Bertahan

Bertahan
Part 19


__ADS_3

Masih diruangan yang sama dengan hiasan bunga dan sebuah buku. Aku tidak tahu lagi harus menghilangkan rasa ini dengan apa. Mungkin dengan membaca sebuah buku aku akan menerima sebuah ilmu.


"Mbak. Ada yang mau bertemu". Kata Giel dari luar pintu.


Aku langsung membuka pintu yang berwarna biru itu. Aku melihat seorang lelaki tegap yang sudah biasa aku temui.


"Kamu benar-benar pindah?" tanya Aqil begitu melihat isi ruangan itu.


"Aku tidak ingin kau hanya bertengkar dengan istrimu. Aku sadar aku siapa".


"Apa kau memang tidak mencintaiku?". Aqil masuk dan menarikku. Tidak lupa dia menutup pintu kamarku.


"Aku memang mencintaimu. Cintaku sudah tumbuh sejak awal. Tapi, kamu hanya perkπŸ˜‚ duli dengan dirimu".


"Jika kau benar mencintaiku kenapa kamu menipuku dengan alasan kecelakaan yang dulu terjadi". Aqil memojokanku ketembok.


Jarak kami begitu dekat bahkan aku bisa merasakan detak jantung Aqil dan deru nafasnya.


"Apakah aku berbohong?. Tanyakan saja pada hatimu". Aku mencoba melepaskan diriku. Namun Aqil mengunci tubuhku. Dia tersenyum, tapi aku tidak tahu maksud senyuman itu.


"Aqil lepaskan aku". Aku terus bergerak dalam kuncian Aqil.


"Kamu istriku. Berikan apa yang seharusnya kamu berikan".


Aku membelalakan mata. Dia meminta dijam seperti ini. Bahkan toko bungaku masih belum tutup.


"Tapi,.....".


"Kamu hanya perlu diam tanpa banyak kata".


πŸ’ πŸ’ πŸ’


Aqil baru saja pergi karna Mei menelfonya. Tanpa sepatah kata dia pergi begitu saja. Apa yang sudah aku lakukan. Dia bahkan hanya menganggapku alat tapi aku menganggapnya tambatan hatiku.


Aku kembali memakai piyamaku dan keluar. Aku lihat toko sudah sepi. Giel juga sudah pulang. Aku kembali sendiri.


"Hanya sepi yang menemani". lirihku.


Suara dering telfon membuat aku kaget karna hari sudah semakin gelap.


"Hallo. Toko bunga Alisha. Ada yang bisa saya bantu?".


"Saya dari perusahaan furniture. Kami butuh jasa anda untuk mendekorasi acara pembukaan perusahaan kami". kata wanita itu dengan suara yang lembut dan sangat sopan.


"**Bagaimana jika kita bertemu dan membahasnya lagi. Karena toko kami sudah tutup sekarang".


"Baik. Besok kita bertemu**".


Aku mencatat alamat yang dimaksud untuk mengadakan pertemuan. Setidaknya aku masih memiliki kegiatan untuk tidak teringat dengan luka ini.


Tok. tok. tok. ketukan pintu perlahan dan suara langkah kaki. Dengan hati-hati aku membuka pintu itu dan seorang pengirim barang tersenyum padaku.


"Selamat malam Bu". kata pengirim itu.

__ADS_1


"Malam. Ada yang bisa saya bantu?".


"Apa benar ini rumah Bu Alisha. Ini ada kiriman untuk anda". dia menyodorkan sebuah kotak.


"Trimakasih Pak". Setelah tanda tangan aku menerima kotak itu.


Aku membawanya ke kamar dan membukanya. Aku kira isinya apa tapi sebuah kotak musik dan sebuah kalung.


"Apa dari Aqil ya. Tapi, dia tidak romantis dan juga mana mungkin dia mengirimiku hal macam ini" Aku kembali menyimpanya di kotak itu dan aku letakan disudut kamar.


Aku harus tahu siapa yang mengirim.


πŸ’ πŸ’ πŸ’


Entah apa yang aku pikirkan hingga aku sampai diacara ini. Suara musik dan banyaknya orang membuat kepalaku sedikit pusing.


Sebuab tangan langsung menyeretku masuk ke salah satu ruangan. Gelap, aku tidak tahu siapa yang membawaku kesini.


"Kamu kenapa kesini?". tanya suara itu Seperti tidak asing dengan suara ini.


"Ini acara suamiku. Apa salahnya aku datang".


Klik. Ruangan langsung berubah terang. Gama. Dia yang menyeretku masuk ternyata. Apa maunya sekarang. Bukankah dia sedang keluar dengan Nia.


"Kenapa kamu membawaku kesini?". tanyaku pada Gama.


Dengan begitu tenang Gama menyulut rokoknya dan duduk di sofa. Aku masih tetap berdiri.


Aku melebarkan mataku. Tidak percaya rasanya dengan omongan Gama. Dia tahu aku sudah bersuami.


"Tidak. Aku masih mencintai suamiku".


Gama tertawa cukup keras dan menghampiriku.


"Apa kamu bodoh?. Aqil tidak akan mencintaimu karna adikku sudah ada di sisinya".


"Aku percaya Aqil mencintaiku".


Gama membuang rokoknya dan hendak menciumku. Aku berontak dan berhasil mendorongnya.


"Aku tidak akan pernah bersamamu". Aku berlari keluar. Jantungku berdetak sangat kencang.


"Kamu kenapa disini?". Aqil mendekat kearahku. Dia melihat aku terduduk ditaman.


Aku langsung memeluknya. Aku benar-benar takut tadi. Jika aku mengatakanya apa Aqil akan percaya. Atau dia akan membuangku seperti waktu itu lagi. Aku akan diam untuk saat ini.


"Kamu kenapa Al?". tanya Aqil padaku.


"Tidak. Aku hanya mencarimu tapi tidak ketemu". Aku langsung melepas pelukan itu.


"Bener hanya karna itu?".


Aku mengangguk. Sembari mencoba menenangkan hatiku.

__ADS_1


"Sayang. Ayo masuk, banyak yang nyariin kamu lho". Mei langsung memeluk lengan Aqil. Aku hanya diam dengan rasa cemburu.


"Sebentar lagi aku masuk. Kamu duluan saja".


"Tidak. Aku maunya sama kamu".


Ya Allah. Kautkan hati ini jangan sampai aku ikut gila karna semua ini. Aku harus menahan rasa cemburu ini.


"Ya udah. Ayo Alisha, kamu juga masuk".


"Iya. Aku akan menyusul kalian".


"Udahlah Aqil. Ayo kita masuk, biarin aja diluar". Mei mencoba menarik Aqil.


Bagaimanapun aku menahan cemburu ini tetap saja sama. Aku mendekat kearah Aqil dan langsung menggandengnya.


"Kamu hanya istri siri dari seorang selingkuhan. Aku istri sahnya, lebih baik jika Aqil masuk denganku". Aku menatap Aqil. "Semua ini juga demi reputasi Aqil didepan semua rekan kerjanya". Aku tersenyum. Alasanku kali ini pasti akan diterima Aqil.


"Benar juga Mei. Jika aku masuk denganmu, nama baikku akan buruk karna kamu belum resmi menjadi istriku".


"Ayo masuk. Biarkan dia masuk nanti". Aku langsung membawa Aqil masuk. Mei hanya diam dengan perkataan Aqil.


Aku rela diduakan tapi suamiku bukan untuk Mei. Karna banya diluar sana yang lebih baik dari Mei.


Setelah selesai Aqil mengajakku pulang kerumah namun aku menolaknya. Aku tidak ingin terluka setiap harinya. Aku akan merebut Aqil tapi dengan caraku bukan dengan memanfaatkan orang lain.


"Apa kau mau tinggal di vila?. Atau apartemen?". tanya Aqil padaku.


"Tidak perlu. Tidak lama lagi juga aku akan pulang kerumah". kataku dengan tenang.


"Baiklah. Tapi jika kau butuh apa-apa. Katakan saja padaku".


"Baik. Aku pulang dulu ya".


Aku pulang dengan taxsi. Sedangkan Aqil dia membawa Mei tentunya. Aku harus kembali dengan pilihanku.


πŸ’ πŸ’ πŸ’


Pagi ini aku bangun dengan sebuah paket didepan pintu. Aku membukanya dan sebuah gaun. Gaun yang jelas bukan untukku. Gaun merah tanpa lengan dan bagiku sangat terbuka tentunya.


"Giel. Apa ini barangmu?" tanyaku pada Giel.


"Bukan. Aku kira milik mbak".


Aku menggelengkan kepalaku. Disana juga ada sebuah surat kecil.


Ini kado tambahan untuk kado yang kemarin.


Aku kekamar tidurku dan meletakan paket itu dengan paket yang sebelumnya. Kalau seperti ini jelas bukan Aqil yang mengirim. Lalu siapa?.


πŸ’ πŸ’ πŸ’


to be continued

__ADS_1


__ADS_2