
Aku ingat jika aku mengatakan akan mengundurkan diri dari kantor Mila ini.
"Apa terlalu pribadi?"
"Tidak, sebenarnya.."
"Sebenarnya apa?" terlihat sekali jika Mila sangat penasaran.
"Sebenarnya aku akan mengundurkan diri dari sini." Aku langsung menutup wajahku.
Perlahan aku membuka sela-sela jariku dan melihat Mila sedang menunduk. Dia terlihat termenung. Kali ini aku benar-benar membuka lebar tanganku yang menutupi wajah.
"Kau... kau kenapa?" tanyaku pada Mila.
Mila menoleh dengan mata berkaca-kaca, "Kenapa kamu mau berhenti? apa gajinya kurang? apa ada yang kurang ajar padamu?" tanya Mila.
Aku duduk lebih dekat lagi dengan Mila, "Maaf, sebenarnya aku memilih untuk di rumah. Melayani Zefan dengan apa yang aku bisa, aku juga berencana akan memiliki anak."
Mila menatap kaget padaku, "Kau sangat ingin hamil?"
"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin ada yang membicarakan kami karena belum punya anak."
Mila berdiri dan matanya menatap jauh, "Pasti karena Yesi bukan?" Mila mengepalkan tanganya. Dia terlihat marah.
Aku memegang tanganya dan kembali mengajaknya duduk. Waktu dua tahun setengah memang tidaklah singkat. Banyak hal yang sudah kami lakukan bersama, namun bagiku ini bukanlah akhir.
"Apa kau marah pada Yesi. Padahal aku tidak berfikiran itu Yesi." Aku merubah posisi dudukku, "Dengar, bukankah kamu akan menikah dengan Vidi? kita bahkan bisa lebih dekat lagi."
"Benar juga yang kamu katakan."
Aku hanya tersenyum. Mila menatap diriku.
"Baiklah, aku akan menyetujui surat pengunduran diri milikmu."
Aku langsung memeluk Mila, "Terima kasih banyak."
Akhirnya aku bisa bebas melakukan apapun tanpa terikat dengan pekerjaan ini. Jika aku masih bekerja, aku harus tanggung jawab dengan apa yang aku lakukan.
Mila melepas pelukanku dengan paksa dan mengatakan, "Kau terlihat bahagia."
"Sangat. Mulai hari ini aku bisa mengantar makan siang ke kantor Zefan." Aku mengambil tasku dan akan pergi.
"Mau kemana?"
"Menemui suamiku."
Aku langsung pergi. Mila hanya mampu menatapku tanpa bisa mencegahku untuk pergi.
Menggunakan lift adalah hal yang paling aku suka. Aku tidak perlu menuruni tangga dan capek-capek menahan kaki agar tidak jatuh.
Ting. Lift terbuka tapi langkahku terhenti, Aqil di depanku menatap dengan tatapan tajam. Di sampingnya ada Yesi yang sedang menggelayut manja pada lengan Aqil.
"Kau terlihat bahagia," kata Aqil padaku.
Aku tersenyum, "Selamat pagi Pak, Bu. Tebakan Bapak memang benar, saya memang sedang bahagia. Permisi." Setelah mengatakan hal itu aku melewati Aqil dan Yesi begitu saja.
Aku akan ke kantor Zefan langsung. Hari ini aku akan menemani harinya sampai pulang ke kantor. Namun aku mendapatkan telfon dari Bi Iyah.
__ADS_1
"*Hallo Bi.”
"Non, apa bisa pulang sekarang*?"
Tidak biasanya Bi Iyah menelfon, apa ada tamu penting ya.
"*Memangnya kenapa Bi?"
"Ada seorang wanita. Namun dia hanya menunjukan sebuah gelang pasa saya. Apa perlu saya usir."
"Jangan Bi, saya akan langsung pulang*."
Aku mematikan telfon itu dan langsung menghentikan sebuah taxsi. Aku tahu Mama Sarah akan menemuiku, namun aku tidak menyangka jika akan secepat ini.
💝💝💝
Sampai di rumah aku melihat Mama Sarah yang duduk terdiam. Aku tahu Mama merasa sangat canggung apa lagi Bi Iyah yang terus menerus menatapnya.
"Bi, buatkan dua minuman. Tolong sekalian di bawa ke ruang bunga."
"Baik, Non."
Aku mendekat dan berbisik, "Ma, ayo kita ke ruanganku. Mama akan lebih leluasa di sana."
Mama Sarah hanya mengangguk dan mengikutiku masuk ke ruang bunga. Mama Sarah terlihat sangat takjub dengan ruangan ini.
"Ini ruangan milik mertuaku. Dia sangat baik padaku."
Mama Sarah duduk walau matanya masih menatap semua bunga ini.
Tok tok tok. Aku tahu jika itu adalah Bi Iyah. Aku membuka pintu dan mengambil alih nampan itu.
Bi Iyah tersenyum, "Saya tahu, Non."
Aku masuk dengan nampan di tanganku. Aku meletakanya di meja, Mama langsung mengambil gelas dan meminumnya.
"Apa suamimu yang sekarang baik?"
Pertanyaan Mama Sarah membuat aku sadar. Jika Mama Sarah selalu memantau diriku.
"Yang jelas lebih baik dari suamiku yang dulu."
Mama Sarah tertawa kecil.
"Ma, Mama akan menjawab pertanyaanku kemarin bukan? tentang Aqil."
Mama mengambil biskuit yang berada di piring, dia menatapku tajam.
"Mama tidak akan membahas hal itu. Mama hanya akan membahas tentang kamu."
"Maksud Mama?"
"Dengar," Mama membenarkan duduknya, "Kamu pasti tidak tahu bagaimana kamu besar. Mama tahu, banyak pertanyaan yang akan kamu tanyakan. Termasuk bagaimana aku mengadopsi kamu.”
Aku mengangguk.
"Waktu itu kamu masih kecil, sekitar umur lima tahun."
__ADS_1
\=Sarah Bercerita\=
Aku melihat seorang gadis kecil yang terus mengejar anak laki-laki yang lebih tua darinya. Aku melihat mereka berdua masih normal-normal saja, sampai aku mendengarkan hal yang sangat mengerikan dari orang tua kamu.
"Ya, anak lelaki itu memang sejak kecil sudah aneh," kata Ayah Alisha.
Ibu Alisha hanya mengangguk, "Dia sejak kecil suka membunuh binatang, dia juga berlaku kasar pada anak lain."
Aku kaget mendengar hal itu, aku memang baru saja tinggal di lingkungan keluarga Alisha.
"Lalu, apa anak lelaki itu punya orang tua?" tanyaku kemudian.
Ibu dan Ayah Alisha kompak menggeleng.
"Dia anak yang tidak diinginkan. Sejak kecil dia hanya berteman dengan anak kami, Alisha." ujar Ibu Alisha.
"Apa kalian tidak takut?"
"Tidak," Jawab Ayah Alisha dengan cepat, "Dia tidak pernah membenci Alisha. Dia membenci orang tua yang menyayangi anaknya."
"Jadi, ..."
"Ya, anak lelaki itu sangat membenci kami. Karena kami sangat sayang pada Alisha."
Aku menghela nafas, bagaimanapun orang tua Alisha adalah orang baik. Mereka bahkan mau menerima anak lelaki itu yang aku ketahui sebagai Aqil.
Setelah hari itu aku kembali lagi keesokan paginya. Namun apa yang aku lihat sangatlah mengerikan. Aku melihat orang tua Alisha sudah bersimbah darah dengan banyak sayatan luka.
Aku melihat Alisha yang duduk meringkuk di antara ke dua orang tuanya. Perlahan aku mendekat dan memeluk Alisha.
"Alisha apa yang terjadi dengan orang tua kamu?" tanyaku pelan.
Dengan derai air mata Alisha menjawab, "Kata Aqil, Mama sama Papa kecelakaan mobil."
Aku kaget mendengar jawaban itu. Bagaimana bisa Aqil mengatakan jika itu kecelakaan mobil. Tanpa basa-basi aku menelfon polisi.
Pada akhirnya, apa yang aku duga benar. Aqil yang melakukanya. Setelah kejadian itu, aku membawa Alisha pindah bersamaku. Sementara Aqil ke tempat rehabilitasi.
\=Sarah selesai cerita\=
"Al, Mama tahu kamu sangat terluka. Namun sepahit apapun itu, kamu harus menerimanya."
Aku menatap wajah Mama Sarah, "Lalu kenapa aku tidak ingat tentang semuanya. Aku bahkan tidak ingat dengan kamu."
Mama Sarah tersenyum, "Hal itu akan Mama ceritakan lain kali. Sebentar lagi suami kamu pulang. Kamu bisa katakan pada suami kamu tentang aku. Namun hanya suami kamu saja."
"Ma."
Mama Sarah mendekat padaku, dia memelukku dengan erat.
"Apapun yang terjadi kamu tetaplah anakku. Gelang ini menjadi ikatan kita." Mama Sarah menunjukan gelang yang sama denganku.
Perlahan aku mengembangkan senyumku.
"Mama pergi dulu. Salam untuk suami kamu."
Mama Sarah meninggalkan aku yang masih terpaku. Masih terngiang rasanya apa yang di ceritakan oleh Mama Sarah tadi.
__ADS_1
💝💝💝
to be continued