Bertahan

Bertahan
Bab 70 S 2


__ADS_3

Aku sedang menunggu Zefan di depan gedung apartemen Vidi. Aku mencoba terus di dalam keramaian. Tidak ada yang tahu kapan Aqil akan datang dan kembali mengancamku.


"Hei, kenapa melamun?"


Aku sadar saat melihat Zefan di depanku. Seperti biasa, dia membukakan pintu untukku.


"Maaf."


Zefan mengusap pelan kepalaku, "Tidak apa. Ayo masuk, sudah mendung."


Kami masuk ke dalam mobil. Aku masih bermain sendiri dengan pikiranku. Gerimis sudah mulai turun membuat suhu menjadi lebih sejuk.


"Bagaimana kabar Mama kamu?" tanya Zefan.


"Dia masih lemah dan menggunakan alat."


Kami kembali diam. Aku tidak mau membuka percakapan, takut mengatakan tentang Aqil yang menemuiku.


"Jangan terlalu sedih. Kamu bisa sering datang ke tempat Vidi."


Mendengar hal itu, aku tersenyum. Setidaknya aku akan memiliki alasan untuk keluar dari rumah.


"Fan, aku pengen liburan beberapa hari." Entah kenapa aku mengatakan hal itu.


Zefan menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Dia menatapku dengan sebuah mata bertanya-tanya.


"Aku hanya ingin. Kalau kamu nggak bisa, nggak apa-apa."


"Bukan gitu. Ini kamu yang minta atau anakku?"


Aku menggeleng bingung, "Aku nggak tahu."


"Aku akan pikirkan."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Zefan kembali menjalankan mobilnya perlahan. Untuk sesaat aku lupa tentang kehamilanku. Hanya karena masalah ini.


💝💝💝


"Aku sudah siapin sesuatu buat kamu di kamar," Zefan memegang tanganku, "maaf aku tidak ikut masuk."


"Kenapa? apa ada sesuatu di kantor?"


Zefan mencium keningku dan mengatakan, "Kamu sudah tahu ternyata."


"Aku hanya menebak."


"Kalau begitu aku pergi dulu."


Aku memeluk Zefan sekejap dan kembali harus melepaskanya. Ada rasa tidak rela ketika melihat Zefan kembali masuk ke dalam mobil. Ingin rasanya pergi kemanapun berdua.


Aku masuk ke dalam rumah. Bi Iyah menyambutku dengan mangkuk di tanganya.


"Non, saya sudah siapkan bubur kacang kedelai," kata Bi Iyah.


"Terima kasih, Bi." Aku mengambil mangkuk itu dari tangan Bi Iyah.


"Hati-hati panas."


"Aku akan hati-hati." Aku memberikan senyumanku, "Aku makan di balkon kamar saja Bi."

__ADS_1


Bi Iyah kembali masuk ke dapur. Sejak mendengar kehamilanku Bi Iyah selalu memberikan menu sehat. Aku merasa sangat di berhatikan.


Aku membuka pintu kamar dan .... Brak. Aku menjatuhkan mangkuk yang berisi bubur itu. Apa yang aku lihat seperti mimpi.


"Ada apa Non?" tanya Bi Iyah begitu mendengar suara mangkuk pecah.


"Tidak, Bi. Aku tidak apa-apa." Aku masih memandang hal yang membuat aku ingin menjerit.


"Apa perlu saya masuk?" Ternyata Bi Iyah masih berada di depan kamarku.


"Jangan masuk, Bi. Lebih baik, Bi Iyah turun saja. Aku bisa melakukan semuanya sendiri."


Aku melihat sebuah gaun, gaun yang sangat indah dengan motif bunga tulip. Namun, di sana ada sebuah hal yang mengerikan. Aku berjalan mendekat dan menatap nanar. Semoga bukan apa yang aku pikirkan.


Sebuah surat kecil. Aku mengambilnya perlahan, aku membaca kata demi kata. Hanya tiga kata, namun sangat mengerikan.


Selamat jalan Bayiku.


"Apa ini. Tidak mungkin jika Zefan melakukan hal ini," kataku lirih.


Aku duduk di tepi tempat tidur. Aku mendekap surat itu dan menatap kegaun dengan noda darah. Aku tidak tahu janin siapa yang di gugurkan. Namun ini masih sangat baru.


📩Aqil.


-Maaf aku mengotori hadiah untukmu.


Kali ini aku menjerit dengan keras. Kenapa semua ini terjadi padaku. Kenapa Aqil melakukan semua ini padaku.


Bi Iyah masuk ke dalam kamar karena mendengar jeritanku.


"Ini...."


Bi Iyah terlihat sangat kaget dengan apa yang dilihatnya. Ekspresi yang sama seperti saat aku masuk ke kamar pertama kali.


"Aku benar-benar tidak tahu hal ini, Bi." Aku mengatakan dengan linangan air mata.


Bi Iyah mendekat dan langsung mendekap tubuhku. Badanku masih gemetar dengan kejadian ini. Kali ini aku tidak mungkin menyembunyikan semuanya dari Zefan. Lambat laun dia juga akan tahu tentang Aqil yang sebenarnya.


💝💝💝


Tatapanku masih tertuju ke langit-langit kamar. Bi Iyah sedang membersihkan kamar utama.


Zefan masuk ke kamar tanpa permisi. Dia melihat aku yang masih terduduk lemas di atas tempat tidur.


Zefan memelukku, "Kau tidak apa?" tanya Zefan.


"Aku tidak apa."


Walau aku mengatakan tidak apa. Aku merasa sangat takut. Kali ini aku akan melaporkan Aqil ke polisi. Aku sudah lelah menjalani hidup yang penuh dengan teka teki.


"Apa kamu tahu siapa yang mengirimnya?"


"Tidak." Aku kembali memeluk Zefan, "Aku hanya ingin kita hidup bahagia."


"Aku tahu itu. Aku akan melaporkanya ke polisi." Zefan mengeluarkan ponselnya dan akan menelfon polisi.


Dengan tenang aku mengambil ponsel itu, "Zefan. Tidak perlu, mungkin ini hanya orang yang benci dengan kita dan hanya menggertak kita."


"Tidak mungkin, Al. Ini sudah sangat keterlaluan."


"Percaya sama aku. Kejadian ini tidak akan terulang lagi."


Akhirnya Zefan ternsenyum. Aku mengembalikan ponsel itu. Aku tidak mau Zefan terlibat dengan Aqil. Tidak ingin kehilangan, hanya itu alasanku.

__ADS_1


"Bi Iyah sudah selesai membersihkan kamar kita. Ayo kita kembali."


Aku menggeleng dengan cepat, "Tidak. Malam ini biarkan aku tidur di sini."


Zefan mengangguk dengan senyuman.


"Maaf sudah membuat kamu pulang buru-buru."


"Istriku ini. Aku sangat khawatir mendengar hal ini dari Bi Iyah."


"Aku tidak apa. Nanti malam mau makan apa?" aku tidak ingin Zefan membahas masalah ini lagi.


"Apa saja. Aku mau mandi dulu, setelah ini kita makan malam bersama."


"Baik."


Zefan keluar dari dalam kamar tamu itu. Bagaimanapun aku sudah membohongi suamiku. Jika Zefan tahu, apa dia akan memaafkan diriku ini. Aku terlalu bodoh dalam urusan ini. Sampai saat ini Aqil masih saja meneror ku, hanya karena cinta masa kecil kami.


💝💝💝


Tidak ada kata yang terucap saat makan malam ini. Bi Iyah juga ikut makan dengan kami seperti biasa.


"Bi, tolong nanti buatkan aku kopi ke ruanganku. Aku mau lembur di rumah."


Aku menuangkan air putih untuk Zefan yang sudah selesai makan.


"Kalau lelah, istirahat saja," kataku.


Zefan menerima gelas itu, "Aku tidak lelah jika untuk kamu dan untuk calon anak kita."


Zefan mengelus perutku perlahan, "Sayang. Papa kerja dulu ya." Aku tidak menyangka Zefan akan melakukan hal itu di depan orang lain.


"Jangan terlalu malam."


Zefan mengangguk dan kemudian pergi dari tempat makan. Kini hanya tinggal aku dan Bi Iyah.


"Tahu tidak, Non. Baru kali ini saya melihat Tuan Zefan melakukan hal ini." Bi Iyah mengatakanya dengan senyuman.


"Bi Iyah. Aku malu jadinya."


"Nggak usah malu Non. Seharusnya Non malah senang, Tuan perhatian dan sayang pada Non."


Aku mengangguk. Benar juga apa yang dikatakan Bi Iyah, aku harus bersyukur dengan adanya Zefan dalam hidupku.


"Terima kasih. Bi Iyah sudah membersihkan kamarku."


"Sudah tugas saya, Non. Sekarang, Non harus jaga diri."


"Iya, Bi."


Aku membantu Bi Iyah mengemas meja makan.


"Bi, aku ke kamar dulu. Mau istirahat."


Bi Iyah mengangguk, "Non. Nanti susunya bagaimana?"


"Bawakan saja ke kamarku. Sekali lagi terima kasih Bi."


"Sama-sama Non."


Sampai saat ini aku berharap Zefan tidak tahu apapun. Jika aku tidak mencegah Zefan lapir polisi, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi nantinya.


💝💝💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2