Bertahan

Bertahan
Part 42 S 2


__ADS_3

Malam ini aku dan Zefan akan pergi ketempat Aqil dan Yesi. Aku kira sebuah acara pernikahan taunya acara untuk pembukaan perusahaan mereka. Undangan yang aku terima salah tanggal.


"Kau dapat informasi dari mana?" tanyaku pada Zefan saat kami di dalam mobil.


"Kata Aqil. Dia memang sengaja mengundur acara pernikahanya. Katanya ada hal yang harus diurus lebih dahulu." Zefan menjelaskanya padaku.


"Kau sekarang dekat dengan Aqil?" tanyaku pada Zefan.


"Kita hanya rekan bisnis." Zefan memegang tanganku erat.


"Aku tahu itu. Mama katanya mau ikut?" tanyaku pada Zefan.


"Tidak jadi, ada kerabat datang."


Setelah percakapan itu kami hanya diam di dalam mobil sampai di tempat acara. Sudah banyak yang datang. Zefan juga kenal beberapa orang dari mereka.


"Ini cewekmu. Sangat cantik," kata seorang pria dengan tubuh gempal.


"Dia calon istriku. Bukan pacar." Zefan menanggapi perkataan mereka dengan senyuman.


"Apa aku boleh meminjamnya satu jam?" tanyanya lagi.


Kali ini wajah Zefan berubah. Dia tidak suka dengan candaan itu. "Tidak akan pernah. Walau kau membayarnya dengan semua uangmu, aku tidak akan pernah melepaskan tanganya." Mata Zefan berubah berapi-api.


"Aku hanya bercanda," kata pria gempal itu pada Zefan.


Aku menggenggan tangan Zefan dan tersenyum padanya. Perlahan Zefan tidak marah lagi.


"Kita permisi dulu," kataku pada semua kenalan Zefan.


Aku dan Zefan akhirnya berada di taman samping vila milik Yesi. Pemandanganya sangat indah apa lagi bintang yang bertaburan di langit, mereka seperti saling menyapa dengan kedipan cahayanya.


"Kau benar mencintaiku?" tanya Zefan padaku.


Aku menoleh padanya, dia tidak memandangku tapi pada langit dan para bintang.


"Kau bertanya padaku atau pada para bintang?" tanyaku padanya.


"Padamu. Kamu lebih cantik dari pada bintang yang ada di atas sana." Zefan mengajakku berdansa di bawah bintang dan bulan.

__ADS_1


"Kau tidak malu denganku? Aku seorang janda." Aku menanyakan hal itu saat kami mulai berdansa.


"Aku tidak pedulu dengan janda atau bukan. Aku nyaman sama kamu."


Kami melewati waktu dengan saling berbagi kasih. Sampai sebuah suara membuat aku dan Zefan menghentikan dansa kami.


"Acara sudah mulai. Kalian harus masuk, perintah dari Tuan Aqil." pelayan itu membungkuk dan langsung pergi.


"Ayo masuk." Zefan menggandeng tanganku.


Kami masuk. Semua orang sudah berkumpul untuk pembukaan. Kami mendengarkan semua sampai selesai. Pada saatnya Aqil memberikan sambutan.


"Bagiku semua ini tidak akan terjadi jika tidak ada wanita yang selalu menginspirasiku." Yesi terlihat bahagia saat Aqil mengatakanya.


"Siapa wanita itu. Kami ingin tahu," kata seseorang yang berada di dekat Aqil.


"Dia wanita yang selalu aku kejar. Aku mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Namun dia memilih hati yang lain." Aqil menjeda kata-katanya "Alisha, aku benar-benar mencintaimu."


Tiba-tiba saja lampu sorot itu mengenaiku. Semua orang menatapku. Aku diam, entah harus bereaksi seperti apa. Zefan terus memegang tanganku.


Aqil mendekat padaku. Dia menatap aku dengan tatapan tajam. "Maukah kau berdansa denganku. Untuk yang terakhir?" Aqil mengulurkan tanganya padaku.


"Silahkan." Zefan memberikan tanganku pada Aqil. Aqil menyambutnya dengan senyuman.


Alunan musik langsung mengalun begitu saja. Seperti semuanya sudah direncanakan dengan matang. Perlahan aku dan Aqil mulai berdansa.


"Kau gila? kenapa kau melakukan hal ini padaku?" tanyaku pada Aqil.


"Aku hanya ingin kamu tahu, aku benar-benar mencintaimu." Aqil mencoba menekan diriku agar lebih dekat denganya.


"Jangan berharap aku kembali padamu." aku mendorong Aqil dan langsung pergi dari acara itu.


Aku mencari Zefan di manapun tapi tidak ada. Di mana Zefan, apa dia meninggalkan aku di sjni. Beberapa kali aku mencoba menelfonya namun tidak Zefan angkat. Apa aku salah, dia yang memberikan aku pada Aqil.


"Kau mencari Zefan?"


Aku melihat Yesi datang. Dia memberikan sebuah alamat padaku.


"Dia menitipkan kertas itu padaku." Yesi tersenyum padaku.

__ADS_1


"Trimakasih," kataku pada Yesi.


"Sama-sama. Semoga beruntung dengan cintamu," kata Yesi kemudian.


Aku hanya tersenyum dan langsung menuju ketempat yang berada di alamat itu. Aku tidak ingin membuat Zefan kembali terluka karna Aqil.


💝💝💝


Sampai di alamat yang aku tuju aku hanya melihat sebuah tanah kosong tanpa bangunan. Kenapa aku tidak berfikir dulu saat pergi ke sini. Ini pasti ulah Yesi.


Aku menoleh saat mendengar langkah kaki seseorang. Aku melihat tiga orang dengan tato di beberapa bagian lengan mereka.


"Ternyata kiriman Yesi sangat cantik."


Apa maksudnya kiriman Yesi. Apa Yesi memberikan aku pada preman ini.


"Tapi dia udah nggak perawan bos." Seseorang dengan tato tengkorak dilenganya mencoba memberi tahu.


"Tidak apa-apa, yang penting nggak usah bayar. Gratis," kata yang satunya.


"Kalian di suruh Yesi?" tanyaku.


"Tidak usah banyak bicara. Kamu hanya perlu melayani kita, setelah itu kamu bisa pergi," kata orang yang dianggap bos diantara mereka.


"Maaf, aku mengecewakan kalian." Tidak berselang lama beberapa polisi datang.


Aku memang sudah menyiapkanya, tidak lucu rasanya jika aku harus mengalami kejadian yang sama dua kali. Aku tahu Zefan belum pergi karna masih melihat mobilnya di parkiran.


"Kau tidak apa?" teriak Zefan saat melihat aku dengan beberapa polisi di sana.


"Aku tidak apa. Sekarang kita bisa pulang, ayo." aku menggandeng tangan Zefan masuk ke mobil.


"Kenapa kau mengikuti permainan Yesi. Kau tahu dia jahatkan padamu." Zefan bertanya namun dengan nada keras. Aku tahu dia khawatir padaku.


"Aku hanya ingin memberikan dia pelajaran. Maaf." aku mencoba menjelaskan pada Zefan.


"Sekarang kau harus menjauh dari Aqil dan Yesi. Aku tidak mau kamu kenapa-napa karna mereka." Zefan memegang tanganku dan menciumnya.


💝💝💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2