
Tidak aku sangka jika Aqil mengirimiku uang yang lebih. Bahkan sangat banyak, aku tidak mungkin menggunakan uang ini begitu saja. Aku harus menanyakanya pada Aqil.
Jalanan lenggang membuat aku lebih mudah dalam menyetir mobil. Aku harus cepat sampai di kantor Aqil dengan segera.
"Bu Alisha. Mau menemui Pak Aqil ya?" tanya seorang karyawan yang membuat aku berhenti dari jalanku.
"Iya. Ada apa ya?" tanyaku pada gadis itu.
"Pak Aqil sudah menunggu diatap gedung."
Aku mengernyitkan dahi. Apa Aqil tahu aku akan menemuinya hari ini. Sebenarnya apa yang dilakukan Aqil. Dia bahkan tahu semua gerak-gerikku.
"Terima kasih infonya." Aku tersenyum dan pergi.
Sampai di atap gedung aku melihat Aqil yang sedang menatap pemandangan yang sangat indah. Aku baru tahu jika pemandangan di sini sangat luas.
"Indah banget." Aku langsung menggandeng tangan Aqil.
"Kamu sudah datang."
Aku mengangguk dan tersenyum pada Aqil. Aku menatap wajahnya. Dia adalah suamiku, aku akan tetap disampingnya. Apapun yang akan terjadi. Jika takdir memihak pada kita.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku terlihat jelek?"
Aku langsung tertawa mendengar perkataan Aqil. Dia tidak jelek, hanya saja selalu membuat aku rindu padanya.
"Aku mau nanya. Kenapa kamu mengirimiku uang sebanyak itu?"
"Aku lihat kamu sedang butuh uang itu. Bahkan sangat butuh."
Mendengar itu aku kembali melihat wajah Aqil. Apa dia selalu memata-mataiku.
"Apa kamu tahu sesuatu?" tanyaku pada Aqil.
"Apa yang aku tidak tahu dari istriku."
"Jadi kamu membuntutiku? Apa kamu takut aku berselingkuh?"
Tangan Aqil langsung melingkar dipinggangku. Dia menatap tajam padaku.
"Aku hanya ingin kamu menjadi milikku."
"Sudahlah," aku mendorong Aqil menjauh. "Kamu tidak mencintaiku. Kamu mencintai Meifira."
Aku mengambil ponselku dan melihat pesan dari Giel. "Terima kasih untuk uangnya. Aku pergi."
Aku meninggalkan Aqil kembali sendiri diatap gedung itu. Suasana disana sangatlah indah. Angin sepoi-sepoi dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Namun aku memiliki hal penting yang harus aku urus.
💝 💝 💝
Setelah mengambil uang dari bank. Tanpa pikir panjang aku langsung ke toko bunga. Di sana Giel pasti sedang ketakutan.
__ADS_1
"Dimana mereka?" tanyaku pada Giel yang terlihat ketakutan.
"Mereka sudah di dalam Mbak."
Aku mengangguk dan melihat Giel yang gemetar karena rasa takutnya. "Giel. Kamu bisa pulang sekarang," kataku padanya.
Wajah Giel langsung berubah seketika. Dia merasa bebas dari para penjahat itu. Aku tidak ingin karyawanku terkena imbasnya.
"Terima kasih, Mbak. Tapi, apa Mbak tidak apa-apa?"
"Aku bisa jaga diri kok."
"Sekali lagi terima kasih. Mbak, jaga diri ya."
"Sama-sama. Hati-hati Giel."
Aku langsung masuk keruanganku. Kembali, ruanganku seperti kapal pecah. Bahkan kali ini banyak buket bunga yang rusak.
"Dimana uangnya?" tanya seorang pria dengan codet diwajahnya.
"Aku akan memberikan uang itu setelah aku bertemu Paman dan Tanteku."
"Ikut kami."
Sampai diluar mereka langsung masuk ke mobil. Aku hanya diam. Tidak mungkin kan aku akan satu mobil dengan mereka.
"Kenapa diam. Ayo masuk."
"Aku akan mengikuti kalian dengan mobilku. Bagaimana?"
"Kita lihat saja nanti."
"Biarkanlah. Nanti jika dia bohong kita kan bisa mencarinya lagi," kata orang yang bertubuh gempal.
"Benar juga."
Mendengar itu aku langsung masuk ke dalam mobilku. Perlahan tapi pasti, aku mengikuti mobil mereka. Kali ini aku hanya memikirkan Paman dan Tante. Bahkan aku lupa dengan keselamatanku sendiri.
💝 💝 💝
Sampai ditempat terpencil itu mereka turun. Bodohnya aku, kenapa aku tidak membawa teman. Aku ikut turun. Disana ada sebuah rumah yang cukup menyeramkan. Aku bisa saja ditipu mereka kali ini.
"Dimana Paman dan Tanteku."
"Silahkan masuk. Kami hanya mengantar sampai sini."
Aku menoleh kearah dua orang itu. "Apa kalian mencoba membodohiku?"
"Kamu bisa masuk dan cari tahu sendiri." Mereka kembali masuk ke mobil. "Tanyakan saja pada bos kami."
Aku membuka pintu disana kosong. Tidak ada orang atau apapun itu. Aku mendengar beberapa orang saling bercakap. Aku tahu mungkin mereka yang sudah menculik Paman dan Tante. Untung saja uang belum aku berikan pada mereka. Jika sudah aku pasti akan di bohongi lagi.
__ADS_1
"Selamat datang Alisha."
Aku kaget setengah mati dan langsung menoleh keasal suara.
"Ternyata kamu yang menjadi istri Aqil. Jika aku tahu itu kamu, aku tidak perlu repot-repot begini."
Gama. Dia orang yang pernah mencoba mengejarku. Namun selalu aku tolak. Kenapa dia bisa ada di sini.
"Kamu tahu. Aku lama tidak bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu."
"Dimana Paman dan Tanteku. Aku sudah bawa uangnya."
Gama mendekat kearahku. Sebisaku aku harus menghindar darinya. Tidak mungkin aku akan memberikan diriku dengan percuma.
"Simpan saja uang itu. Kita bisa melakukan hal yang lain."
"Dimana Paman dan Tanteku?"
"Jangan pikirkan mereka. Mereka aman.”
Gama hendak memegangku namun sebuah suara membuat Gama menoleh.
"Gama. Apa gadis bodoh itu ada di sini?" tanya Mei yang berlari masuk.
"Ada apa Mei?" tanya Gama.
"Mei?" aku semakin kaget melihat Mei disana.
"Wow. Kamu sudah menangkapnya. Kakak memang hebat," kata Mei yang langsung memeluk Gama.
"Kakak?"
Mei langsung mencengkeram wajahku. "Kamu kaget ya. Aku hanya memainkan drama dengan Paman dan Tantemu. Mereka tidak diculik."
Aku kaget. Bahkan aku juga merasakan terluka. Kenapa Paman dan Tante tega melakukan itu. Apa karena uang?
"Aku akan menemui Aqil dulu. Byebye." Mei mencium pipi Gama dan langsung pergi.
Aku masih sangat kaget sampai Gama menarik tanganku. Dia mendorongku duduk di sofa.
"Minum ini dan tenangkan dulu dirimu. Setelah itu kamu bisa pergi." Gama meletakan segelas air.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyaku sebelum Gama pergi.
"Kamu tahu Mei seperti apa. Dia adik yang selalu merepotkan kakaknya."
"Seorang Gama takluk pada adiknya?"
"Aku tidak takluk pada adikku. Aku hanya ingin membalas semua penolakanmu padaku.” Gama langsung pergi begitu saja.
Aku tahu dia pasti terluka dengan semua penolakanku. Padahal aku menolaknya dengan baik. Bagaimanapun. Aku tidak mungkin memberikan hatiku pada pria yang tidak kucintai. Cinta masa SMP yang membuat aku terjebak. Sial.
__ADS_1
💝 💝 💝
to be continued