Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 63


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Malia memakan makan malamnya penuh kesunyian di kamarnya, dengan ditemani oleh Jan. Jess dan Norman belum selesai berdiskusi sejak tadi. Membuat Malia penasaran, dia ingin terlibat. Malia tahu semua yang mereka lakukan itu untuk dirinya.


"Malia… makan makananmu dengan benar."


Malia menatap Jan. "Apa kau tidak khawatir dengan saudarimu yang bekerja di dunia seperti itu?"


"No, itu pilihannya. Aku yakin dia tahu konsekuesinya."


"Sejak kapan dia seperti itu?"


Jan menggeleng. "Kehidupan kami menyedihkan. Aku mohon jangan membahasnya, yang aku tahu hidup seperti ini mengobatinya perlahan."


Malia mengangguk. "Maaf. Aku yakin kau tahu bagaimana aku berakhir bersama Norman."


Jan mengangguk. "Kau masih bertahan mencintainya?"


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Papaku bilang aku harus percaya padanya."


"Kau sangat mencintainya?"


"Sampai detik ini, aku masih menyayanginya."


Jan tersenyum, dia mengambil napas mencairkan suasana. Jan juga tahu sesuatu telah terjadi, Norman dan Malia tidak jadi pergi. 


Dan Jan dipaksa berjanji oleh Jess tidak akan membiarkan Malia keluar kamar, dan Malia tahu itu. Terlihat dari gelagat Jan yang tidak lepas darinya. 


"Kau mengantuk Jan?"


"Tidak," elak wanita itu menggeleng. 


"Tidurlah di sana, mereka mungkin akan berdiskusi sampai pagi."


Dan Jan, dia tidak tahan. Akhirnya dia tertidur di atas karpet, apalagi diiringi Malia yang menyanyi pelan. Disambut sejuknya angin malam yang masuk dan membuat Jan terlelap dalam.


Malia tersenyum menang, dia melangkah keluar perlahan. Norman dan Jess berada di ruang tamu di lantai kedua. 


Dalam kegelapan, Malia menyandar pada dinding dan mendengarkan percakapan dua orang yang sedang merokok itu.


Keduanya tampak lelah, apalagi suaminya. Norman mengusap wajahnya kasar. "Apa kau punya rencana?"


"Untuk Alpha?"


"Tidak, Alpha akan aku jemput aku iring menuju Campo Morado untuk membunuh Marc. Terlambat sedikit saja, Alpha akan diambil alih oleh orang lain, mereka yang bisa memburu Marc sampai tidak bisa bernapas."


Jess ikut kebingungan. "Dan Malia?"


"Dia yang membuatku kebingungan, dia harus keluar dari sini sebelum mereka menyebar pencarian Malia semakin cepat."


"Pusatnya ada di Campo Morado, mereka yang mengirimkan pesan untuk anggotanya."


"Itu sebabnya aku harus ke sana, dan kau bawa Malia keluar."


Keterdiaman Jess membuat Norman melanjutkan. "Aku sudah menentukan jalurnya, kau tinggal ikuti sampai Malia keluar dari Guererro."

__ADS_1


Jess menggeleng. "Aku punya teman sekumpulan pria, mereka rombongan penggemar rock n roll, aku rasa mereka tidak akan dicurigai. Mereka sering keluar masuk daerah berbahaya tanpa diketahui. Aku yakin bersama mereka aman."


"Dan?"


Jesa menelan ludahnya kasar. "Malia mungkim harus menyamakan penampilan dengan mereka, bukan sembarang orang yang boleh bergabung. Tapi jika sudah bergabung, mereka akan melindungi satu sama lainnya."


"Penyamaran?"


"Kau tahu setiap yang keluar dari Guererro diawasi El Sinaloa."


"Akan aku hancurkan pusat Campo Morado sebelum Malia sampai di perbatasan," ucap Norman menolak Malia untuk bersama para pria dalam rombongan itu.


"Kita kehabisan waktu, Señor. Para turis biasa akan diperiksa lebih detai, El Sinaloa akan menyebar untuk mencari sosok yang mereka katakan." Jess mengeluarkan sesuatu dari sakunya, itu ponsel. "Lihat, mereka mendesripsikan Malia dengan rinci. Kaki kiri yang cacat, berjenis kelamin perempuan, dan wajahnya, lihat dia!"


Norman sedikit terkejut dengan suara Jess yang meninggi. 


"Mereka akan fokus pada orang-orang yang cacat."


"Lalu bagaimana jika kita sembunyikan Malia saja di sini?"


Malia tidak sadar, selama beberapa menit Jan ada di belakangnya. Dia tidak membongkar persembunyian Malia, tapi dia ikut bergabung dalam percakapan. "Tidak bisa."


"Apa maksudmu, Jan?" Tanya saudarinya.


"Tetanggaku yang bernama Claudia, memiliki suami anggota El Sinaloa. Dia pernah bertemu denganku dan juga Malia, dia juga menyebutku mirip dengan wanita berkepala botak dengan penuh tatto. Itu dirimu Jess."


"Jan!"


"Maafkan aku, Jess. Itu saat aku membawanya ke pemakaman papanya, kami bertemu dengannya. Dan aku yakin dia akan datang tidak lama lagi."


Jess dan Norman saling menatap sebelum akhirnya mengusap wajah kasar. Norman menarik napas dalam. "Apa yang harus kita lakukan?"


"Dan Malia?" Tanya Norman pada Jess. "Bagaimana dengannya?"


"Aku akan bersamanya, kau harus percaya padaku. Kau bisa bawa Alpha pada mereka, dan aku bawa Malia keluar."


****


Norman tidak bisa tidur, dia membiarkan Malia memeluknya. Rasanya hangat dan nyaman, tapi dia enggan untuk berlama-lama dalam kenyamanan yang akan membuatnya terlelap dalam ketidakpastian. 


Selama jam berputar, Norman membuka matanya. Sampai akhirnya pagi menjelang, dan Malia membuka matanya. 


Perempuan itu mengucek matanya, dia menguap lebar. "Norman? Apa kau terjaga sepanjang malam?"


Pria itu menjawab dengan dusta. "Tidak."


Malia mendapatkan kecupan di keningnya. "Apa yang ingin kau makan pagi ini?"


"Aku ingin makan bubur gandum."


"Baiklah, aku akan memeriksanya ke bawah," ucap Norman berdiri.


Saat kakinya hendak melangkah, Malia enggam melepaskan tautan tangan mereka. "Malia…"


"Maaf," ucapnya memberikan senyuman manis dan membiarkan suaminya pergi. Malia tahu ada banyak kesulitan di sana.


Dan itu terbukti saat Norman turun, dia mendapati Jan dan Jess yang sepertinya sedang bertengkar karena membawa Malia keluar. "Hentikan, kalian tidak akan mengubah apapun. Malia ingin bubur gandum."


Jan mendesah. "Akan aku buatkan."

__ADS_1


Meninggalkan Jess beserta Norman. Wanita berkepala botak itu mengeluarkan sesuatu dari laci. "Norman, kau tahu kau harus menggunting rambutnya. Nampak seperti laki-laki, buat dia seperti itu."


Norman menatap ragu, sampai akhirnya dia menerimanya.


"Aku akan mempersiapkan diri untuk nanti malam."


Dan Norman, dia duduk sambil menatap gunting di atas meja. Membiarkan waktu kembali berputar, dan sadar saat Jan menyimpan nampan berisi bubur di hadapan Norman. "Porsi untuk kalian berdua, aku harap kalian menikmati sarapan terakhir kalian di sini."


Tanpa banyak bicara, Norman membawanya ke lantai atas. Dengan menyimpan gunting di nampan juga. Dia mendapati Malia baru saja keluar dari kamar mandi, dia menyimpan dahulu nampan di atas ranjang kemudian membantu Malia dahulu. "Kenapa kau tidak menungguku?"


"Aku ingin kau datang aku sudah cantik."


"Kau cantik, Malia," ucap Norman duduk berhadapan.


Malia menunduk, menatap nampan di depannya. "Kenapa ada gunting di sana, Norman?"


"Bukan apa-apa," ucap Norman segera menyembunyikannya di belakangnya. 


Malia tersenyum dan mengambil sendoknya. "Mau aku suapi?"


"Tentu." Norman menerima suapan pertama. "Kau tidur dengan nyenyak?"


"Sangat. Bagaimana denganmu?"


"Ada sesuatu yang mengganggu."


"Apa itu?" Malia menyuap untuk dirinya sendiri, kemudian untuk suaminya. "Katakan, Norman."


"Nanti saja," ucapnya dengan tatapan fokus pada makanan di depannya. "Saat selesai sarapan."


Dan Malia menunggu sampai saat itu tiba. Ketika selesai sarapan dan Norman hendak membawa nampan ke lantai bawah, Malia menahannya. Dia menggeser nampan itu ke sisi ranjang lain yang membuat tidak ada batas diantara mereka. 


"Katakan."


"Nanti saja."


"Norman."


Akhirnya pria itu menarik napasnya dalam. "Malam ini, kau akan pergi dengan Jan dan Jess."


"Dan dirimu?"


"Aku akan mencari titik yang membuatmu selalu dalam bahaya, akan aku buat titik itu hilang setelah aku tindas."


Malia dibuat terkekeh karenanya. Melihat wajah Norman yang murung, membuat Malia mengangkat tatapan pria itu hingga manik mereka kembali beradu. "Aku tahu, kau akan menyuruhku menggunting rambut?"


Norman menggeleng. "Malia…"


"Lakukan saja," ucapnya pelan, dia mengambil gunting itu dan memberikannya pada Norman. "Aku ingin kau yang melakukannya untukku. Ayolah."


Wajah Malia yang tersenyum membuat Norman sedikit tenang. Perlahan, tanpa bicara Norman mendekatkan gunting ke belakang rambut Malia. 


Dan kemudian terdengar suara pelan rambut yang terpotong. "Maaf, aku bahkan tidak bisa menjaga sehelai rambutmu, Istriku."


---


**Love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2