
Sudah dua hari aku tidak masuk kerja. Banyak pesan dari Mila dan Vidi, namun aku enggan untuk membalas. Sejak lamaran Zefan itu, aku kehilangan arah hidupku.
Tok, tok, tok. Beberapa kali aku mendengar kerukan pintu. Tidak ada janji atau apapun tapi kenapa ada orang datang. Dengan langkah kaki malas aku membuka pintu.
"Kenapa sangat lama membuka pintu?" aku masih bingung dengan kedatangan Yesi yang tiba-tiba.
"Kau tahu alamatku dari mana?" tanyaku pada Yesi.
Yesi langsung duduk tanpa permisi. Bahkan wajahnya terlihat sangat marah.
"Itu bukan urusamu." Yesi melemparkan beberapa lembar uang padaku, "Cepat pergi dari kota ini, atau lebih baik kau mati saja." Yesi berdiri dan mengambil tasnya.
"Apa maksudmu? aku bahkan tidak membuat masalah denganmu," kataku.
"Begitu?" Yesi mendekat dan langsung menampar pipi kiriku.
Aku menatapnya tajam namun wajah Yesi kali ini benar-benar terlihat sangat marah.
"Semua yang aku impikan hampir jadi kenyataan, tapi gara-gara kamu ... " Yesi menggantung perkataanya.
Dia terduduk dengan deraian air mata. Aku kasihan melihat dia seperti ini, aku menahan sakit di pipiku. Aku duduk didekatnya dan mencoba memegang bahunya.
"Aqil membatalkan pernikahan ini," kata Yesi di sela tangisnya.
Mendengar hal itu aku seperti kembali di mana Mei merebut Aqil dariku. Aku bukan Mei, aku tidak akan membuat Yesi merasakan apa yang aku rasakan.
"Yesi, aku tahu kamu teluka. Aku akan membuat Aqil menikahimu." Aku membantu Yesi untuk duduk disofa, "Beri aku waktu."
Yesi menyeka air matanya. Dia menatap mataku, tidak ada kata yang terucap sedikitpun. Lalu, tiba-tiba saja Yesi memeluk diriku.
"Aku mengira kau akan merebut Aqil dariku," kata Yesi masih dengan air matanya.
"Tidak. Aku tidak akan membuat kamu kecewa." Aku mencoba menenangkan Yesi.
"Bagaimana agar aku bisa menjamin kau tidak merebut Aqil dariku?" tanya Yesi.
Aku menunduk dan memantapkan hatiku, "Kau tahu, aku sudah dilamar oleh Zefan. Aku akan menerima lamaran itu." aku tersenyum pada Yesi.
"Aku percaya padamu." Yesi memegang tanganku dengan erat.
Aku berjanji Yesi. Kataku dalam hati.
💝 💝 💝
"Kau benar-benar akan menikahiku, kan?" tanyaku pada Zefan.
Kami sedang makan malam di dekat apartemenku. Aku sengaja mengajaknya jalan, untuk memastikan perasaanya padaku.
Zefan mengangguk, "Aku sudah mengatakanya sejak awal, bukan." Zefan memegang tanganku dan menciumnya.
Aku hampir menarik tangan itu hingga aku sadar jika Yesi akan terluka. Aku mengurungkannya, "Trimakasih," kataku.
"Besok ada acara makan malam dirumah. Kamu datang ya," kata Zefan.
"Apa tidak terlalu cepat? aku bahkan belum menyiapkan diri." Aku mencoba menolak ajakan itu.
"Tenang aja, ada aku di sana." Kembali senyuman Zefan mampu membuat aku lebih tenang.
__ADS_1
Kami makan dengan percakapan seperti pasangan biasanya. Aku bahkan belum pernah merasakan hal ini saat dengan Aqil. Kenapa juga aku harus teringat lagi dengan Aqil.
"Mau langsung pulang?" tanya Zefan saat makanan kami sudah habis.
"Terserah kamu aja, besok aku free," kataku setelah mengelap bibirku dengan tisu.
"Kamu nggak kerja di tempat Mila lagi?" pertanyaan Zefan kali ini sedikit menekan.
Aku mengangguk pelan, "Aku hanya ingin sendiri dulu. Maksudku, ... "
"Aku tahu perasaanmu. Kamu pasti ditanyai dengan keputusanmu." Zefan berdiri dan melatakan tanganya dipundakku, "Aku akan terus menemanimu."
Kembali dia membuat aku tenang. Perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya selaama aku bersama Aqil. Jika memang aku ditakdirkan dengan Zefan, aku akan memberikan semuanya.
"Aku ajak kau ketempat yang indah, ayo." Zefan langsung menarik tanganku setelah membayar makanan itu.
"Kemana?" tanyaku pada Zefan.
"Ikut aku saja dan jangan banyak bertanya," ujar Zefan.
Kami masuk ke mobil. Tanpa kata Zefan terus membawaku, aku bahkan tidak tahu Zefan akan mengajakku kemana. Hanya senyuman Zefan yang membuat aku yakin, jika dia tidak akan melukaiku.
"Sampai!" teriak Zefan membuyarkan lamunanku.
Aku melihat ke kanan dan ke kiri. Aku baru sadar jika ini di pasar malam. Zefan langsung tersenyum saat aku menoleh padanya.
"Ayo turun, kita naikki semua wahana yang ada di sini," ajak Zefan.
Aku turun dari mobil. Aku belum pernah menginjakkan kakiku ketempat seperti ini sebelum ini. Karna aku dulu anak yang hanya tahu tentang rumah.
"Terimakasih," ucapku lirih pada Zefan.
"Semuanya."
Zefan mengangguk dan langsung menggandeng tanganku. Kami masuk, suasananya begitu meriah. Beberapa kali Zefan mengajakku menaiki wahana, namun aku menolaknya.
"Maaf Zefan, aku benar-benar tidak ingin bermain," kataku pada Zefan.
"Kenapa?" Zefan ikut aku duduk disebuah bangku.
"Aku lelah. Aku masuk ke sini juga sudah merasa bahagia," kataku.
"Baiklah, aku akan menemanimu duduk di sini sampai kau mengantuk." Zefan menyandarkan kepalanya di bahuku.
Tidak berapa lama aku mendengar dengkuran halus dari Zefan. Dia tertidur, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bahkan tidak bisa menyetir mobil. Apa aku harus menunggunya di sini hingga pagi.
Hampir setengah jam aku menahan rasa lelah di bahuku. Aku menoleh pada Zefan, dia masih diposisi yang sama. Aku tidak tega rasanya untuk membangunkan Zefan.
💝 💝 💝
Mataku terbuka saat sinar matahari masuk ke kamarku Aku menghirup udara sebisaku, sampai aku sadar jika ini bukan kamarku. Aku tidak tahu ini di mana dan ini sudah hampir jam delapan.
"Selamat pagi, Non?" kata seorang wanita paruh baya yang masuk ke kamar.
"Pagi. Ini di mana ya?" tanyaku padanya.
"Tuan Zefan yang membawa Nona ke sini." Dia meletakan sarapan dan sebuah baju ke meja kamar.
__ADS_1
"Zefan di mana?" tanyaku lagi.
"Tuan Zefan sudah ke kantor sejak pagi. Ini baju dan sarapan Nona, Tuan sudah menyiapkan sopir jika Nona akan pulang," kata wanita itu.
"Terimakasih Bi .... " aku tidak tahu namanya.
"Bi Iyah," kata wanita itu dengan senyuman yang sangat ramah.
"Terimakasih Bi Iyah," kataku kemudian.
"Jika butuh apa-apa langsung panggil saya saja Non," kata Bi Iyah sebelum pergi.
"Baik Bi." aku kembali tersenyum pada Bi Iyah.
Setelah kepergian Bi Iyah. Aku berjalan kearah jendela kamar ini. Ternyata langsung menghadap kesebuah taman yang berada di dekat danau. Sangat indah.
Sarapan yang dibuatkan Bi Iyah sudah aku makan. Aku juga sudah berganti baju, kini aku harus pulang. Walau rasa ingin mengunjungi taman itu sangat menggebu.
"Sabar Alisha. Ini bukan saatnya," kataku pelan mencoba menenangkan hati ini.
Aku mencari-cari Bi Iyah dan menemukan wanita ramah itu sedang berada di sebuab ruangan, ruangan yang penuh dengan bunga.
"Wow, banyak sekali bunga dan sangat indah!" kataku berteriak dan membuat Bi Iyah kaget.
"Nona, kenapa ada di sini?" tanyanya.
"Aku sedang mencarimu, Bi Iyah sedang apa?" tanyaku padanya.
"Sedang mencoba menata ruangan ini. Mama Tuan Zefan akan datang," kata Bi Iyah, namun dia sedikit menunduk.
"Mau aku bantu? aku sangat senang merangkai bunga." Aku langsung mengambil gunting dan memulainya.
"Nanti saya dimarahi Tuan Zefan." Terlihat wajah takut dari Bi Iyah.
"Santai saja, aku akan melakukanya untuk Zefan." aku mencoba menenangkan Bi Iyah.
"Baik Nona, terimakasih untuk bantuanya," katanya lagi.
"Jangan sungkan Bi," kataku.
Bi Iyah langsung pergi untuk mengurus pekerjaan lain. Sudah lama aku tidak melakukan ini, aku merasa separuh hidupku kembali setelah melihat ruangan ini.
"Non, ini sangat indah," kata Bi Iyah saat masuk keruangan itu.
Aku memang sudah selesai menata ruangan itu. Aku juga merasa lelah.
"Terimakasih pujianya Bi, aku harus pulang sekarang," kataku pada Bi Iyah.
"Sebentar lagi Tuan Zefan pulang. Apa tidak mau menunggu?" tanya Bi Iyah.
"Tidak perlu. Aku pulang dulu ya Bi." aku melangkahkan kakiku untuk pergi.
"Hati-hati, Nona," kata Bi Iyah.
Aku mengangguk dan langsung pulang. Malam ini aku pasti akan tidur dengan nyenyak karna semua bunga itu.
💝 💝 💝
__ADS_1
to be continued