Bertahan

Bertahan
Part 82 S 2


__ADS_3

Hari ini adalah hari penentuan untuk Aqil. Bagaimanapun aku masih memikirkan bukti yang ada di tanganku. Jika aku memberikan ini, Aqil tidak akan bisa berkutik lagi. Namun, aku masih memikirkan Mila. Dia pasti akan sangat benci denganku.


"Kenapa tidak di makan sarapanya?"


Aku tersadar dari lamunanku karena pertanyaan Zefan.


"Jika kamu memang tidak ingin memberikan bukti itu. Tidak apa. Kita akan memikirkan cara lain," kata Zefan.


"Cara apa lagi? hari ini penentuanya. Aku tidak ingin semua orang merasa di teror lagi oleh Aqil. Namun, ...."


"Masih ada waktu. Kamu bisa memikirkannya. Jangan buat kamu terbebani."


Aku mengangguk. Sendok yang ku pegang hanya aku mainkan. Pikiranku masih melayang-layang.


"Aku ke kantor dulu. Kamu bisa istirahat di rumah.” Zefan bangkit dari duduknya dan mencium keningku.


"Hati-hati di jalan."


"Ya."


Sidang terakhir ini akan diadakan jam sepuluh. Masih tiga jam lagi untukku menimbang-nimbang keputusanku. Diantara dua pilihan yang berat. Namun aku harus mencari konsekuensi yang lebih kecil.


💝💝💝


Setelah semuanya sudah aku pikirkan. Aku memilih untuk menyusul ke kantor Zefan. Aku akan memberikan bukti ini. Bagaimanapun akan lebih baik jika Aqil di penjara.


"Mau kemana, Bu?" tanya sopir taxsi.


"Ini Pak." Aku memberikan kertas alamat pada sopir taxsi yang aku pesan.


Dengan perasaan khawatir. Aku memantapkan hatiku. Apapun yang akan terjadi, aku akan menerimanya karena ini yang aku pilih.


"Terima kasih, Pak." Aku memberikan uang dan turun.


Bergegas aku masuk ke kantor Zefan untuk mencarinya. Sebelum pikiranku kembali berubah.


"Bu Alisha?" panggil seseorang.


Aku menoleh.


"Apa anda akan menemui Pak Zefan?" tanya sekertaris Zefan.


"Ya. Apa dia sedang sibuk kali ini?"


Sekertaris itu tersenyum, "Pak Zefan baru saja pergi. Dia mengatakan akan ke pengadilan. Ada hal yang akan dia urus di sana."


"Pengadilan?"


"Ya."


Kenapa aku lupa. Sekarang sudah jam berapa?


"Ini jam berapa?"


"Setengah sepuluh."


Aku kaget bukan main mendengar hal ini. Segera aku berlari agar tidak terlambat. Kenapa aku sampai lupa waktu, aku bahkan tidak mengabari Zefan terlebih dahulu.


Beberapa kali aku mendengar Sekertaris Zefan memanggil. Namun aku tetap berlari, aku tidak mau terlambat dan membuat hancur semua tujuanku dan Zefan.


"Kemana Bu?"


"Kantor pengadilan. Tolong cepat ya Pak."


"Baik."


Brak brak brak. Aku melihat Sekertaris Zefan di sisi jendelaku. Dia melambaikan ponselku di sana. Akupun membuka kaca mobil itu.


"Ini. Ibu meninggalkan ponsel ini karena kaget."


Aku menerima dengan senang hati, "Aku sangat berterima kasih. Sekarang aku harus pergi."

__ADS_1


"Hati-hati di jalan."


Aku mengangguk.


"Ayo Pak."


Kembali aku melihat jam. Jika di pikir lagi, jarak antara kantor Zefan dan kantor pengadilan cukup jauh. Mungkin akan memakan waktu lebih dari setengah jam.


"Bapak bisa ngebut kan, Pak?"


Sopir itu terlihat kaget dengan permintaanku.


"Tolong, Pak. Ini hal mendesak, aku akan memberikan uang lebih."


"Bukan begitu, tapi ini tentang keselamatan, Bu."


"Saya mohon Pak. Atau bapak punya jalan cepat ke kantor pengadilan?"


"Serahkan pada saya, Bu."


Aku tersenyum dan menyandarkan tubuhku ke kursi mobil. Kali ini aku harus berhasil sampai di sana tepat waktu. Beberapa kali aku menelfon Zefan, dia tidak mengangkatnya.


Sekilas aku teringat tentang masa lalu. Masa di mana aku menyerahkan seluruh hatiku pada Aqil. Sampai aku harus tahu tentang hal lain dari Aqil. Hingga aku membencinya.


💝💝💝


"Maaf, Bu. Jalanan di sini macet. Mungkin di jalan biasa juga sama."


"Dari sini masih jauh ya, Pak? saya harus cepat ke sana."


"Maaf, Bu. Ini jam sibuk, jadi macet."


Aku memainkan jariku. Khawatir sekali dengan waktu yang sudah sempit ini. Jika aku terlambat. Maka semuanya juga akan hancur.


"Apa Ibu naik ojek saja?"


"Jika memesan ojek akan sangat lama."


"Di depan ada pangkalan ojek, Bu. Ibu bisa naik dari situ ke kantor pengadilan."


"Ini uangnya Pak. Terima kasih sudah mengantar saya."


"Sama-sama. Hati-hati ya, Bu."


Benar saja. Aku mendapatkan ojek dari dekat kemacetan. Memang lebih cepat menggunakan ojek karena bisa melewati jalan sempit. Berbeda dengan mobil.


"Tolong cepat Pak. Saya buru-buru."


Karena takut terjatuh aku memegang jaket ojek itu. Tidak enak rasanya jika harus berpegangan langsung.


Tidak lama akhirnya sampai juga.


"Berapa, Pak?"


"Dua puluh ribu aja, Mbak."


"Ini, Pak." Aku memberikan uang itu dan langsung masuk.


Zefan. Aku harus mencarinya dulu. Beberapa kali aku bertanya pada orang yang aku temui. Jawabannya sama saja, tidak tahu.


"Alisha."


Mendengar suara itu membuat aku lega. Aku langsung berbalik arah dan mendekat padanya.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Zefan.


Aku menyodorkan ponselku, "Ini. Berikan bukti ini."


"Apa kamu yakin?"


Aku mengangguk dengan pasti. Zefan langsung memelukku dengan satu tanganya. Tenang, aku merasakan ketenangan dalam diriku.

__ADS_1


"Mau ikut masuk? kamu bisa melihat persidangan ini," kata Zefan.


Aku menggeleng dengan cepat, "Aku akan pulang."


"Kamu tidak ingin melihatnya?"


"Aku ingin mendengar semua hasilnya dari kamu. Aku tidak ingin melihatnya."


"Baiklah. Biarkan sopir kantor yang mengantarkan kamu pulang, kebetulan dia ada di sini."


Aku mengangguk, "Baiklah. Aku pulang dulu ya."


Zefan mengantarkan aku ke parkiran. Sebentar lagi dia akan masuk ke acara persidangan itu. Sebenarnya aku takut, takut mendengar semua keputusan. Aku takut, apa yang aku harapkan tidak terjadi.


💝💝💝


Dengan perasaan tidak enak. Aku mondar mandir di ruang tamu. Menunggu Zefan pulang.


Tok tok tok. Aku bergegas membuka pintu. Tidak ada Zefan. Hanya ada Mama yang di depan pintu.


"Sayang. Kamu lagi nungguin siapa?" tanya Mama.


"Aku nunggu Zefan, Ma. Ayo masuk dulu." Aku mempersilahkan Mama untuk masuk.


"Mau minum apa, Ma?"


"Apa aja boleh deh. Mama sudah haus."


Akupun masuk ke dapur. Bi Iyah sedang duduk. Mungkin pekerjaanya sudah selesai.


"Ada apa, Non?" tanya Bi Iyah melihatku masuk.


"Buatkan teh untuk Mama. Di bawa ke ruang tamu ya, Bi."


"Baik, Non."


Aku keluar hanya membawa makanan kecil saja.


"Tumben Mama ke sini?"


"Tadi lihat di berita. Katanya, Aqil akan di penjara."


Berita? apa semuanya sudah selesai. Kenapa Zefan belum memberi tahuku. Lebih baik aku menelfonya.


"Dia di vonis hukuman yang berat," kata Mama lagi.


"Ma. Aku tinggak sebentar ya, Ma."


Mama memegang tanganku, "Kamu terlihat khawatir. Ada apa?"


"Jika sidangnya sudah selesai. Zefan seharusnya pulang, tapi dari tadi aku tidak mendapat kabar darinya."


"Telfon saja dulu. Mungkin dia sedang dalam perjalanan pulang. Apapun yang terjadi, kalian sudah berhasil mengalahkan Aqil."


Aku mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Kenapa perasaanku semakin tidak enak ketika menekan nomor Zefan. Ada apa ini?


\="Hallo. Selamat sore, apa ini istri dari pemilik ponsel?"\=


Aku mendengar suara panik di sana. Bahkan sirine ambulance juga ada.


\="I...i..iya. Saya istrinya."\=


Orang yang ada di telfon menghela nafas panjang. Dia mungkin merasa lega.


\="Apa anda bisa ke rumah sakit kristal. Suami anda di sini, tadi saya menemukan di jalan sudah bersimbah darah."\=


Mendengar hal itu. Aku merasakan seluruh tubuhku lemas. Ponsel yang aku genggam juga jatuh.


"Alisha." Teriak Mama begitu masuk ke dalam kamarku, "Ada apa, Sayang."


Aku tidak menjawab. Mataku menerawang jauh, seperti mimpi. Ya. Ini mimpi, aku harus bangun untuk kembali bersama Zefan. Dia baik-baik saja.

__ADS_1


💝💝💝


to be continued


__ADS_2