
Vote sebelum membaca….
“Boleh aku masuk?” tanya Malia lagi.
Pria itu tetap menahan pintu, yang mana membuat Malia kesal dan mendorongnya kuat. Dan itu membuat pria itu terjungkal ke belakang.
Malia yang memiliki kecurigaan segera mengecek seseorang di balik pintu, tapi kenyataannya di sana tidak ada siapa siapa.
“Astaga! Kenapa kau mendorongku, Nona?!”
“Maafkan aku, aku pikir ada seseorang di belakang pintu.”
“Kenapa kau berfikir begitu?”
Malia sendiri tidak sadar, tapi itu adalah instingnya sendiri.
“Siapa yang ada di balik pintu huh? Pacarmu?”
“Maafkan aku,” ucap Malia yang membantu pria tua pengrajin itu berdiri.
Dan saat itu dia sadar, dirinya belum menghubungi Edward lagi.
“Bisakah aku melihat lihat karyamu?”
“Ada di sana,” ucap pria itu menunjuk suatu ruangan di belakang.
“Aku boleh melihatnya?”
“Pergilah, kau harus membayar mahal karena telah merusak bokongku.”
“Astaga aku minta maaf, aku tidak sengaja.”
“Kau mendorong pintu dengan sengaja.”
“Baik maafkan aku, aku janji akan membelinya dengan harga terbaik. Boleh aku ke sana?”
“pergilah.”
Malia menarik napas dalam, dia memasuki ruangan pengrajin itu. Namun, sebelum dia melihat lihat, Malia mencoba menghubungi Edward dulu. Sayangnya pria itu tidak kunjung mengangkatnya, membuat Malia mendesah pelan.
“Apa di sana dia sedang sibuk?” tanya nya merasa bersalah telah mengabaikan kekasihnya.
“Lebih baik aku melihat lihat dulu.”
__ADS_1
“Apa ada yang kau suka?” tanya pengrajin itu masuk.
“Aku membelinya untuk di lelang kembali. Aku punya yayasan amal.”
“Wah, jadi kau butuh yang murah untuk dijual mahal?”
“Jika kau ingin berdonasi.”
Di sana ada banyak karya karya yang terbuat dari besi dengan berbagai bentuk absurd. Sebenarnya Malia tidak terlalu paham, tapi dia tahu hal hal yang disukai para orang orang kaya. Sesuatu yang tampak elegent.
Sampai Malia jatuh hati pada besi yang berbentuk tangan dengan permata di sekitarnya. “Aku suka ini.”
“Tentu saja kau suka, itu yang paling mahal.”
“Permatanya cantik sekali.”
“Ya ya, itu aku dapatkan dari pemimpin El Sinaloa.”
Malia terdiam. “El Sinaloa?” ulangnya.
Dan pria pengrajin itu juga diam, dia ingat pria yang sebelumnya datang menodongkan pistol padanya. Yang menandakan ada sesuatu antara majikannya Norman dan wanita itu.
“Kau tahu sesuatu tentang kartel itu?”
“Astaga, kau mengambil mereka?” tanya Malia berdecak.
****
Sebelum memanggil taksi online, Malia jalan jalan dulu di padang itu untuk melihat keindahan sekitar.
Dia menikmati pemandangannya dengan penuh kebahagiaan.
Sesekali, Malia juga mencoba menghubungi Edward lagi, tapi tidak ada jawaban.
Sampai akhirnya Malia memutuskan menghubungi Jan, dia hanya menunggu beberapa saat sampai akhirnya Jan mengangkat telpon. “Hallo, Jan? kau di sana?”
“Hallo, Malia? Ada apa? Aku sedang makan.”
“Apa Edward datang?”
“Kenapa kau menanyakannya padaku? Apa priamu hilang?”
Malia mengangguk sedih. “Dia hilang, aku lupa menghubunginya kemarin.”
__ADS_1
“Itu salahmu.”
“Bisa tolong hubungi dia dan cari dia?”
“Akan aku lakukan. Sementara itu nikmati perjalananmu, kau sedang dimana?”
“Di tempat pembuat karya seni dari besi itu.”
“Sudah dapat barangnya?”
Malia mengangguk, dia melirik tas gendong yang ada di punggungnya. “Semuanya aman, aku tinggal mencari karya seninya.”
“Kau akan mengirimnya secara bertahap kan?”
“Ya, aku merasa khawatir jika disimpan dipenginapan. Siang ini akan aku kirim barang ini ke sana.”
“Oke, kalau begitu aku tutup.”
“Ba⸻”
TUT.
TUT.
TUT.
“Astaga,” gumam Malia saat Jan memutuskannya sepihak.
Dan ketika dia berjalan, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Kesal karena debu membuatnya batuk, Malia meneriaki mobil itu.
Tanpa diduga, mobil itu berhenti. Seorang pria berbadan besar keluar.
“Oh sialaaaan,” umpat Malia kesal.
___________
IG : @Alzena2108
__ADS_1