Bertahan

Bertahan
Part 9


__ADS_3

Hari ini aku sengaja membawakan makan siang untuk Aqil. Tidak ada yang sepesial memang. Aku hanya ingin memberikan kejutan padanya.


Nia tidak mengantarkan aku keluar. Dia terlihat masih lemas sejak kejadian kemarin. Jika dibilang penasaran aku pasti penasaran. Tapi, lebih baik aku pendam rasa ingin tahuku.


"Hati-hati di jalan, Non."


Aku mengangguk, "Iya. Jika ada apa-apa. Kabari aku secepatnya."


Nia memang terlihat berbeda sekarang. Dia memperlakukan aku menjadi istri Aqil. Tidak seperti awal kita bertemu.


💝💝💝


Sampai di kantor. Aku menaiki tangga karna lift sedang dalam perbaikan. Beberapa karyawan menyapaku. Mungkin mereka sudah tahu jika aku adalah istri Aqil yang sebenarnya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku begitu aku membuka pintu.


Ingin berteriak sekeras-kerasnya saat ini. Hancur. Rasa percayaku dan hatiku hancur. Tidak aku sangka jika aku kembali harus di bohongi.


"Al. Dengerin dulu penjelasan aku."


Aqil menghampiriku sambil membenarkan kemejanya. Aku menjatuhkan tempat makan itu. Aku melihat Mei dengan wajah penuh kemenangan.


"Aku pulang." Aku langsung berbalik arah. Beberapa kali aku mendengar Aqil memanggilku. Aku mencoba tidak mendengarnya.


Apa yang aku lihat bukanlah hal yang seharusnya aku lihat. Mungkin jika aku tidak kesini aku tidak akan tahu kebenaran yang sebenarnya. Takdir memang sulit ditebak, kemarin aku bahagia. Sekarang aku harus terluka.


💝 💝 💝


Aku memandang keluar kamarku. Merenungi apa yang sudah terjadi. Aqil suamiku, tidak seharusnya aku menyerah begitu saja. Apa lagi, aku harus memberikan pada Mei dengan percuma.


Layar ponselku hidup. Ternyata Giel yang menelfonku.


"*Iya Giel. Ada apa?"


"Mbak. Orang yang kesini pakai masker balik lagi*." Suara Giel terdengar aneh.


"*Cerita pelan Giel."


"Tidak perlu pelan. Bagaimana pelajaran hari ini. Aku bisa melakukan lebih dari ini lho. Mau*?"


Aku tahu ini suara Mei. Apa yang dia lakukan di tokoku. Setidaknya dia takut bunga dan tidak menyakiti Giel.

__ADS_1


"*Kenapa diam. Kamu benar sudah kalah kali ini. Ini baru permulaan."


"Sepertinya kamu salah. Bahkan aku belum mulai*." Aku mencoba mengatakanya dengan tenang.


"Maaf mbak. Orangnya langsung pergi gitu aja."


Mendengar perkataan Giel aku tersenyum. Aku akan meminta penjelasan Aqil nanti. Aku akan mencari jalan agar aku dan Aqil tidak bertengkar. Lebih baik aku turun untuk menyambutnya pulang.


"Nia. Apa sebentar lagi Aqil akan pulang?" tanyaku.


"Maaf Non. Tuan akan pulang terlambat malam ini. Tiba-tiba saja ada rapat mendadak," kata Nia. Kali ini senyumanya ikut mengembang.


"Baiklah. Apa Aqil yang menyuruhmu mengatakannya?"


"Ya, Tuan Aqil yang memintanya."


"Kalau begitu. Katakan pada Aqil. Aku ingin dia kembali secepatnya. Tidak ada kata telat."


Lebih baik aku menonton acara tv saja. Mungkin akan membuat aku merasa lebih baik. Ternyata dugaanku salah, semuanya hanya pemberitaan pembunuhan.


"Kenapa akhir-akhir ini terjadi pembunuhan. Bahkan tidak ada yang tahu penjelasan selanjutnya." Kali ini aku merasakan gelisah.


Jika seperti ini terus. Aku akan merasa sangat khawatir. Aqil selalu pulang malam, bisa saja di jalan terjadi sesuatu padanya.


💝 💝 💝


Baru kali ini dia memanggilku sayang. Sebenarnya siapa yang sedang memainkan trik Aqil atau Mei.


"Menurutmu?" aku balik bertanya.


"Aku tahu kamu salah paham dengan apa yang kamu lihat tadi."


"Lalu?"


"Dia datang tiba-tiba aja."


Aku mengernyitkan dahi mendengar perkataan Aqil. Aqil terlihat gelagapan.


"Dia sengaja menumpahkan kopi ke bajuku lalu..."


Aku mendengarkan semua perkataan Aqil. Sebenarnya masuk akal namun aku tetap merasa aneh. Apa mereka memang berniat memanfaatkan aku untuk mendapatkan perusahaan Papa Adrik. Apa motif sebenarnya, bukankah semua warisan itu juga akhirnya untuk Aqil.

__ADS_1


"Sebenarnya aku merasa gelisah karena kamu pulang malam," kataku.


"Kenapa?"


"Banyak terjadi pembunuhan akhir-akhir ini. Aku takut terjadi apa-apa dengan kamu."


"Tenang saja. Aku punya banyak pengawal."


"Kalau begitu kamu bisa mandi dan istirahat. Aku sudah menyiapkan airnya."


Aku mengambil tas yang dari tadi dibawa Aqil. Memang sudah satu minggu ini Nia hanya datang waktu sore. Dia juga terlihat kusut.


"Kamu nggak marah lagi?" tanya Aqil.


"Siapa bilang aku marah."


Aqil langsung memelukku dan mencium pipiku.


"Mandi dulu aja. Aku mau beresin baju kamu."


"Ok."


Kenapa sejak kemarin Aqil selalu saja berubah-ubah. Dia begitu baik dan seperti suami idaman semua perempuan. Aku hanya mampu menjalaninya saja. Yang jelas aku akan mempertahankan pernikahan ini.


Aku mengambil buku dan mulai membacanya. Tubuhku rasanya lelah sekali hari ini. Bela-belain ke kantor nganter makanan malah disuguhi pemandangan tidak enak.


"Mau makan?" tanyaku pada Aqil saat melihat dia keluar dari kamar mandi.


"Tidak. Aku hanya mau istirahat."


"Baik." Aku meletakan bukuku dan beranjak dari kasur.


"Kamu mau kemana?" tanya Aqil.


"Aku mau keruang baca. Kamu kan mau istirahat."


"Aku ingin sama kamu malam ini," kata Aqil dengan kerlingan matanya.


Aku hanya mengangguk pelan dengan wajah yang bersemu merah. Apa yang membuat aku seperti ini.


💝 💝 💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2