
"Aku hanya butuh beberapa hari saja di sana Mil, aku juga akan selalu mengabari kamu," kataku pada Mila.
"Tapi kau ke sana sendiri. Aku khawatir jika ada apa-apa di jalan." Mila masih bersikeras tidak mengijinkan aku.
"Mau kamu ijinkan atau tidak aku harus pergi. Ada hal penting yang harus aku urus," kataku pada Mila.
"Urusan apa hingga kamu sangat ingin pergi?" tanya Vidi di sela pembicaraanku dengan Mila.
"Sebentar lagi aku akan menikah dengan Zefan, aku akan mengunjungi makam Ibu dan Ayah." Hanya itu yang mampu aku katakan pada Vidi dan Mila.
"Apa kau mau kita temani?" tanya Vidi.
"Tidak perlu, aku di sana hanya beberapa hari dan langsung kembali ke sini." Aku meletakan sebuah berkas di meja Mila. "Setidaknya bantu Zefan mempersiapkan semua ini," kataku pada Vidi dan Mila.
"Baiklah, kau hati-hati di jalan. Jangan lupa untuk mengabari kami." Mila memelukku erat.
"Aku pergi." Aku melepaskan pelukan itu dan langsung turun ke parkiran.
Zefan pasti sudah sedari tadi menungguku di parkiran. Aku langsung masuk ke dalam mobil membuat Zefan menatap padaku.
"Pasti ada drama dulu ya di atas?" tanya Zefan.
"Bukan hanya drama," jawabku.
Aku dan Zefan langsung menuju ke bandara. Aku tidak mau jika harus ketinggalan pesawat dan menanti pesawat yang lain. Sampai di bandara aku masih memiliki waktu untuk istirahat dengan Zefan. Banyak hal yang kami bicarakan, terutama tentang pernikahanku denganya yang akan dilakukan setelah aku kembali.
"Jika sudah sampai cepat kabari aku atau aku akan menyusulmu," kata Zefan padaku.
"Tentu, jaga Mama baik-baik. Aku pergi dulu."
Aku dan Zefan akhirnya berpisah. Semoga urusanku di sana cepat selesai.
💝💝💝
__ADS_1
Sampai di kota kelahiranku aku tidak pulang ke apartemen yang sudah pernah aku singgahi. Aku langsung memesan hotel. Untuk Giel, aku akan mengawasinya sendiri secara diam-diam.
Setelah istirahat aku akan pergi ke rumah Aqil. Aku sudah menyiapkan beberapan alasan agar bisa masuk ke rumah itu.
"Penjagaanya cukup ketat. Mana mungkin aku bisa masuk dengan mudah."
Aku memutuskan masuk secara terang-terangan. Seorang penjaga menghampiriku dengan tergesa.
"Kau siapa? beraninya datang ke sini.” Penjaga itu berkata dengan nada tinggi padaku.
" Apa kau tidak kenal aku, aku bahkan sudah tinggal di sini beberapa tahun lalu," kataku.
"Kau siapa sebenarnya?" tanya penjaga itu masih dengan nada tinggi.
"Aku mantan istri Aqil, apa aku salah datang ke sini? aku hany akan mengambil beberapa barang milikku yang masih tertinggal." Aku menjelaskan padanya kenapa aku datang ke sini.
"Apa kau sudah mengatakan pada Tuan Aqil?" tanya penjaga itu lagi.
Akhirnya penjaga itu membukakan pintu untukku juga. Aku masuk dan mencari Mei di segala penjuru rumah ini. Namun nihil, sampai aku bertemu dengan seorang pelayan yang dulu cukup aku kenal.
"Apa kau tahu orang yang bernama Mei di rumah ini?" tanyaku padanya.
"Mei, mantan istri Tuan Aqil?" tanya gadis pelayan itu.
Aku menganggukan kepalaku, "Dimana dia sekarang?" tanyaku pada gadis itu.
"Dia di kurung di ruang bawah tanah. Tapi sebaiknya kau jangan datang ke sana. Kata orang-orang di sana sangat mengerikan," kata gadi itu.
Aku terdiam sampai akhirnya gadis pelayan itu pergi. Aku tidak tahu di mana jalan menuju ruang bawah tanah itu. Aku harus menemui Mei hari ini. Dia mungkin akan memberitahukan hal penting padaku.
"Kau mau kemana, Max?" tanya seorang pengawal pada temanya.
"Aku akan mengantarkan makanan ke bawah tanah," kata orang yang bernama Max.
__ADS_1
"Kau akan memberikan makanan pada gadis itu lagi? kau sangat beruntung bisa terus menenuinya." Kata orang dengan badan yang lebih pendek dari Max.
"Sudahlah, aku harus cepat." Max langsung berjalan menjauhi teman-temanya.
Aku mengikuti Max denga perasaan yang mendebarkan. Aku takut jika ada yang mengetahui tentang aku di sini.
Entah sejak kapan rumah Aqil ini menjadi sangat ketat. Padahal saat aku di sini hanya ada beberapa pelayan dan dua orang penjaga. Apa sebenarnya yang dilakukan Aqil sampai aku tidak tahu.
"Ini makananmu, habiskan cepat sebelum Tuan Aqil kembali menyiksamu." Max melemparkan makanan itu pada ruangan Mei.
Mei benar-benar terlihat sangat mengenaskan. Badanya tidak sebagus dulu, kini tubuh yang dulu dia banggakan sekarang menjadi tubuh yang kurus. Rambut yang biasa dia rawat kini awut-awutan.
Setelah kepergian Max aku mendekat pada Mei. Dia menatapku sampai akhirnya dia memanggil namaku.
"Alisha, kau akhirnya datang." Mei terlihat bahagia saat aku di sana.
"Kau kenapa bisa sampai seperti ini?" tanyaku pada Mei.
"Seharusnya kau jangan kembali. Kita tidak tahu Aqil bagaimana, aku tahu saat kau pergi."
"Tahu tentang apa?".
" Sebenarnya Aqil menyembunyikan hal yang sangat mengerikan. Kau dan Aqil bertemu bukan karna kebetulan. Tapi, ..."
"Tapi apa Mei?" Mei menggantung kalimatnya.
"Tapi, ..."
"Tapi karna aku sangat mencintaimu."
💝💝💝
to be continued
__ADS_1