
Pagi ini aku terbangun diruang depan. Aku tidur disofa tadi malam karna menunggu Aqil dan Mei pulang. Pesan dan telfonpun tidak ada dari Aqil.
"Kamu tidur disini?". tanya Aqil padaku saat dia baru masuk.
Aku mengangguk pelan dan masih sangat mengantuk. Badankupun terasa sakit semua.
"Kita ke kamar ya". kata Aqil pelan. Dia mencoba memapahku.
"Aku juga lelah, gendong". Mei mendorongku. Sedangkan Aqil dia tarik sampai memeluknya. Bahkan Aqil tidak menolak sedikitpun.
Aku kira setelah tahu semuanya dia akan berubah namun tetap saja cintanya hanya untuk Mei. Aku mencoba bangun dan kembali ke kamar.
Setelah mandi aku mengambil tasku untuk pergi ke toko bunga. Sudah lama aku tidak kesana. Giel mungkin kewalahan karna aku.
"Mau kemana?. Tidak ingin bersama denganku hari ini?". Aqil menghadangku di pintu.
"Hidupmu sudah indah dengan Mei. Aku minta, ceraikan aku".
Sangat berat rasanya untuk mengatakan ini namun apalah daya aku tidak ingin anakku lahir dan melihat Papanya lebih mencintai orang lain dari Mamanya sendiri.
"Kamu bercanda kan?". Aqil masuk ke kamarku dan mencoba memelukku.
"Tidak. Aku serius dengan apa yang aku katakan".
__ADS_1
"Sudah aku bilang kamu itu milikku". kali ini Aqil mengatakan dengan keras padaku.
"Aku bukan bonekamu, aku memiliki perasaan. Apa kau pernah memikirkanya".
"Kau sudah mulai berani ya, baru beberapa hari aku baik padamu". Aqil mendekat padaku. Kini aku terkunci tubuh tegapnya. "Benar apa yang dikatakan Mei, kamu dan Gama memiliki hubungan sepesial".
Benar apa yang kuduga. Mei, kembali berhasil menghasut Aqil.
"Jangan-jangan ini juga anaknya Gama". Aqil menekan perutku dengan keras.
Aku berteriak dan meminto tolong. Namun apa yang aku dapat. Mei tertawa senang dibelakang Aqil.
"Aku mohon lepaskan aku. Demi anak kita Aqil". kali ini aku benar-benar memohon. Perutku sudah sangat sakit.
Aku bahkan sudah sangat lelah untuk meronta. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi. Aku hanya meminta maaf pada anakku karna tidak mampu untuk menjaganya.
💝 💝 💝
Aku terbangun dengan baju rumah sakit. Mama menangis disampingku. Papa terlihat bingung disana.
"Ma, bagaimana anakku".
Bukan jawaban yang aku terima namun sebuah tangisan yang bertambah kuat. Aku menoleh kearah Papa. Papa hanya menggeleng.
__ADS_1
"Aku tahu jawabanya". perlahan aku mengatakanya. Tanpa terasa air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku memegang perutku dengan gemetar.
Apa yang aku impikan kini telah hilang. Hancur sudah semua harapan, dan semua ini karna orang yang aku cinta.
"Kamu yang sabar ya sayang, Mama tahu kamu sudah lelah. Mama yang memaksamu, hingga akhirnya ini terjadi". Mama memelukku. Aku hanya diam.
Bahkan tidak mampu rasanya untuk mengatakan sesuatu. Hampa. Itu yang aku rasakan saat ini.
Tidak lama Aqil masuk. Papa dan Mama meninggalkan kami. Aku masih tidak mempercayai semuanya. Dia, pria yang sangat aku cinta. Dia, pembunuh anakku.
"Maaf Al. Aku mohon maafkan aku". Aqil bersimpuh dihadapanku.
"Maaf." Aku memejamkan mata dan menahan sakit ini. "Kamu sudah mengambil semuanya dariku. Dan hanya maaf?. Kamu juga mengambil anakku". kali ini aku berteriak dengan tubuh yang masih sangat lelah.
"Aku tahu aku salah. Aku sudah dihasut oleh Mei". Aqil mendekat padaku. "Aku bodoh karna tidak mempercayaimu".
"Kau harusnya tahu. Kenapa kau bisa tidak mempercayai aku". aku menatap Aqil. "Karna kau tidak pernah mencintai aku".
"Kamu boleh melakukan apapun padaku. Tapi, aku hanya minta satu kesempatan padamu". Aqil menggenggam erat tanganku. "Aku akan membuat Mei merasakan apa yang kamu rasakan". Aqil menatap tulus padaku. "Bahkan lebih dari ini".
Aku melihat kesungguhan dimata Aqil. Aku tidak tahu harus apa. Anakku sudah tiada dan kini aku tida memiliki siapapun. Hatiku, kini harus terpaut dengan apa yang dinamakan cinta.
💝 💝 💝
__ADS_1
to be continued