Bloody Marriage

Bloody Marriage
The Bride 13


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Guererro, Meksiko.


"Hallo, Jess, kau di mana?"


"Di tempat pengiriman barang, ada apa?"


"Aku akan ke sana sebentar lagi," ucap Norman kemudian mematikan telpon, dia menatap Sabrina yang ada di sampingnya. Norman belum menerima tawaran Sabrina, dia tidak terlalu butuh wanita itu kecuali untuk menutupi kebusukan transaksi ilegalnya.


Sabrina terkenal dengan kemurahan hatinya dan citranya yang baik di kalangan masyarakat tempat dia tumbuh, dia pernah menjadi duta untuk memerangi kesenjangan sosial di selandia baru.


Sehingga dengan menjadi wajah di seluruh mall milik Norman, setidaknya masyarakat dan kepolisian yang mulai menduga dirinya adalah dalang kejahatan sedikit terhilangkan.


"Sabrina, bangun. Ada banyak paparazi, kau tidak boleh mabuk."


"Gendong aku," ucapnya merentangkan tangan.


Norman berdecak kesal dan terpaksa menggendong Sabrina, dia menutupi wajah Sabrina dengan jas.


"Kenapa kau menutupi wajahku?" tanya Sabrina yang ada dalam gendongan Norman.


"Bagaimana orang memikirkan dirimu yang memiliki citra yang sempurna? Diamlah, setidaknya pura pura pingsan."


Sesampainya di depan kamar, Norman menurunkan wanita itu.


"Masuklah."


"Bagaimana dengan penawaranku?"


"Aku masih mempertimbangkannya," ucap Norman lalu berlalu pergi dari sana.


Dia bergegas menuju ke tempat pengedaran barang untuk menemui Jess. Di sana waniya berkepala plontos itu sedang memeganh senapan laras panjang.


"Jess."


"Kau sebaiknya tidak turun ke tempat rendahan ini."


"Berhenti menyindirku, berikan tempat tempat aku bisa menemukan karya seni untuk disembunyikan bom."


"Kau serius?"


"Berikan padaku," ucap Norman yang membuat Jess segera memberinya secarik kertas yang sudah dia isi dengan nama nama tempat. 


"Kau akan melakukannya seorang diri."

__ADS_1


"Ya, aku bosan melakukan rutinitas."


"Kau akan berpergian?"


"Tentu saja, dimana saja ini?" Norman membukanya, dia bergumam mengikuti tulisan Jess. "


"Taxco, Arcelia, dan Copala?"


"Ya, pergi ke sana dan pilih mana yang kau suka."


"Kenapa tidak kau eksekusi saja dan memilih satu tempat?"


"Aku akan kembali bekerja," ucap Jess hendak  meninggalkan Norman. 


Tapi pria itu menahan tangannya. "Berhenti membuatku kesal, Jess. Apa ada kabar berita dari saudarimu?"


"Oh, tidak ada."


"Tidak ada yang terjadi dengan Malia?"


"Tidak ada."


"Aku akan berangkat lusa," ucap Norman lalu berbalik.


Jess menahanya dengan teriakan, "Tunggu, Señor."


"Ada apa?"


"Ah, ya, aku mengerti, aku harus mengambilnya kan?"


Norman berdecak saat melangkah pergi. "Astaga, percuma sekali punya tiga tangan."


****


Malibu, Amerika.


"Pakaian?"


"Check."


"Cemilan?"


"Check."


"Peta?"


"Check."


"Peralatan mandi dan berdandan?"

__ADS_1


"Check."


"Sudah?"


Malia mengangguk, dia menarik napas panjang melihat banyaknya koper yang akan dia bawa.


"Kau sudah memesankan hotel untukku, Jan?"


"Bukan hotel, tapi villa di Puerto del marques, itu dekat teluk."


"Bukankah jauh dari Taxco, Arcelia, dan Copala?"


"Tenang saja, di sana sangat ramai, kau akan suka."


Malia menurut saja, sampai dia mendengar suara klakson dari depan.


"Pangeranmu sudah datang."


"Kalau begitu aku pergi."


"Hati hati."


Malia mengangguk, dia memeluk Jan yang masih terbaring lemah. "Lekas sembuh."


"Telpon aku jika sudah sampai."


"Aku mengerti."


Malia melambaikan tangannya meninggalkan Jan bersama perawat. Di luar, Edward menunggu. Saat melihat Malia membawa beban cukup banyak, Edward bergegas membantunya. Dan memasukannya ke dalam bagasi.


"Sudah semua?"


Malia mengangguk, dia masuk ke dalam mobil.


Selama sisa perjalanan mereka diam dengan pikiran masing masing. Sampai akhirnya Malia turun dari mobil, Edward berdiri di depannya sambil menggenggam tangannya.


"Lekas kembali, maaf aku tidak bisa ikut."


"Tidak apa."


"Kembali ya."


Malia terkekeh, dia menatap Edward yang terlihat sedih. "Hei, aku pergi hanya beberapa minggu. Aku akan kembali, Ed."


Dan saat itulah Edward menarik Malia ke dalam pelukannya, dia memejamkan mata merasa berat melepas sendiri kekasihnya. "Pergi dan kembali dengan mencintaiku."


Malia tersenyum, dia membalas pelukan Edward. "Aku akan kembali padamu."


***

__ADS_1


Love,


Ig : @Alzena2108


__ADS_2