Bertahan

Bertahan
Bab 73 S 2


__ADS_3

"Selamat pagi," ucap Zefan begitu aku membuka mata.


"Kau sudah bangun?" tanyaku.


Zefan mengangguk. Dia memberikan kecupan di pagi hari. Sebenarnya masih malas untuk keluar dari dalam selimut, tapi aku tidak mau Mama membersihkan rumah ini sendiri.


"Aku mau antar Mama ke pasar. Kamu bisa mandi dulu," kata Zefan.


"Siap."


Kesempatan ini yang aku tunggu. Aku bisa membersihkan rumah ini tanpa ada yang mengganggu. Aku juga tidak perlu segan pada Mama.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Mila.


πŸ“©Mila


-Apa kau ada waktu hari ini?


Karena malas membalas aku memilih untuk menelfonya saja.


\="Kenapa menanyakan waktuku?" tanyaku to the point.


Terdengar Mila tertawa, "Aku mau pergi belanja dan fitting baju. Setidaknya kamu bisa menemaniku."


"Aku akan meminta ijin dulu pada Zefan."


"Tidak perlu, dia pasti mengijinkan kamu."\=


Aku menghela nafas panjang mendengar perkataan Mila. Yang dikatakan dia memang benar, namun aku sudah berjanji untuk berubah. Suamiku harus tahu kemanapun aku pergi.


\="Baiklah, nanti aku kabari lagi. Daah."


"Terima kasih, Alisha."\=


Tut. Mila memutus panggilan itu. Sejak pertemuan tidak sengaja di kantor polisi itu. Mila jadi lebih sering mendekat padaku. Padahal, biasanya aku yang melekat padanya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Aku menyeka dahiku dengan pungung tangan. Semuanya sudah selesai. Hanya tinggal memindahkan pot bunga yang cukup besar. Aku bisa memindahkanya sendiri, tapi aku juga takit jika janinku kenapa-napa. Ini kehamilan yang masih rawan, kata dokter.


Aku bersiap untuk mengangkat pot bunga itu, dan suara Mama membuat aku mengurungkan niatku.


"Al, kamu mau apa?" tanya Mama yang entah sejak kapan sudah ada di sampingku.


Aku tersenyum, "Aku mau pindahin pot ini ke sana," aku menunjuk pojok rumah Mama.


"Biar Zefan yang melakukan hal itu. Mama kan sudah bilang, jangan membawa beban berat. Kasihan calon bayi kamu."


"Baik, Ma."


Karena melihat Mama membawa barang cukup banyak. Aku berinisiatif untuk membawakanya.


"Biar aku saja yang bawa," kataku pelan.


Mama menatapku, "Ok. tapi yang ini."


Aku hanya di bolehkan membawa plastik buah. Yang lain tetap saja di bawa Mama. Aku mengekor pada Mama yang berjalan menuju ke dapur.


"Ini kehamilan pertama dan masih awal. Kamu nggak mau kan kalau terjadi apa-apa dengan calon bayi kamu."


"Ya, Ma."


Mama meletakan semua barang belanjaanya. Dia mendekat dan mengusap kepalaku.


"Mama tidak sedang memarahi kamu. Mama khawatir dengan kamu dan calon bayi kamu."

__ADS_1


Tanpa sadar. Aku malah memeluk Mama dengan erat. Di sini, aku merasakan apa yang dibilang kehangatan. Aku merasa nyaman dengan apa yang dikatakan Mama.


"Wah wah wah. Istriku sedang bermanja dengan Mama rupanya." Zefan masuk tanpa permisi dan langsung mengatakanya.


Akupun melepaskan pelukanku. Mama hanya memberikan senyuman. Mama yang sesungguhnya.


"Fan. Pindahin pot bunga besar ke pojok ya, Mama sama Alisha mau buat makanan."


"Siap Mama."


Zefan kembali keluar dengan senang hati. Kini aku harus membantu Mama membuat sarapan.


πŸ’πŸ’πŸ’


Zefan mengantarkan aku sampai kantor Mila. Tidak banyak perubahan di sini. Masih sama seperti saat aku keluar dari kantor ini.


"Terima kasih sudah mengantarkan aku," kataku pada Zefan.


Zefan mengangguk, "Maaf aku tidak turun. Salam saja buat Mila."


"Baik. Hati-hati di jalan."


Zefan melanjutkan jalanya ke kantor. Aku memang memaksanya untuk mengantarkan aku, hatiku merasa sedang tidak enak.


"Hai, kau sudah datang?" Mila menghampiriku dengan senyuman.


"Terima kasih untuk sambutanya."


"Ayo." Mila menggandeng tanganku masuk ke dalam kantor.


Masih banyak yang mengenaliku. Mereka menyapa dengan sopan seperti biasanya. Rasanya jadi rindu bekerja di sini.


"Oh ya, bukanya kamu mengajakku belanja?" tanyaku pada Mila.


Mila tertawa dengan bahagia.


"Setelah itu, kita baru belanja?"


"Tentu saja."


Aku masuk ke ruangan Mila. Banyak hal yang berubah, mulai dari cat dinding hingga tatanan ruangan.


"Kamu merenovasi tempat ini?" tanyaku pelan.


Mila menggeleng, "Tidak mungkin aku mendapatkan uang untuk hal ini."


"Lalu?"


"Ada seorang teman. Dia mau bekerja sama, jadi aku bisa merenofasi tempat ini."


Entah kenapa aku malah penasaran dengan teman yang dimaksud Mila.


"Jangan tanya siapa dia. Nanti kamu juga akan tahu," kata Mila.


"Baiklah. Kamu selesaikan saja fitting bajunya. Aku akan menunggu di sini. Ok."


Dengan senang hati Mila membuka sebuah kamar di samping tempat aku duduk. Ternyata, di sana adalah tempat baju. Banyak sekali baju, mulai dari yang murah sampai yang sangat mahal.


"Ini semua milikmu?" tanyaku yang cukup kaget.


"Ini adalah impianku. Kamu tahu bukan?"


Mila memang sangat terobsesi pada fashion. Dia juga membuka kantor ini karena ingin mewujudkan hal ini. Namun, tidak aku sangka jika dia akan mendapatkan semuanya secepat ini.


"Kamu pilihkan beberapa baju untukku coba," kata Mila padaku.

__ADS_1


Aku mengangguk. Bagaimanapun aku bahagia dengan pernikahan Mila dan Vidi. Aku memilih baju dengan model yang elegan, karena aku tahu jika Vidi tidak suka yang berlebihan.


"Ini. Kamu bisa mencobanya."


"Ok."


Setelah hampir satu jam. Akhirnya Mila memutuskan untuk mengambil baju dengan model dress tanpa lengan.


"Ayo. Sekarang kita bisa ke pusat perbelanjaan. Sudah lama kita tidak pergi bersama."


"Aku tahu."


"Sudah bagaimana perkembangan janin kamu?"


"Sampai saat ini. Aku dan bayiku sehat."


Kami membicarakan tentang kehamilanku. Jujur saja, aku merasa risih tapi aku tidak mau juga Mila terluka karena aku tidak mau menjawab.


πŸ’πŸ’πŸ’


Setelah lelah berbelanja Mila mengantarkan aku pulang. Zefan pasti khawatir sekali, banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab darinya.


"Terima kasih sudah mengantarkan aku."


"Sama-sama. Jangan lupa minum obat yang aku belikan."


"Tentu."


"Ayo turun. Suami kamu pasti sudah menunggu," kata Mila padaku.


Akupun turun dari mobil.


"Selamat malam. Daah."


Mila melambaikan tangan dan langsung melajukan kembali mobilnya. Hari ini, Mila begitu memanjakan aku, dia juga membelikan vitamin untukku.


"Kenapa baru pulang?"


Aku langsung menoleh. Zefan terlihat tidak suka dengan apa yang aku lakukan. Ya, aku pulang sangat malam.


"Apa kau begitu setia dengan mantan bosmu?" kata Zefan lagi.


"Bukan begitu. Aku tahu aku salah, aku pulang telat hari ini."


"Sudahlah. Ayo masuk, di luar sini dingin."


Kami masuk. Bi Iyah langsung membuatkan susu untukku. Sementara Zefan melihat barang yang aku bawa.


"Apa kamu membeli semua ini?"


"Tidak. Mila yang membelikanya." Aku meminum sedikit susu yang di berikan Bi Iyah.


"Lalu ini?" Zefan menyodorkan vitamin yang di beli Mila padaku.


Aku tersenyum dan mengambil vitamin itu dari tangan Zefan.


"Ini Mila yang membelikanya. Katanya, sangat bagus untuk kehamilan awal."


"Tidak biasanya dia memperlakukan kamu seperti ini."


"Nggak boleh berpikiran buruk. Mungkin dia sedang senang karena akan bertunangan."


"Mungkin."


Zefan masih saja meras aneh. Dia juga menceritakan jika Mila kemarin datang ke kantornya. Dia mengajak makan siang bersama, dengan beberapa karyawan juga.

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’


to be continued


__ADS_2