
Kaget rasanya mendengar Mama Sarah masuk ke rumah sakit karena sebuah kecelakaan. Kenapa Aqil sampai tega melakukan hal ini.
"Sayang, ada apa?" tanya Zefan yang melihat aku sedang duduk dengan derai air mata.
Aku tidak menjawab dan terus mencoba mengusap air mata ini. Namun tetap saja keluar.
"Kamu sudah menelfon Mama Sarah?"
Aku mengangguk, "Mama Sarah kecelakaan, sekarang dia sedang koma. Baru saja, Vidi yang mengangkat telfonku."
"Kamu yang tenang. Sudah ada Vidi yang menjaga, untuk sementara waktu kamu jangan menghubungi Mama Sarah dulu."
Zefan menarikku mendekat padanya.
"Aku takut Aqil juga akan melakukan hal yang sama padamu." Aku memeluk Zefan. Kembali air mataku mengalir.
Aku membayangkan hal yang sangat mengerikan. Aku takut, Zefan akan meninggalkan aku dengan cepat. Sementara Aqil akan tertawa bahagia di sana.
"Kamu yang tenang, Aqil tidak akan melakukanya."
"Dia orang gila. Dia bisa melakukan apa saja."
Zefan meletakan telunjuknya ke bibirku, "Sudah. Jangan membahas hal itu lagi. Lebih baik sekarang kita tidur."
Aku mengikuti langkah kaki Zefan menuju ke tempat tidur. Setelah beberapa menit kamu tiduran. Aku masih saja belum merasakan kantuk.
"Aku belum mengantuk," kataku perlahan.
Zefan membalikkan badanya, dia menggenggam tanganku dengan erat. Lalu berkata, "Pejamkan saja matamu. Nanti kamu akan tidur dengan sendirinya."
💝💝💝
Aku dan Zefan menatap penuh tanya pada dokter yang baru saja memeriksaku. Hanya sebuah jawaban yang kami tunggu.
Dokter itu tersenyum, "Selamat, kalian akan menjadi orang tua."
Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter barusan. Apa aku benar hamil, aku hanya terdiam sembari menatap lurus ke depan.
"Sayang, kamu hamil." Zefan mencoba menyadarkan aku dari lamunan.
Aku hanya mampu menitikan air mata. Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang.
"Kalian harus menjaga bayi itu. Bagaimanapun ini kehamilan awal," kata dokter itu.
Setelah berbincang cukup lama akhirnya aku dan Zefan berpamitan. Kami keluar dari ruang periksa dengan hati yang penuh dengan kebahagiaan.
"Kamu mau apa?" tanya Zefan padaku.
Aku menggeleng, "Aku tidak mau apa-apa. Aku hanya merasa bahagia saja."
Bruk. Aku menabrak seseorang, Zefan membantuku agar aku tidak jatuh.
"Maaf," kataku pada wanita yang aku tabrak.
Wanita itu menoleh, wajahnya murung.
"Yesi," panggilku pelan.
"Kau kenapa ada di sini? apa kau juga akan cek kehamilan?" tanya Zefan pada Yesi.
__ADS_1
Yesi masih saja diam, tatapanya terlihat sedih. Lalu dia menoleh ke ruang periksa.
"Bukan urusan kalian aku di sini," kata Yesi yang langsung pergi.
Dia bahkan menabrakku saat melewati kami. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi mata Yesi memandang Zefan sebelum pergi.
"Ayo," kata Zefan padaku.
Aku mengangguk dan kita kembali berjalan. Zefan terus menerus mengungkapkan kebahagiaanya padaku.
"Fan, sebenarnya bisnis apa yang kamu jalankan dengan Yesi?" akhirnya aku menanyakan hal ini juga. Padahal aku sudah mencoba menahan agar tidak bertanya tentang hal ini.
Zefan masuk ke dalam mobil, aku juga masuk. Zefan terlihat berfikir saat aku bertanya tadi.
"Kalau memang rahasia, kamu bisa kok nggak ngomong sama aku."
Zefan memegang tanganku, "Kamu memang pengertian padaku."
💝💝💝
Kami sampai di rumah Mama sudah hampir satu jam yang lalu. Mama bahkan menyiapkan berbagai makanan karena tahu aku hamil.
"Al, kamu harus jaga kehamilan kamu ini."
Aku mengguk sembari menyuapkan makanan.
"Ma, biarkan Alisha makan dulu."
"Iya, kamu juga harus makan."
Kami makan dengan dipenuhi nasihat dari Mama. Mungkin jika aku masih ada orang tua, Mama kandungkupun akan melakukan hal yang sama padaku.
"Biar Mama yang buka."
Mama berjalan kearah pintu. Lalu tidak lama Mama kembali dengan sebuah buket bunga.
"Untuk kamu." Mama meletakanya di sampingku.
"Dari siapa, Ma?"
Mama mengedikkan bahu, "Kata si pengirim ada suratnya."
Aku mencari surat yang di maksud. Ternyata memang ada surat dan sebuah coklat di sana.
**Apa kabar kamu, sudah lama tidak bertemu. Ayo bertemu.
Mila**.
Aku menutup kembali surat itu.
"Siapa?" tanya Zefan.
"Mila, dia mengajakku bertemu."
"Di mana?"
"Entah, mungkin di cafe yang biasanya. Apa aku boleh pergi?"
"Ti ..."
__ADS_1
"Boleh, asal kamu jaga diri dan tidak terlalu lama," kata Mama.
Zefan yang awalnya tidak setuju kini hanya bisa mengangguk setuju. Walau terpaksa.
"Terima kasih, Ma."
"Sama-sama Sayang."
Aku dan Mama membersihkan meja makan sementara Zefan sudah kembali masuk ke kamar. Dia akan menyelesaikan pekerjaannya di ruang baca miliknya.
"Apa Zefan mengatakan sesuatu saat bersama dengan kamu tadi?" tanya Mama saat aku sedang mencuci piring.
"Tidak, Ma."
Mama tersenyum dan kembali melanjutkan membersihkan meja.
💝💝💝
Aku sudah siap untuk keluar. Sejak tadi Zefan hanya diam. Dia terlihat tidak suka aku akan pergi keluar.
"Fan, aku boleh keluar nggak?" aku duduk di samping Zefan yang sedang pura-pura menatap layar laptop.
"Tidak apa-apa. Mama kan sudah memberi ijin. Kamu keluar aja kalau mau." Nada yang sangat terlihat jika dia kesal.
Aku meletakan kembali tas, aku juga menghapus make-up tipisku.
"Kamu nggak jadi keluar?" tanya Zefan. Terlihat sekali jika dia senang aku tidak jadi keluar.
Aku menoleh dan tersenyum pada Zefan, "Aku kan nikah sama kamu bukan sama Mama. Jadi, aku harus nurut sama kamu."
Zefan meletakan ponselnya. Dia mendekat dan langsung memeluk diriku dari belakang. Mungkin dia khawatir aku pergi keluar sendiri dengan janin di dalam kandunganku.
"Apa kamu mau makan malam di luar nanti?" tanya Zefan padaku.
Aku menggeleng, "Bagaimana kalau kita pulang ke rumah saja. Di sini aku tidak enak dengan Mama, karena lebih banyak Mama yang melakukan pekerjaan rumah."
"Ok, kita bersiap dan nanti berpamitan pada Mama."
Aku merapikan beberapa barang dan baju. Setelah selesai kami turun dan menemui Mama yang sedang duduk di taman.
"Mama," Zefan langsung memeluk Mama, "Aku dan Alisha akan pulang dulu." tanpa basa basi Zefan mengatakanya.
Mama menoleh padaku, "Apa benar? kenapa?"
"Ma, aku ingin melakukan semuanya sendiri. Jika di sini aku hanya merepotkan Mama saja."
"Anak bodoh," Mama melepaskan pelukan Zefan dan mendekat padaku, "Apa Zefan yang mengatakan jika kau merepotkan?"
"Tidak, Ma. Aku juga nanti akan sering ke sini. Bagaimanapun aku dan Zefan sudah memiliki rumah."
"Baiklah jika itu mau kamu."
Mama memelukku, "Zefan. Jaga Alisha dan calon anakanya."
"Baik, Ma."
Setelah berpamitan kami langsung pulang dengan mobil. Beberapa kali Zefan mengajakku untuk makan di luar, aku menolak dan lebih ingin memasak sendiri di rumah.
💝💝💝
__ADS_1
to be continued