Bertahan

Bertahan
Bab 66 S 2


__ADS_3

Sudah satu minggu ini sikap Zefan sama saja. Tidak ada canda gurau lagi dalam hubungan ini.


"Fan, aku nanti mau ketemu Mama Sarah. Apa boleh?" tanyaku.


Kami memang sedang sarapan tapi mata Zefan masih saja fokus pada ponselnya. Alasanya karena ada bisnis penting, hanya itu.


"Terserah kamu saja."


Setelah mengatakanya, Zefan kembal meninggalkan aku. Aku hanya menghela nafas panjang, bagaimana aku harus menjelasakan semuanya pada Zefan. Dia sudah termakan omongan Aqil.


"Non, kenapa melamun? Tuan Zefan marah lagi?" tanya Bi Iyah.


Aku menggeleng, "Tidak. Bi aku pergi dulu ya."


"Hati-hati di jalan, Non."


"Baik, Bi."


Aku mengambil tas dan ponselku. Untungnya aku sudah memesan taxsi online. Kali ini aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, dan apa hubunganku dengan Aqil yang sebenarnya.


💝💝💝


Sampai di taman kota aku mencari sebuah cafe yang dimaksud oleh Mama Sarah. Aku mencoba mencarinya dan setelah melewati beberapa toko akhirnya aku menemukan cafe itu. Aku masuk dan melihat Mama Sarah melambaikan tanganya padaku.


"Bagaimana kabar kamu?" tanya Mama Sarah dengan seulas senyum.


Aku duduk dan meletakan tasku di samping tempat duduk.


"Aku baik, Ma. Bagaimana dengan Mama?"


"Tentu saja baik. Kau melihatnya bukan."


Setelah Mama memesan dua gelas minum tanpa basa-basi aku menanyakan tentang Aqil.


"Ma, katakan padaku semuanya. Atau aku akan kehilangan semuanya."


"Tenang dulu, Sayang."


"Aku tidak bisa tenang, Bu." Aku hampir menangis jika mengingat kembali tentang hubunganku dengan Zefan.


"Sayang, ..."


"Aku mohon katakan semuanya."


"Baiklah," Mama Sarah membenarkan posisi duduknya, "Sebenarnya yang memisahkan kita adalah Aqil. Aqil hanya ingin wanita yang dicintainya sama dengan dirinya."


Aku menatap wajah Mama. Maksudnya Aqil ingin aku yatim piatu sama dengan dirinya.


"Ya, setelah lima belas tahun berpisah. Aqil menemuiku, dia ingin aku meninggalkan kamu atau dia akan membunuh kamu."


"Lalu, bagaimana dengan Gama dan apa yang dikatakan Vidi padaku. Aku tidak mengerti semua ini," kataku dengan hati yang putus asa.


"Gama? anak itu hanya alat untuk Aqil. Aqil, sangat ingin menjadi pahlawan untuk kamu."


"Jadi, itu alasan dia menyuruh Gama mendekat padaku. Dia juga mengatakan hal bohong tentang kematian orang tuaku karena Gama."


Mama Sarah hanya mengangguk.


"Lalu, kenapa Vidi juga mengarang cerita untukku?" tanyaku kemudian.


"Kau tahu, Vidi juga mencoba melindungimu. Hanya itu caranya, untuk tante dan om kamu. Mereka suruhan Aqil juga."


"Baiklah, aku mulai mengerti. Satu hal lagi, apa maksud Aqil terus mencoba mendekat padaku dan menghancurkan aku?"


"Dia pembunuh yang memiliki cinta. Dia mencintaimu, namun dia tidak ingin ada yang mendekat padamu. Kamu akan tahu apa yang terjadi pada orang yang memilikimu, ketika yang mencintaimu adalah pembunuh."


"Jadi, Zefan ..." Aku merasa tidak percaya.

__ADS_1


"Mungkin saja. Aku tidak tahu lagi apa yang akan di lakukan Aqil." Mama Sarah meminum kopi itu dengan mata menerawang jauh.


"Ma, jika benar Aqil mencintaiku. Kenapa dia melakukan hal ini?"


Mama tersenyum, "Tanya saja padanya. Mungkin dia akan mengatakannya."


"Baiklah, sekarang aku sudah tahu siapa aku dan kenapa aku merasa hidup ini sangat aneh. Ini hanya sekenario Aqil. Selama ini aku sudah menjadi bonekanya."


Mama Sarah tersenyum, "Al, sampai hari ini. Aku adalah Mama kamu, Mama harap kita bisa bertemu lagi."


"Maksud Mama?"


Mama memegang tanganku, "Mama akan kembali ke tempat Mama. Jaga diri kamu," kata Mama.


"Baiklah, Ma. Apa aku bisa menelfon Mama semauku?"


"Tentu, kau adalah anakku."


Aku memeluk erat Mama Sarah. Tidak aku sangka jika pertemuan ini sangatlah singkat. Namun pertemuan singkat ini membuat aku sadar, jika aku tidak sendirian. Aku akan melawan Aqil.


"Mau aku antar?" tanyaku.


"Tidak perlu, Aqil akan melakukan hal jahat jika dia tahu. Sekali lagi Mama minta maaf."


Aku mengangguk pelan. Selama ini aku sudah menjadi boneka untuk Aqil. Dia mempermainkan aku.


"Mama pergi dulu, jangan terlena hanya karena cinta." Mama Sarah mengatakanya dan langsung pergi.


Cinta, yang aku tahu sekarang. Aku harus bertahan dengan alur yang sedang dimainkan Aqil. Aku harus mempertahankan cintaku dan Zefan.


💝💝💝


Aku masuk ke kantor Zefan. Beberapa karyawan memberi hormat padaku. Aku hanya tersenyum dan beberapa kali menyapa.


"Zefan," panggilku saat aku sudah masuk ke dalam ruangan.


Aku mendekat dan langsung memeluknya, "Aku membawakan makan siang untuk kamu," Aku menunjukan tempat makan yang aku bawa.


Zefan tersenyum tipis, "Kau... kau kenapa tidak bilang dulu padaku."


"Aku tidak perlu meminta ijin pada siapapun untuk memperhatikan suamiku sendiri."


Aku melihat Yesi keluar dari toilet yang ada di dalam ruangan Zefan lalu dia bertanya tanpa menoleh padaku dan Zefan.


"Siapa Fan?"


Zefan terlihat pucat. Aku menggenggam tanganya.


"Ini aku, aku membawakan makan siang untuk suamiku dan untuk kamu."


"Kau, ..."


"Tidak perlu kaget," kataku, "Aku hanya mampir sebentar. Kalian sedang membahas bisnis bersama kan?"


"I...iya." Jawab Yesi terbata.


Aku meletakan makan siang itu ke meja Zefan. Lalu aku mencium pipi kirinya.


"Aku akan menunggumu di rumah."


Sakit rasanya hati ini. Namun aku hanya bisa menahan, aku tidak mungkin memperlihatkan rasa cemburu ini. Mereka hanya rekan bisnis.


"Tunggu."


Aku menoleh pada Zefan.


"Terima kasih makan siangnya."

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. Lalu kembali berjalan keluar. Aku tidak boleh termakan dengan apa yang dilakukan Aqil. Aku bertahan apapun yang akan terjadi. Aku bertahan untuk pernikahan ini.


"Bagaimana?"


Aku kaget saat masuk ke dalam lift dan langsung mendapat pertanyaan. Aku menoleh ke arah kananku.


"Kau, apa ini juga hasil ulahmu?"


Aqil tersenyum padaku, "Bagaimana pertemuan kamu dan Ibu angkat kamu?"


Aqil tahu hal ini. Kenapa aku tidak bisa memperkirakan hal ini.


"Tenang saja." Aqil mengitari tubuhku, "Dia sudah tenang di sana."


"Apa maksudmu?" aku takut jika Mama Sarah sudah meninggalkan aku.


"Kamu sudah tahu siapa aku. Aku akan melakukan apapun untuk kamu."


Aku mencoba menatap mata Aqil, "Kau tidak mencintaiku. Jika kamu memang mencintaiku, kamu tidak akan melakukan hal gila seperti ini."


Aqil tertawa dengan wajah mengerikan, "Inilah cintaku. Aku bukan Zefan yang dengan bodoh menerima kamu."


Aku tidak percaya ini. Aqil benar-benar orang yang mengerikan. Jadi, ini adalah rahasia terbesarnya. Hingga Mei juga terkena imbasnya karena tahu hal ini.


Ting. Pintu lift terbuka, Aqil melewatiku dengan sebuah bisikan.


"Jangan takut padaku."


Aku hanya menatapnya pergi dari hadapanku. Dia bilang agar aku jangan takut, tapi setelah tahu siapa sebenarnya Aqil. Siapa yang tidak takut denganya.


💝💝💝


Aku terbangun dengan kepala yang sangat pusing. Aku melihat ruangan ini, ruangan yang bahkan aku tidak tahu apa.


"Kau sudah bangun?"


Mama? kenapa aku bisa di rumah Mama saat ini.


"Kau membuat Mama sangat cemas."


"Memangnya aku kenapa, Ma?" tanyaku yang bingung dengan apa yang terjadi.


Mama menggeleng, "Mama juga tidak tahu, yang jelas karyawan Zefan yang menelfon Mama."


"Karyawan?"


"Iya."


Aku tidak ingat apapun. Lalu kenapa Zefan tidak ada di sini.


"Ma, Zefan ..."


"Dia sedang membuatkan bubur untuk kamu, untuk sementara kamu tinggal di sini."


"Memangnya kenapa?"


"Biar nanti Zefan yang katakan, yang jelas kamu jangan sampai kelelahan." Mama memberikan gelas air putih padaku, "Apa kamu merasa pusing?"


"Sedikit."


"Kalau begitu kamu istirahat saja dulu. Mama akan membantu Zefan di bawah."


Aku hanya mengangguk dan melihat Mama keluar dari dalam kamar.


💝💝💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2