Bertahan

Bertahan
Part 61 S 2


__ADS_3

Tidak ada yang tahu akan terjadi apa nanti di acara resepsi Aqil dan Yesi. Hanya saja aku merasakan tidak enak di dalam hatiku.


Mama mendekat dengan dua cangkir teh di tanganya, lalu menepuk pundakku perlahan.


"Mama," panggilku.


Mama tersenyum padaku, "Kenapa kamu melamun? apa ada hal yang salah?"


Aku menggeleng, "Tidak, Ma."


"Mama tahu, kamu pasti sudah rindu dengan suamimu. Dia sedang bekerja, nanti dia nggak selesai-selesai karena rindu padamu juga."


"Mama bisa saja," kataku pelan.


Suara mobil membuat aku dan Mama berhenti tertawa.


"Aku lihat dulu, Ma."


Aku keluar dengan senang. Berharap jika benar-benar Zefan yang datang. Ternyata bukan Zefan, aku berbalik dan akan masuk. Sampai aku mendengar Mila memanggilku dengan senang.


"Aku tahu kamu kecewa karena bukan Zefan yang datang?" tanya Mila dengan senyuman.


Aku hanya diam dan tetap berjalan masuk.


"Ini," Mila menyodorkan sebuah foto, "Ini orang yang kamu cari. Ternyata Aqil juga mengundangnya. Sepertinya mereka saling kenal."


Aku menatap tajam pada Mila. Aku tidak mau jika ini hanya sebuah lelucon.


"Apa? aku serius."


Aku membalik foto itu. Benar, itu foto Vidi dengan seseorang yang terlihat lebih tua darinya.


"Apa Vidi tahu tentang hal ini?" tanyaku.


Mila menggeleng, "Aku juga baru mendapat kabar darinya semalam. Dia mengajakku datang bersama ke acara resepsi ini."


"Terima kasih."


"Aku pergi dulu, aku punya banyak pekerjaan."


"Aku tahu, hati-hati di jalan."


Aku hanya menatap foto itu dengan penuh tanya. Kenapa Aqil bisa tahu tentang Kakak Vidi, aku bahkan tidak ingat apapun tentangnya. Aku harus ke apartemen Vidi.


"Kamu melamun lagi?" tanya Mama.


Aku langsung memasukan foto itu ke kantung celanaku, "Tidak Mama, tadi Mila yang datang."


"Kenapa tidak di suruh masuk?"


"Dia banyak pekerjaan Ma." Aku mendekat pada Mama, "Ma, apa aku bisa menemui Vidi. Sudah lama aku tidak bertemu denganya."


"Baiklah, biar nanti Mama yang bilang pada Zefan. Kamu bisa pergi."


"Terima kasih, Mama." Aku memeluk pelan tubuh Mama.


💝💝💝


Sampai di depan pintu apartemen aku tidak langsung masuk. Aku mendengar kegaduhan dari dalam sana. Memang tidak sopan rasanya, namun aku penasaran. Aku menempelkan telingaku di pintu.


"Kakak, aku tahu kamu sangat ingin menemui Al. Dia baik-baik saja," kata Vidi dengan tenang.

__ADS_1


Brak. Aku tidak tahu siapa yang memukul atau apa yang di pukul.


"Dia anakku. Walau dia anak angkat, aku masih menyayanginya. Hanya karena Aqil, aku bahkan tidak bisa menemuinya lagi."


Aqil? apa yang dia lakukan pada Mama angkatku. Kenapa selalu saja ada teka teki jika menyangkut dengan Aqil.


"Kak Sarah." teriak Vidi.


Kak Sarah? perlahan seperti ada video yang diputar di dalam otakku.


"Mama Sarah, kenapa Mama mau pergi?" tanya seorang gadis yang mungkin umurnya sebelas tahun. Dengan rambut di kepang dia memeluk wanita yang bernama sarah itu.


Wanita itu memeluk si gadis dengan derai air mata.


"Maafkan Mama, namun ini jalan yang harus kita hadapi." Wanita itu pergi, dengan mencoba menyembunyikan air mata. Wanita itu tidak menoleh sedikitpun.


"Mama, jangan pergi. Mama." Teriak gadis itu.


💝💝💝


Perlahan aku membuka mataku, aku di apartemen Vidi ternyata. Aku kembali ingat dengan Kakak Vidi. Aku langsung bangun dan mencarinya.


"Kamu mencari siapa?" tanya Vidi dengan cemas.


Terlihat sekali jika Vidi menyembunyikan Mama Sarah dariku.


"Tidak. Aku hanya merasa aneh, kenapa aku bisa ada di sini."


Vidi tersenyum, "Kamu pingsan di depan aparemenku."


"Maaf, aku merepotkan kamu."


"Tidak apa."


"Ini, minumlah dulu." Vidi membuatkan teh untukku, "Kenapa kau ada di sini?"


"Itu.. sebenarnya, Mila yang menyuruhku datang. Kapan kau akan menikahinya?" tanyaku kemudian.


Vidi tertawa, dia memberikan sebuah kotak padaku. Dengan perlahan aku membuka kotak itu. Sebuah cincin berlian, kaget rasanya melihat hal ini.


"Apa kau yakin?" tanyaku dengan kaget.


Vidi tertawa dan menganggukan kepalanya. Dia benar-benar terlihat yakin dengan apa yang dia katakan.


Aku tersenyum, "Mila akan senang mendengar ini."


Vidi langsung terdiam, dia menatap lurus padaku.


"Apa?" tanyaku.


"Apa kamu mau menghancurkan rencanaku?" tanya Vidi padaku.


"Maaf, aku kira kamu ingin aku mengatakanya padanya."


"Jangan, biarkan dia marah dan kecewa dulu."


Aku menghela nafas panjang, "Apa kau mau dia pergi? jika terlalu lama dia akan memilih pria lain."


"Baiklah, aku akan mempercepat rencanaku."


Vidi mengatakan apa saja yang direncanakan olehnya. Aku hanya harus diam dan tidak ikut campur.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, ada yang menelfon aku," kataku.


Aku sedikit menjauh dari Vidi. Ternyata Zefan, dia pasti sudah menungguku di bawah. Lebih baik aku turun saja.


"Vidi, aku harus pulang," kataku kemudian.


"Baiklah, hati-hati di jalan."


Aku turun dan benar saja. Zefan ada di sana, menyambutku dengan senyumanya yang sangat khas. Aku berlari kecil dan langsung memeluknya.


"Ayo kita pulang," kataku.


"Baiklah, ayo."


💝💝💝


"Kau sangat cantik," kata Zefan saat aku turun dari mobil.


"Jangan terlalu memujiku."


Kami sudah sampai di tempat acara. Banyak orang yang sudah datang, dua orang terlihat berjaga di pintu masuk.


Zefan memperlihatkan undanganya pada penjaga itu. Lalu kami masuk, ternyata apa yang aku lakukan dengan Mila terlihat sangat megah saat malam hari.


"Hei, kau sudah datang? kita temui Yesi dan Aqil bersama. Ayo." Ajak Mila yang sudah datang dengan Vidi.


Aku menggenggam tangan Zefan saat kami sudah sampai di depan Aqil dan Yesi. Kami hanya mengucapkan selamat. Lalu kami memilih untuk duduk di sebuah meja yang masih kosong.


"Mau minum?" tanya Zefan yang menyodorkan jus padaku.


Aku menerima gelas yang Zefan berikan padaku.


"Terima kasih."


Aku melihat seorang wanita dengan gaun biru putih, rambutnya tergerai. Sangat cantik dan sangat mirip, aku ingat. Foto yang diberikan Mila tadi siang. Tanpa pikir panjang aku memilih untuk mengikutinya.


"Mau ke mana?" tanya Zefan saat aku sudah berdiri dan akan pergi.


Aku menoleh pada Zefan, "Aku ingine menemui seseorang."


Zefan hanya mengangguk pelan. Aku tahu, jika Mila akan menceritakan semuanya pada Zefan dan dia tidak akan salah paham.


Aku melihat Aqil dan Mama angkatku. Mereka masuk ke sebuah ruangan. Ya, aku kembali mencuri dengar. Aku tidak tahu apa ini benar atau salah.


"Apa kau di sini hanya untukku?" suara Aqil terdengar cukup keras.


"Aku akan menemui Alisha. Aku sudah sangat ingin memeluknya, seperti dulu."


Aqil berdecak, "Aku sudah mencoba memperingatimu."


"Apapun yang akan kamu lakukan padaku. Aku akan terima, umurku sudah tidak muda lagi. Mungkin ini memang jalan takdirku."


Aqil tertawa cukup keras, tawa yang sangat mengerikan.


"Kau memang pembunuh yang mengerikan sejak dulu. Entah sudah berapa orang yang kamu lenyapkan dengan tangan kotormu sendiri," kata Mama angkatku.


"Mungkin giliranmu selanjutnya."


Pembunuh? berarti sejak awal Aqil adalah seorang pembunuh. Aku mendengar suara langkah kaki, brak. Pintu terbuka, mataku dan matanya bertemu.


💝💝💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2