
Aku masih merenungi kelakuan bodohku kemarin. Kenapa aku melakukan hal memalukan itu. Kenapa juga aku harus jatuh cinta pada lelaki itu. Dia bahkan tidak memandangku dengan benar.
"Maaf Mbak. Ada yang cari Mbak diluar."
Aku tersadar dari laminanku dan melihat Giel. Dia terlihat cukup bingung untuk menggangguku kali ini.
"Aku akan keluar sebentar lagi Giel."
Setelaj merapikan diri, aku keluar untuk menemui tamu itu. Aku melihat wanita yang memakai masker. Dari gerak geriknya aku tahu kalau dia Mei.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kamu tahu kan? aku tidak akan mundur untuk Aqil. Aku sudah berpacaran denganya sejak SMA. aku akan melakukan apapun agar kamu pergi darinya," kata Mei tiba-tiba.
Aku tersenyum. "Maaf. Aku tidak akan menyerahkan suamiku begitu saja."
Mei mendekat padaku. "Apa kamu tahu. Dia sudah cinta mati padaku."
Aku tersenyum. "Kalau sudah selesai. Silahkan keluar."
Aku langsung berbalik arah untuk kembali keruanganku. Mungkin aku harus menenangkan diri saat ini. Bagaimanapun, kali ini aku sudah kalah. Mei lebih dekat dengan Aqil dari pada aku.
💝 💝 💝
Aqil pulang dengan wajah merah padam. Sepertinya dia sedang marah hari ini. Akupun langsung menghampirinya berharap dia akan tersenyum.
"Apa yang kamu lakukan pada Mei?" Aku langsung berhenti dari langkahku.
"Kamu tahu. Gara-gara kamu Mei jadi terluka," Aqil terlihat sangat kesal.
"Maksud kamu apa? Apa Mei mengadu yang tidak-tidak padamu?" Aku mendekat kearah Aqil. "Apa yang dikatakanya padamu?"
"Dari kemarin Mei hanya tiduran dan masih merasa ketakutan."
Aku tidak tahu apa yang dikatakan Aqil. Baru saja aku bertemu dengan Mei. Tapi sekarang Aqil mengatakan kalau Mei hanya tiduran. Apa aku sedang dipermainkan. Dasar wanita licik.
"Cari tahu kebenaranya daan setelah itu katakan padaku siapa yang salah," kataku.
Aku melangkahkan kaki untuk pergi namun Aqil langsung menarikku. Dia mencengkram wajahku.
"Jelas kamu yang salah. Jika terjadi sesuatu pada Mei. Aku akan menghukum lebih berat dari ini." Aqil melepaskan cengkraman itu dan pergi keruanganya.
Tidak terasa air mataku jatuh. Ya, aku menangis. Aku tidak menyangka jika Aqil mampu berbuat seperti ini hanya karena wanita lain.
__ADS_1
Aku memilih untuk keluar rumah sebentar. Mungkin aku akan pergi ketempat paman. Sudah lama juga aku tidak kesana. Setidaknya aku akan merasa lebih tenang.
"Mau kemana Non?" tanya Nia membuat aku sedikit terlompat.
"Bisa tidak jangan menganggetkan aku." Aku kembali mengambil beberapa barang dilemari.
"Nona mau kemana?" tanyanya lagi.
"Bukan urusanmu."
"Ini perintah dari tuan Aqil."
"Katakan padanya. Jangan urusi hidupku lagi." Aku melewati Nia begitu saja.
Entah apa yang dilakukan Aqil hingga ada yang begitu setia bekerja denganya. Selalu saja, ini perintah Aqil. Aku memilih untuk tidak membawa mobil. Aku akan pergi dengan taxsi atau bus.
💝 💝 💝
Sampai dirumah paman suasananya tetap sama seperti dulu. Tante Maya yang suka marah-marah dan Paman Tejo yang tenang dengan semua masalah.
"Kamu kenapa kemari lagi?" tanya Tante Maya begitu melihatku.
"Jangan seperti itu May," kata Paman.
Aku tersenyum memandang mereka. Bagaimanapun lebih nyaman tinggal disini dengan semua percakapan mereka. Kadang aku merindukan hal ini. Bagiku, sama saja terluka dan terus terluka.
"Kok sampai repot begini?" kata Paman.
"Tidak repot. Aku hanya kangen dengan kalian."
"Kangen atau kamu sudah meminta cerai pada lelaki aneh itu."
Lelaki aneh. Apa Tante Maya mengatakan jika Aqil aneh. Tante, Maya pasti tahu sesuatu melebihi aku.
"Tante apa tante mau makan diluar hari ini?" tawarku mencoba merebut hatinya yang memang selama ini tertutup untukku.
"Tidak perlu. Kamu hanya perlu keluar dari rumah ini dan jangan kembali," kata Tante Maya dengan wajah yang bahkan tidak menoleh padaku.
Aku mencoba tetap sabar dan tetap tersenyum. Sampai saat ini aku tidak tahu kenapa bisa Tante Maya begitu membenci diriku. Saat aku bertanya, dia tidak menjawab dan memilih untuk pergi.
"Aku akan menuruti perintah tante. Asal tante mau mengatakan kenapa aku dirawat kalian," kali ini aku mencoba tegas.
"Sayang. Kamu tidak lelah kesini naik bus. Ayo makan dulu." Paman Tejo langsung menenangkan aku begitu melihat Tante Maya akan mengatakan sesuatu.
__ADS_1
Aku akan mencari tahu sendiri. Dengan begitu aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa terbebani apapun.
"Terima kasih Paman. Aku akan pulang sekarang. Lain kali aku akan mampir lagi." Aku mengambil tasku dan keluar dari rumah sederhana itu.
Sayup-sayup aku mendengar percakapan Tante Maya dan Paman Tejo. Kembali mereka harus bertengkar karena aku.
"Jangan pernah katakan apapun padanya" Kata Paman Tejo dengan cukup keras.
"Apa kamu mau terus berbohong? Kita itu bukan siapa-siapa bagi Alisha."
"Jangan bahas ini lagi. Aku akan mengatakan semuanya sendiri nanti."
BRAK. aku mendengar bantingan pintu yang cukup keras. Mungkin Tante Maya yang kembali mengurung dirinya.
Aku kembali berjalan menyusuri gang. Melihat anak-anak yang sedang berlarian membuat aku tersenyum.
"Al."
Sebuah panggilan yang cukup familiar membuat aku menoleh. Benar saja. Vidi. Dia berlari mendekat padaku.
"Aku terus mencoba menelfonmu. Tapi tidak pernah aktif." Lelaki itu langsung memelukku.
"Jangan seperti ini. Tidak baik."
Vidi langsung melepas pelukanya. "Maaf. Aku sangat rindu padamu," kata Vidi terdengar begitu tulus.
"Bagaimana kabarmu? dan kapan kamu kembali?"
Kamipun duduk di kursi yang berada di seberang. Vidi adalah orang yang selalu menemaniku saat aku pertaman kenal denganya. Dia selalu menceritakan tentang dirinya padaku, namun tidak dengan keluarganya.
"Bagaimana suamimu?" tanya Vidi tiba-tiba.
"Dia sangat baik. Lain kali aku akan mengenalkanya padamu," kataku dengan semangat.
"Ok. Kalau begitu beri aku nomor ponselmu."
Aku bertukar nomor denganya. Setelah itu aku berpamitan karena hari sudah sore. Tidak mungkin aku akan pulang terlambat. Aqil pasti akan menjatuhkan hukuman untukku.
"Aku pulang dulu. Sampai jumpa."
"Hati-hati Al."
Aku hanya mengangguk dan baik kesebuah taxsi yang sudah aku pesan. Ada rasa bahagia begitu melihat Vidi. Namun, cinta adik pada kakak akan lebih baik untuk hubungan ini.
__ADS_1
💝 💝 💝
to be continued