Bertahan

Bertahan
Part 14


__ADS_3

Masih seperti mimpi rasanya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Paman Tejo. Apa aku harus menanyakan sendiri pada Aqil. Semalam, aku bahkan tidak bisa memejamkan mataku.


"Sejak kemarin kau hanya melamun. Ada apa?" tanya Aqil saat melihat aku di depan kaca.


"Tidak ada apa-apa. Sudah mau berangka?" Aku melihat Aqil sudah rapi dengan pakaianya.


"Kau mau ikut?"


Aku menggelengkan kepala. "Aku sudah ada janji dengan seseorang."


"Kabari aku nanti." Aqil langsung keluar menuju kantor.


Aku melihat jam. Sudah waktunya aku bertemu dengan Paman Tejo. Aku harus ke makam orangtuaku. Untuk saat ini aku tidak ingin Aqil tahu dulu. Lebih baik, aku simpan dulu.


"Nia. Tolong panggilkan supir kesini."


Sejak kemarin Nia hanya menemaniku saja. Tidak mengurus urusan Aqil sedikitpun. Dia terlihat sedang mengawasiku. Mungkin Aqil yang menyuruhnya.


"Semua supir tidak ada ditempat. Mereka sedang menjemput tamu kantor."


"Bagaimana kamu saja yang menyetir. Kamu bisakan?" tanyaku pada Nia.


Nia terlihat ragu lalu menjawab, "Bi..bisa Non."


"Kalau begitu aku siap-siap dulu."


Aku berganti pakaian dan mengambil ponselku. Aku tidak ingin Aqil curiga padaku yang tidak-tidak. Cepat atau lambat dia juga akan tahu semuanya.


💝 💝 💝


"Sebelah mana makamnya?" tanyaku pada Paman begitu sampai di tempat pemakaman.


"Kamu ke kiri saja. Nisanya berwarna hijau," kata Paman Tejo.


"Apa paman tidak ikut?"


Aku hanya mendapat gelengan dari Paman Tejo. Nia juga hanya diam. Paman terlihat menghindar saat aku ajak. Jika memang Mamaku adalah Kakaknya, kenapa paman Tejo terlihat enggan.


"Kenapa melamun Al?" tanya Paman Tejo.


Aku menggeleng, "Nia, kamu antar paman dulu. Jemput aku nanti."


"Baik Non," kata Nia.


"Panggil Alisha," kataku.


Nia kembali dengan senyumanya. "Ok. Alisha."


Aku masuk ke area pemakaman. Namun, yang aku lihat di luar dugaan. Aku melihat Aqil keluar dari pintu lain, dia seperti baru mengunjungi seseorang.


"Mungkin ada kenalanya atau apapun itu." Aku mencoba menepis rasa tidak enak di dalam hatiku.

__ADS_1


Aku kembali berjalan. Akhirnya aku menemukan makam ayah dan ibuku. Aku merasa senang namun juga sedih. Kenapa aku baru tahu semuanya sekarang.


"Assalamu'alaikum Pak, Bu." Aku duduk diantara mereka. "Maaf aku baru kesini, Aku baru tahu semuanya."


Aku bercerita semuanya disana. Tanpa sengaja, Aku juga melihat bunga yang masih segar. Seperti baru ada yang mengunjungi. Apa jangan-jangan Aqil ke sini? untuk apa? apa dia tahu orang tuaku?


"Alisha.”


Aku menoleh dan melihat Vidi disana. Dia tersenyum seperti biasanya. Dia juga membawa buket bunga di tangannya. Kebetulan sekali aku bertemu dengannya di sini.


"Kenapa...”


"Ini makam Kakakku. Kamu kenapa dimakam kakakku?" tanya Vidi.


"Kakak?"


"Iya. Dulu Kakakku kecelakaan sampai meninggal. Bahkan, sampai saat ini aku tidak tahu anak dari Kakakku ada dimana. Banyak yang bilang jika ponakanku itu di culik."


Anak. Apa itu aku. Apa Vidi adalah Pamanku. Banyak pertanyaan yang hadi didalam lubuk hatiku. Tapi, jika aku adalah anak itu, kenapa aku di culik?


"Aku biasanya memanggilnya Lili."


Lili. Dulu memang ada yang sering memanggilku Lili. Tapi, aku tidak ingat dengan jelas. Kepalaku terasa sakit kali ini.


"Alisha."


💝 💝 💝


Vidi. Dia Vidi, kenapa dia ada disana dan memanggil anak itu Lili. Vidi masih sangat muda. Apa yang sebenarnya terjadi.


"Ayo kita berangkat," kata seorang perempuan berparas cantik.


Jika memang anak perempuan itu adalah aku. Kenapa tidak ada Ayah, hanya ada Mamanya saja. Anak perempuan itu berangkat dengan keluarganya. Mereka menyanyi dengan senangnya. Lalu, Brak.


"Tidaaak." Aku bangun dan berteriak.


"Alisha. Kamu sudah sadar?" tanya Vidi yang langsung mendekatiku.


Nafasku tergesa. Semuanya terlihat nyata. Aku melihat Vidi begitu khawatir sekarang.


"Apa kamu menyembunyikan semua ini?" tanyaku pada Vidi yang ditanggapi dengan senyuman.


"Kamu ngomong apa. Nggak jelas tahu." Vidi masih mencoba menyembunyikanya.


"Jangan bohong. Kamu sebenarnya siapa?" tanyaku lagi.


"Kamu pulihin dulu badan kamu," kata Vidi. Dia menyodorkan bubur dan obat untukku.


Brak. Pintu kamar itu terbuka. Aqil terlihat sangat marah kali ini.


"Aku mencarimu seharian. Dan kau malah asik dengan pria lain." Aqil langsung menyeretku dari kasur itu.

__ADS_1


"Aqil. Ini sakit." Aku mencoba melepaskan pergelangan tanganku yang cukup sakit.


"Oooh, kamu suami ponakankanku," kata Vidi dengan santainya.


"Jangan harap aku percaya dengan sandiwaramu," kata Aqil dan langsung membawaku keluar dari rumah Vidi.


"Aqil aku bisa jelasin semuanya. Lepas dulu."


"Jangan harap."


Kami masuk ke mobil untuk menuju kerumah. Bukan, ini bukan jalan kerumah. Kali ini Aqil akan membawaku ke mana.


"Kita mau kemana?" tanyaku pada Aqil.


"Terserah aku. Kamu hanya perlu diam dan ikuti."


Wajah Aqil terlihat sangat tidak senang. Dia bahkan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aku tidak merasakan takut, pikiranku masih tertinggal dalam ingatan mimpi.


💝 💝 💝


Kami sampai disebuah vila. Aqil membawaku masuk. Tidak ada orang satupun yang terlihat. Apa Aqil akan meninggalkanku disini.


"Kamu bisa jelaskan semuanya nanti." Aqil mengambil sebuah tas dari dalam mobil.


"Kamu ingin aku tinggal disini?" tanyaku pada Aqil.


"Ini untuk kebaikan kita."


"Bukan. Ini demi hubungan kamu dengan Mei kan?" kataku dengan hati yang campur aduk.


"Ini bukan urusan kamu. Kamu hanya harus mengikuti apa yang aku mau. Semua ini untuk kebaikan kamu."


"Kamu hanya ingin mengurungku dan membiarkan aku kesepian."


Seakan-akan Aqil ingin aku di sini dan tidak tahu dunia luar.


"Kata siapa kamu sendiri?"


Aku kembali menoleh pada Aqil. Apa yang dia maksud aku tidak sendiri. Jelas-jelas disini tidak ada siapapun. Aqil langsung memelukku dari belakang.


"Bodoh. Aku akan disini bersamamu," kata Aqil. Aku langsung tersenyum mendengar hal itu. Aku kira dia membenciku dan akan meninggalkan aku disini.


Tunggu. Kenapa dia langsung bersikap baik seperti ini. Jelas-jelas tadi dia marah padaku.


"Aku akan masak untuk makan. Kamu bisa membersihkan badanmu dulu."


"Ok. Aku akan kelantai atas" Aqil membawa koper itu dan pergi ke lantai atas.


Aku bahkan baru tahu jika Aqil memiliki vila didaerah ini. Sangat asri dengan banyak bunga yang sedang bermekaran. Bahkan semua kebutuhan sudah di sediakan. Aqil benar-benar mempersiapkan segalanya.


💝 💝 💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2