Bertahan

Bertahan
Part 25


__ADS_3

Sejak aku kembali dari rumah sakit Mei terlihat tidak senang dengan adanya Mama. Aku bukanya mencari perlindungan dengan Mama, aku hanya butuh teman agar pikiranku tidak kacau.


"Makan siang sudah siap. Kamu mau makan disini atau dibawah bersama yang lain?". tanya Mama padaku.


"Aku akan turun sebentar lagi Ma".


"Mama tunggu dibawah".


Aku merapikan baju dan beberapa buku yang baru saja menemaniku. Aqil datang dengan senyumanya.


"Kenapa kesini?. Aku mau makan dibawah". kataku pada Aqil. Aqil tidak mengatakan apapun dan langsung memelukku dari belakang.


"Aku rindu kamu dan anak kita". Aqil mengelus perutku.


"Benarkah?. Aku mau kita jalan-jalan setelah ini, hanya aku dan kau". kataku pasti. Aku akan mengatakan sesuatu pada Aqil. Karna aku tidak mau terus menerus disakiti oleh harapanku sendiri.


"Baiklah. Mei juga akan jalan-jalan dengan kakaknya".


"Kalau begitu kita makan dulu, Mama sudah menunggu".


Aku turun dengan Aqil tidak berselang lama Mei datang dengan wajah yang kurang senang.


"Kamu kenapa Mei?". tanya Aqil menyadari Mei sedang tidak senang.


"Kakakku tidak jadi mengajakku jalan, kamu mau kan mengajakku jalan-jalan".


Aku menutup mataku dan berharap Aqil mengatakan tidak untuk kali ini.


"Aku sudah janji dengan Alisha hari ini". Aqil melirikku dan tersenyum.


"Bagus, aku bisa ikut kalau begitu" dengan semangatnya Mei ikut dengan acara aku dan Aqil.


"Kalau begitu Mama juga akan ikut, dirumah sendiri nggak asik". Mama menyenggol tanganku. "Aku akan mengurus Mei". bisik Mama padaku.


"Gimana Alisha?". Aqil menanyakan apa aku setuju atau tidak.


"Tidak apa-apa". Aku mengambilkan piring dan nasi untuk Aqil. Sedangkan Mama mengambilkan lauk untuk Aqil.


"Sekarang kita makan dan bersiap untuk jalan". Senyuman Mama begitu sumringah hari ini.


💝 💝 💝


Dari awal berangkat sampai saat ini sampai di pantai Mei tetap saja menggelayut manja pada Aqil. Sedangkan aku dan ibu hanya berjalan pelan dibelakang mereka.


"Kamu duduk disini dulu ya, dari tadi hanya jalan saja".


"Trimakasih Ma".


"Mama nyusul mereka dulu, kamu tunggu disini". Mama mengejar Aqil dan mengatakan sesuatau.


Wajah Mei yang mengikuti dibelakang Mama terlihat tidak senang. Aqil dengan wajah serius langsung menghampiriku.


"Kamu lelah?. Kenapa tidak bilang padaku".


Aku menggelengkan kepala dan tersenyum. "Duduk sini". Aku menepuk kursi disebelahku.


Aqil duduk. Kami memandang kearah pantai. Banyak wisatawan dan burung-burung yang terbang bebas.


"Burungnya sangat indah. Terbang kesana kemari". kata Aqil.

__ADS_1


"Aku juga ingin seperti burung-burung itu. Bebas". kataku pelan.


"Apa maksudmu?".


"Kenapa kau tidak ingin menceraikan aku?. Semua yang kamu mau kan sudah tercapai". Aku berhenti sejenak. "Kepercayaan Papa, perusahaan yang kamu inginkan dan cintamu". Aku menatap Aqil. "Aku sudah tidak dibutuhkan lagi kan sama kamu".


"Kenapa kau menanyakan hal semacam ini?".


"Semua itu kan tertulis dalam kontrak kita".


"Aku sudah membakarnya". Aqil menerawang jauh dan kembali menatapku. "Kamu istriku bukan karna kontra, tapi karna kau memang untukku".


Aku terdiam. Dia memang tidak pernah membahas kontrak itu tapi kenapa dia memutuskan sepihak.


"Dengarkan aku Alisha, apapun yang terjadi kamu tetap untukku". Aqil merangkul diriku sampai Mama dan Mei datang.


Mei terlihat sangat lelah karna membawa barang yang begitu banyak. Mungkin karna Mama yang menyuruhnya.


"Aku capek sayang. Bantuin dong". Mei mencoba mendekat kearah Aqil.


"Dulu Alisha juga seperti ini saat sama Mama, tapi nggak pernah ngeluh". Mama tersenyum pada Aqil. "Kamu sekarang gendong Alisha, dia kan sedang mengandung anak kamu".


"Iya Ma, kasihan Alisha dari tadi jalan terus". kata Aqil.


💝 💝 💝


Aqil menciumku dengan lembut. "Kamu milikku, jangan berfikir untuk pergi dari sisiku". Bisik lirih Aqil.


Aku hanya tersenyum. Dalam hati aku merasa sangat bahagia, bagiku Aqil sudah membukakan pintu hatinya walau baru sedikit.


"Sayang, bantu aku rapiin baju dong". Aku dan Aqil saling melepas pelukan begitu Mei masuk.


"Kamu kembali ke kamar, aku akan menyusul sebentar lagi".


"Jangan lama-lama". teriak Mei dari luar kamar kami.


"Akhirnya kau kembali direbut". kataku pelan.


"Tidak hatiku". Aqil mengecup pelan bibirku.


Apa ini pertanda jika Aqil sudah mulai membuka hatinya untukku. Jika benar, aku adalah orang terbahagia di dunia.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?".


Suara Mama membuyarkan lamunanku. Hanya karna sebuah kecupan aku menjadi tidak sadar selama beberapa detik.


"Jangan banyak melamun, minum dulu susunya". Mama meletakan susu untuk ibu hamil di nakas.


"Mama trimkasih untuk semuanya". kataku.


"Kau terlihat sangat bahagia".


"Semua ini karna Mama".


Aku memeluk Mama dan itu membuat Mama tersenyum.


"Mama mau pulang hari ini, Mama akan tetap mengawasi kalian dari luar".


"Iya Ma, trimakasih untuk semuanya".

__ADS_1


"Iya sayang". Mama mengusap kepalaku perlahan. "Jaga dirimu dan anakmu, itu yang utama".


"Aku akan lakukan, Mama pulang dijemput atau pulang sendiri?".


"Mama di jemput, sopir Mama sudah dibawah".


"Aku antar sampai depan".


Mama hanya membawa beberapa barang saja, aku sengaja mengantar Mama sampai depan. Aku takut Mama berbohong jika dia tidak dijemput.


"Mama pulang dulu ya sayang". Mama memeluk dan mencium pipiku.


"Hati-hati Mama".


Kami saling melambaikan tangan. Aku masih diluar sampai mobil Mama menghilang ditikungan depan rumah. Aku kembali masuk. Kali ini aku melihat Mei sudah siap untuk pergi. Tidak lama Aqil berada dibelakangnya.


"Kita jalan-jalan dulu ya Al, bosan dirumah terus".


Aku hanya diam dan tetap berjalan.


"Mei, kamu keparkiran mobil dulu". Aqil menarikku kesebuah kamar tamu yang berada dibawah.


"Ada apa?". tanyaku datar.


"Aku tahu kamu akan marah". Aqil menatap lembut kearahku. "Mau aku belikan apa?".


"Tidak ada".


"Apa kau mau ikut aku dan Mei jalan". tanya Aqil.


"Untuk apa aku mengganggu kalian. Apa setelahnya aku bisa merasa bahagia?".


"Bukan, aku hanya tidak ingin kamu marah seperti ini".


"Lupakan aku dan bersenang-senanglah dengan Mei".


Aku membuka pintu untuk keluar namun Aqil menahan pintu itu. Dia menarikku dan memelukku.


"Tebak, apa yang akan aku katakan padamu".kata Aqil pelan ditelingaku.


"Aku tahu".


"Apa?" bisik Aqil.


"Kamu tahu kalau aku adalah Lili, Lili yang pernah membantumu saat kamu jatuh dari sepeda". kataku pasti.


Aqil tertawa kecil dan semakin mengeratkan pelukanya padaku.


"Lepaskan aku dan cepat kembali pada Mei, kau tidak ingin Mei curiga bukan?". kataku.


"Aku tahu, aku tahu".


Aqil melepaskan kembali pelukanya dan mengecup keningku kali ini.


"I love you". bisik Aqil kemudian.


Aku hanya diam. Jantungku seperti akan lompat dari tempatnya. Ini benar-benar mengejutkan.


💝 💝 💝

__ADS_1


To be continued


__ADS_2