
Aku sudah rapi dengan baju yang aku pakai. Aku juga memakai kerudung yang senada dengan baju biruku. Aku kembali menatap wajahku sendiri dicermin. Sudah cukup pantas untukku keluar.
Hari ini aku ingin membuat hatiku lebih bahagia lagi. Sakit rasanya jika terus meratapi seseorang. Aku harus belajar menjadi lebih baik.
"Giel. Jangan lupa makan ya. Aku berangkat dulu". Aku mengambil tas selempangku.
"Mbak terlihat sangat bahagia".
"Ini hari baruku. Aku harus semangat".
Taxsi yang aku pesan sudah menjemputku. Kini tinggal jalan sekalian menemui pelanggan yang kemarin menelfonku.
"Kita ketempat ini ya Pak". Aku memberikan kertas kecil pada sopir taxsi itu.
"Baik Non".
💝 💝 💝
Sampai di tempat tujuan aku melihat wanita dengan baju kantornya. Dia melambaikan tangan padaku.
"Nona Lei?". tanyaku padanya.
"Benar. Anda pasti Alisha".
Kami duduk dan mulai membahas semua tentang acara yang akan aku tangani.
"Kalau untuk detailnya. Bos saya sendiri yang akan langsung menjelaskanya".
"Baik. Aku akan bertemu denganya sekarang".
"Pesan bos saya, anda harus tanda tangan kontrak kerja dulu". Dia menyodorkan sebuah kertas kontrak.
"Bukankah aku hanya menangani satu acara ini? Kenapa aku harus tanda tangan kontrak kerja?." Aku merasa aneh dengan hal ini. Apa mereka takut aku menipu.
"Bukan hanya satu acara. Kami juga akan menggunakan jasa anda untuk seterusnya".
"Kalau begitu bukan kontrak kerja. Kontrak kerjasama".
"Maaf. Saya salah bicara. Silahkan dibaca dahulu Bu".
"Panggil nama. Aku lebih senang jika dipanggil nama". Aku mulai membaca isi kertas itu dan cukup menguntungkan juga untuk tokoku.
"Bagaimana?" tanya Lei dengan wajah yang terlihat cemas.
"Aku akan langsung tanda tangan" setelah membubuhkan tanda tangan aku memesan beberapa makanan.
"Kamu boleh pergi setelah makan". Aku mencegah Lei pergi tanpa makan apapun.
"Tapi,..".
"Untuk kerjasama ini. Aku mohon".
"Baiklah".
Lei kembali duduk. Kami mulai acara makan itu. Walau aku melihat kecemasan diwajah Lei namun aku tidak mungkin bertanya. Aku tidak ingin dia menganggapku wanita yang ingin tahu.
"Terimakasih untuk makanya". kata Lei saat kami sudah diluar restoran itu.
"Tidak perlu berterima kasih. Katakan pada bosmu. Aku akan datang besok".
__ADS_1
"Baik. Nanti akan saya kabari lagi". Lei undur diri dan masuk kemobilnya.
Kini aku kembali kerencanaku. Aku akan membeli beberapa buku dan bahan makanan untuk dirumah. Hidup seperti ini sangat bagus. Aku tidak harus tunduk pada siapapun.
💝 💝 💝
Sore yang sangat indah dengan gerimis yang menemani. Aku merasakan rindu pada Aqil tapi aku tidak mungkin menghubunginya atau dia akan semakin membenciku. Apa aku salah jika aku mengatakan kalau aku Lili.
"Mbak. Mbak, ini ada paketan lagi".
Setelah membuka pintu aku hanya menemukan Giel dengan kotak ditanganya.
"Siapa yang mengirim?".
"Tidak tahu mbak. Dia juga pakai jaket hitam, wajahnya nggak kelihatan". kata Giel.
Aku langsung berlari menuju luar. Berharap jika orang yang membawa paket itu masih disana.
"Udah pergi lagi". Aku kembali masuk dengan tangan kosong.
"Ini diletakan dimana mbak?". tanya Giel.
"Di meja aja. Kamu kalau mau pulang. Langsung pulang aja".
"Aku pesenin makanan dulu ya mbak".
"Nggak usah. Aku mau masak aja".
"Ok deh mbak. Duluan ya". Giel melambaikan tanganya.
"Hati-hati dijalan".
Aku akan terus membuatmu bertanya.
Kembali aku meletakan kotak itu dipojok kamar. Aku menghela nafas panjang. Aku masih bingung akan mengatakan pada Aqil atau tidak. Aku tidak mau membuatnya menjauh dariku.
💝 💝 💝
"Mama sangat kangen sama kamu. Kenapa baru datang?" tanya Mama begitu aku masuk kerumah. Dia memelukku dengan kasih sayangnya.
"Maaf Ma. Aku baru sempat datang". Aku memberikan buah yang aku beli saat akan kesini.
"Gimana kabar kamu?".
"Aku sehat kok Ma. Gimana Mama sama Papa?". kami masuk dan duduk diruang tamu.
"Kami juga sehat. Kamu akan lama kan disini?. Nanti Mama masakin buat kamu".
"Maaf Ma. Aku kesini hanya sebentar karna akan kekantor tempat aku bekerjasama".
Aku melihat gurat kecewa diwajah Mama. Aku tersenyum dan memegang tanganya. "Aku janji, lain kali aku akan makan disini".
"Apa Aqil tidak memberimu uang?".
"Ma. Aku kerja bukan karna Aqil yang tidak memberiku uang Hanya saja, aku tidak ingin terkurung dalam rumah seharian". Aku membenarkan posisi dudukku. "Sangat membosankan". lanjutku.
"Mei?. apa kalian satu rumah?".
Harus jujur atau tidak ya. Aku merasa dilema kali ini. Aku memantapkan hatiku dan tersenyum pada Mama.
__ADS_1
"Aku akan merebut Aqil kembali. Walau aku belum serumah dengan Aqil" aku berbicara sangat pelan.
"Ada apa sebenarnya?". tanya Mama.
"Ma. Aqil belum percaya denganku. Aqil juga masih mencintai Mei". Aku menguatkan hatiku dan mencoba mencari kata-kata yang tepat. Aku tidak ingin Mama terluka. "Aku selalu mencoba agar Aqil mau menerimaku. Namun, Aqil belum menerima masa laluku".
"Mama tahu ini berat untuk kamu. Kamu harus yakin. Kalau kamu bisa melakukanya" Senyuman Mama menambah rasa semangatku.
"Ma. Aku udah telat, aku duluan ya Ma". aku berpamitan.
Mama memelukku. "Sering-sering main Al".
"Baik Ma". Aku melepaskan pelukan Mama dan masuk kemobil. Jika aku tidak melihat jam, mungkin aku akan telat untuk menemui bos itu.
Setelah sampai di perusahaan furniture itu aku mencari Lei. Namun tidak aku temukan. Aku bertanya pada karyawan disanapun tidaka da yang tahu siapa itu Lei.
"Permisi. Dengan Ibu Alisha?". tanya pria tegap dengan wajah sangar.
"Ya. Benar".
"Mari ikut saya. Bos sudah menunggu dari tadi".
Tidak ada kata lain. Aku langsung membuntuti pria itu. Aku sudah terlanjur tanda tangan kerjasama untuk kali ini.
"Silahkan masuk. Bos sudah ada didalam."
Aku masuk keruangan itu. Aura mengerikan terpancar dari segala arah. Entah karna barang-barang yang berada disana atau karna pemilik ruangan ini.
"Selamat pagi bu Alisha".
"Kau?. Kenapa kau yang ada disini?". Pantas saja aku tidak menemukan Lei. Dia hanyalah alat untuk memperdaya diriku.
"Apa maumu?".
"Mauku?". Gama berdiri dari kursinya. "Mauku kamu harus menepati semua isi kontrak itu".
"Aku ingin membatalkanya". kataku dengan tegas.
"Apa kamu sudah siap dengan ganti ruginya?". Gama mendekat kearahku. "Aku kira kamu tidak akan sanggup membayar denda itu".
Benar juga. Aku tidak punya uang sepuluh milyar. Jika aku meminta pada Aqil, aku pasti akan mendapat masalah lagi.
"Kamu masih sama seperti dulu. Terlalu terburu-buru". kata Gama.
Aku masih diam. Kali ini aku benar-benar sudah masuk perangkapnya.
"Bagaimana?. masih mau membatalkan kontrak itu?".
"Aku akan menjalankanya sesuai kontrak. Aku dan kau hanya partner bisnis" Kataku pada Aqil.
Aqil menatapku dengan senyumanya yang sangat mengerikan.
"Baiklah. Baiklah, cepat atau lambat kau akan menjadi milikku". Gama tersenyum penuh kemenangan.
"Kalau sudah saya permisi". Aku tidak ingin terlalu lama di kantor ini. Bodohnya aku tidak melihat nama Gama di kontrak itu.
Gama membukakan pintu untuk aku keluar. Tidak ada sepatah katapun yang aku ucapkan. Aku hanya ingin segera lari dari Gama. Dia pria yang sangat mengerikan.
💝 💝 💝
__ADS_1
to be continued