Bertahan

Bertahan
Bab 72 S 2


__ADS_3

Menunggu memanglah hal yang paling menyebalkan. Waktu satu menitpun terasa satu jam.


"Maaf sudah menunggu lama," kata Esa.


Esa langsung duduk di depanku. Aku sengaja meminta bertemu untuk perkembangan kasus yang aku laporkan.


"Bagaimana?" tanyaku pelan.


"Bolehkan saya memesan minum dulu."


Aku mengangguk. Benar juga, aku belum memesankan minuman karena tidak tahu selera Esa.


"Bu, maaf. Kasus ini akan sulit, karena Aqil adalah orang penting. Apa sebaiknya Ibu, mengatakan pada suami ibu?"


"Kenapa harus suamiku?"


"Karena hal ini juga menyangkut keluarga. Bukan hanya ibu."


"Benar juga."


"Semakin banyak yang melapor. Semakin sulit bagi Aqil untuk berlari."


Aku belum mengatakan apapun pada Vidi. Semalam dia tidak pulang dan pulang subuh tadi. Bahkan kami belum sempat saling menyapa.


"Bu, ibu harus punya pendukung. Setidaknya, jika ibu terluka. Ibu tidak akan sendiri."


"Aku akan pikirkan lagi. Untuk saat ini, aku ingin kamu benar-benar melakukan apa yang aku katakan."


Setelah kami membahas beberapa hal. Aku memilih untuk pergi. Aku takut, Esa akan terkena dampak dari masalah ini.


"Baiklah, Bu. Saya permisi."


Esa keluar dari restoran itu. Sementara aku masih diam terduduk. Esa bukan hanya detektif, dia juga mantan pengacara. Dia sudah menyiapkan pengacara yang handal untukku.


"Bagaimana? apa kau takut denganku?"


Aku langsung menoleh. Aqil, dia di sini? apa dia mendengar semuanya?


"Ternyata kamu sudah siap kehilangan semuanya." Aqil mengatakan hal itu.


Dia mengambil minumanku dan langsung pergi. Aku harus mengatakan semuanya pada Zefan. Harus, atau aku akan kehilangan segalanya.


💝💝💝


Suasana malam yang cukup sejuk. Aku dan Zefan sedang duduk di ruang baca. Beberapa kali aku melihat Zefan memandang kearah ponselnya.


"Ada yang ingin aku katakan," kataku kemudian.


Zefan menoleh. Dia memfokuskan pandanganya padaku.


"Katakan.”


"Asal kau tidak marah. Aku akan mengatakanya."


Zefan tersenyum, "Aku tidak akan marah padamu. Aku janji."


Sulit memang mengatakan semua ini. Pahit atau manis aku akan mengatakan semuanya. Setidaknya, aku tidak menanggung beban ini sendiri lagi.


"Sebenarnya ....."


Tidak ada yang aku lewatkan. Aku menceritakan segalanya. Beberapa kali Zefan merubah ekspresi wajahnya, namun tidak menyela perkataanku sedikitpun.


"Kenapa kau baru mengatakanya sekarang?" tanya Zefan dengan tatapan tajam.


Aku menunduk, "Aku tahu. Aku salah menyembunyikan semua ini dari kamu. Hanya ini yang aku bisa lakukan, aku tidak ingin kehilangan kamu."


Zefan memegang ke dua pundakku, "Jika Aqil adalah psikopat. Ini sangat bahaya."


Aku mengangguk tanpa bersuara.


Zefan tiba-tiba menarikku ke dalam pelukanya. Aku merasakan jika Zefan memakaikan sesuatu padaku.


"Ini apa?" aku memegang leherku.


"Ini hadiah karena kamu sudah jujur padaku."


Aku mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti. Seakan-akan Zefan sudah tahu jika aku akan mengatakan hal ini padanya.

__ADS_1


"Tidak usah bingung. Kamu istriku, sudah seharusnya aku melindungimu."


"Maksud kamu?"


Zefan menganggukkan kepalanya dengan mantap, "Aku sudah tahu semuanya sebelum kamu tahu."


"Apa?"


"Ya, aku sudah melaporkan hal ini lebih dari dua bulan. Walau masih proses, kasus Aqil akan segera selesai. Dia akan di penjara."


Tidak aku sangka. Zefan begitu sigap dalam hal ini. Niatku, melindungi Zefan dan ternyata aku yang dilindungi.


"Tidak usah merasa bersalah."


"Terima kasih untuk semuanya."


Aku memeluk Zefan dengan tangisan.


"Sudahlah." Zefan menepuk pelan punggungku.


Setelah itu, aku masuk ke dalam kamar. Aku melihat diriku di depan cermin. Hari ini, aku merasakan jika Zefan tidak hanya mencintaiku. Dia menjagaku dengan segenap jiwa dan raga. Terima kasih, Allah sudah mengirimkan pria yang baik dalam hidupku.


"Aku tahu, semuanya sudah aku kirim lewat email. Oh ya, malam ini jangan menggangguku."


Zefan langsung menutup telfonya begitu masuk ke dalam kamar.


"Siapa?" tanyaku.


"Pengacaraku."


Aku mendekat pada Zefan.


"Jangan menggodaku," kata Zefan kemudian.


"Aku tidak sedang menggodamu, aku ingin mengajak kamu makan malam di luar."


Zefan terlihat berfikir.


"Bagaimana kalau ke tempat Mama. Sudah lama kita nggak ke sana."


Kami bersiap-siap untuk pergi. Zefan yang sudah selesai turun terlebih dulu. Aku mengecek kembali barang yang aku bawa.


"Ayo, Fan." Aku langsung menggandeng tangan Zefan.


"Bi. Kita keluar ya," teriak Zefan.


"Bi Iyah sedang pulang. Mungkin satu minggu."


Zefan menoleh, "Kenapa aku tidak tahu?"


"Kamu kan tadi di kantor sampai sore."


"Benar juga. Aku sampai lupa."


Kami naik mobil dengan Zefan yang membawa mobil. Sebenarnya aku sudah menawarkan diri untuk menyetir. Hanya karena alasan janinku, Zefan tidak membolehkanya.


💝💝💝


Sampai di tempat Mama. Kami melihat jika rumah Mama sedang ada tamu. Tidak biasanya Mama menerima tamu malam-malam seperti ini.


"Malam, Ma."


Aku dan Zefan membuka pintu. Kami melihat Yesi di sana, pembicaraan mereka juga terhenti.


"Kalian kok datang malam-malam seperti ini?”


Mama menyambut kami. Aku memberikan martabak manis yang baru saja aku beli.


"Alisha ingin jalan-jalan. Karena sudah malam aku membawanya ke sini."


"Seharusnya kamu jaga calon bayi kamu. Kasihan kalau malam-malam keluyuran."


"Sudahlah, Ma. Mama sedang ada tamu?" tanya Zefan.


Mama mengajakku duduk di ruang tamu.


"Tadi Yesi datang sama suaminya."

__ADS_1


"Biar aku saja yang menyiapkanya, Ma."


Aku kembali mengambil martabak itu. Aku akan memindahkanya ke piring dan bisa kamu makan bersama.


Aku membawa martabak itu ke dapur. Setelah memindahkanya ke piring panjang aku akan kembali ke ruang tamu.


Hap, sebuah tangan menahanku. Aku menoleh dan melihat Aqil di belakangku.


"Lepaskan aku." Aku mencoba menahan suaraku agar tidak terdengar sampai ke ruang tamu.


Aqil menyeringai, "Kali ini aku tidak akan melepaskanmu."


Aqil mencoba menarikku, tenaganya sangat besar. Sekuat tenaga aku mencoba menahan tubuhku agar tidak mengikuti Aqil.


"Mau di bawa kemana istriku?"


Aqil berhenti menarikku dan menatap Zefan yang sudah di sampingku. Aqil tidak mengatakan apapun, namun genggaman tanganya terlepas.


Melihat kelengahan Aqil. Aku memilih untuk ke samping Zefan. Aku memegang tangan Zefan dengan erat.


"Kenapa kalian di sini. Al, ayo bawa makananya ke depan."


"Baik, Ma."


Aqil melewati kami namun dia membisikan sesuatu padaku, "Kali ini kamu beruntung."


Setelah Mama dan Aqil pergi, Zefan mengusap kepalaku.


"Tenang. Ada aku di sini."


Aku mengangguk. Kami keluar, aku meletakan makanan ke atas meja. Tatapan Aqil masih tertuju padaku.


"Sayang, duduk sini." Zefan menggeser tempat duduknya untukku.


Dengan senang hati aku duduk di samping Zefan. Raut wajah Yesi dan Aqil sama-sama menyiratkan ketidak senangan.


"Ada acara apa kalian ke sini?" tanya Zefan pada Yesi dan Aqil.


"Kami hanya ingin mampir."


"Zefan. Jangan gitu dong," kata Mama.


Ponsel Aqil tiba-tiba saja berdering. Memecah kesunyian yang sedang menyelimuti kami.


"Tante, saya permisi dulu."


Aqil keluar untuk mengangkat telfon itu. Sementara kami kembali berbincang. Beberapa kali Zefan menanyakan hal yang sensitif pada Yesi. Tentang hubungan yang dijalani Yesi dan Aqil.


Tanpa bertanyapun, Zefan seharusnya sudah tahu apa yang terjadi dengan Aqil dan Yesi.


"Yesi. Kita harus pergi," kata Aqil yang tiba-tiba masuk.


"Kenapa mau langsung pulang?" tanya Mama.


"Maaf tante, mungkin lain kali kami akan datang lagi."


"Tidak datang juga tidak apa-apa," celetuk Zefan.


"Zefan." Mama melotot pada Zefan.


"Kita permisi dulu tante."


Mama mengantar Yesi dan Aqil keluar. Malam ini aku dan Zefan memilih menginap. Di rumah juga hanya kami berdua karena Bi Iyah pulang ke rumahnya.


"Al. Jaga calon bayi kamu, jika Zefan terlalu keras padamu. Katakan saja pada Mama."


"Iya, Ma."


Mama terlihat gelisah, "Al. Apa boleh Mama bicara berdua dengan Zefan?" tanya Mama.


"Tentu Ma. Aku juga akan istirahat."


Aku masuk ke dalam kamar. Membiarkan Mama dan Zefan berdua.


💝💝💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2