampai, aku berangkat kerja dulu ya," kata Zefan.
Entah kenapa aku sudah memutuskan untuk tetap di dekat Zefan.
"Jangan melamun, masih pagi."
Aku tersenyum, "Jika aku berhenti kerja bagaimana?" tanyaku pada Zefan.
"Sudah aku katakan, terserah kamu saja."
"Baiklah, aku akan mengajukan surat pengunduran diriku."
Zefan memelukku, "Apapun yang kamu lakukan aku akan mendukungmu."
"Terima kasih sayang."
Aku mendengar suara langkah kaki dan, "Al, kamu sudah datang."
Mila masuk tanpa permisi sedikitpun, aku dan Zefan langsung melepaskan pelukan masing-masing. Canggung sekali rasanya.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku hanya ingin... emm.."
Mila terlihat bingung karena ada Zefan di sana. Aku menoleh pada Zefan, untung saja Zefan paham maksudku.
"Aku pergi dulu. Nanti aku akan jemput kamu." Zefan mencium keningku lalu pergi, "Dadah Mila."
Mila hanya membalas dengan lambaian tangan pada Zefan. Mila menarikku untuk duduk di sofa.
"Ada apa?" tanyaku lagi.
Mila tersenyum dan menunjukan jarinya padaku. Ternyata Vidi sudah melamarnya. Pantas Mila terlihat berbeda.
"Kapan?" tanyaku.
"Tadi malam, sepulang dari acara Aqil dan Yesi."
Aku memeluk Mila, "Selamat, ya."
"Aku tahu kamu juga akan bahagia jika mendengar hal ini."
Mila hanya menceritakan tentang Vidi tadi malam. Bahkan baru kali ini Mila mengakui jika Vidi orang yang romantis.
"Ngomong-ngomong apa yang kamu bicarakan dengan Zefan?" tanya Mila kemudian.
Aku ingat jika aku mengatakan akan mengundurkan diri dari kantor Mila ini.
"Apa terlalu pribadi?"
"Tidak, sebenarnya.."
"Sebenarnya apa?" terlihat sekali jika Mila sangat penasaran.
"Sebenarnya aku akan mengundurkan diri dari sini." Aku langsung menutup wajahku.
💝💝💝
to be continued
__ADS_1