Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 64


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Malia menuduk saat helaian rambutnya terpotong. Seakan slow motion, bagaimana helaian itu jatuh semakin banyak hingga akhirnya suara gunting memotong terhenti. Membuat tatapan Malia terangkat, menatap Norman yang tidak bisa lepas dari manik cokelat itu.


"Kenapa? Apa aku jelek?"


Norman menggeleng. "Kau cantik," ucap Norman mengusap rambut pendek Malia yang hampir menyerupai dirinya, benar-benat pendek sampai di beberapa titik kulit kepalanya terlihat.


"Ada apa, Norman? Apa aneh melihat wanita berambut pendek?"


"Maafkan aku."


"Hei." Malia segera naik ke pangkuan suaminya dan menenggelamkan wajah Norman di dadanya. Dia mengusap punggung Norman yang bergetar. "Its okay."


Norman menggeleng. "Maaf."


"Tidak apa, Norman. Kita manusia, yang kita lakukan hanya mengikuti alur permainan dunia."


Hingga getaran punggung Norman mereda, pria itu baru berani mengangkat tatapannya. Melihat manik istrinya yang begitu menenangkan. 


"Sudah tenang?"


Norman mengangguk. "Ingin mandi bersama?"


"Tentu," ucap Malia memberikan kecupan di hidung Norman, membiarkan suaminya mengangkatnya.


"Tidak dalan bathub?"


"Mari mencuci rambut barumu."


Malia bertumpu pada Norman, tangannya memegang pinggang suaminya saat air shower membasahi. Dia memejamkan mata, membiarkan Norman menghadang beberapa tetes dengan kepalanya.


"Apa kau ingin memakaikan aku shampoo, Norman? Rasanya gatal."


Norman terkekeh, dia segera melakukannya. Mengusap rambut pendek Malia sebelum akhirnya menyatukan dahi mereka.


Saling terdiam selama beberapa saat, hanya terdengar suara air berjatuhan hingga akhirnya Norman mendaratkan ciuman di bibir Malia. Berpangutan lama, hingga tangan Malia menghentikan gerakan tangan Norman yang terangkat menuju ke pangkal pahanya. 


"Ini bukan waktu yang tepat."


Norman terkekeh. "Ya, bukan waktu yang tepat. Haruskah kita akhiri?"


Keduanya fokus membersihkan badan, Malia dibantu oleh Norman kembali berpakaian. Dia mendudukan istrinya di pinggir ranjang.


"Sebentar, aku akan pergi ke bawah memeriksa sesuatu."


Malia mengangguk.


Ke bawah, Norman menemui Jess yang sudah menyiapkan sesuatu untuknya. "Kau mendapatkannya?"


"Ini akan pas dengan ukuran tubuh Malia. Bisa kau mendandaninya layaknya pria?"


"Apa ini?"


"Anting palsu untuk di bibir, biarkan Malia mengenakannya."


Norman ragu, hingga dia melihat Jan keluar dengan pakaian layaknya rock n roll, dengan rambut yang juga sudah terpotong. "Bagaimana?"

__ADS_1


"Lihat, Señor, tidak buruk bukan?"


Kembali menatap Jess. "Entah jika Malia yang mengenakannya."


"Coba saja," saran Jan. "Kita akan berangkat malam ini bukan?"


Norman mengangguk. "Menuju sore ini." dia segera menaiki tangga membawa papper bag untuk diberikan pada Malia. Dia kembali terpana melihat tampilan baru istrinya, tidak ada lagi rambut indah di sana, yang panjang dan selalu Malia mainkan. Membuat Norman kembali menyesal.


"Mereka akan tumbuh lagi, jangan khawatir."


Norman terkekeh, dia memberikan papper bag itu. "Ini yang akan kau kenakan nanti."


Malia mengerutkan keningnya. "Apa rencananya?"


Norman menggeleng tidak percaya sambil menahan tawa. "Kau mendengarnya malam tadi, Malia."


"Bagaimana kau tahu?"


"Bagaimana aku tahu? Aku mencintaimu."


"Itu bukan jawaban," ucap Malia melemparkan bantal ke tubuh Norman. "Bagaimana kau tahu aku di sana?"


"Mudah saja, kau melangkah mendekat."


Kalimat itu mengingatkan Norman, akan kaki Malia yang tidak normal. Itu yang dijadikan deskripsi dalam pencarian Malia untuk anggota El Sinaloa. 


"Ada apa, Norman? Kau mengkhawatirkan kakiku?"


Norman menggeleng, dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Membuat Malia memaksanya duduk di hadapannya. "Aku akan baik-baik saja."


Norman mengangguk. "Aku tahu, anggota rock itu bukan anggota El Sinaloa. Lagipula kau akan berdandan hingga tidak akan dikenali."


***


Marc tersenyum puas saat dia mendapatkan Dennis kembali terbangun, dengan sejuta rencananya yang cerdik. Membuat Marc yang menatap Dennis minum obat menepuk pundah pria muda itu. "Kau harus segera sembuh dan temukan wanita itu."


"Aku akan balas dendam pada mereka."


"Aku tidak peduli apa yang kau inginkan, akan kau dapatkan. Tapi kembalikan cucuku padaku."


"Akan aku bunuh istrinya," ucap Dennis dengan mata penuh amarah, menatap dinding yang ada di depannya, dengan tangan mengepal.


"Aku mendukungmu, Dennis. Lakukan apa yang kau inginkan."


Dennis tiba-tiba saja tertawa saat dia memikirkan apa yang akan terjadi dengan Malia dan Norman.


"Lalu kenapa kau tidak melakukan pencarian untuk Norman?"


"Jangan khawatir, Señor. Dia akan datang saat istrinya mati."


Marc ikut tertawa, dia kembali menepuk pundak Dennis. "Aku tahu aku bisa mengandalkanmu."


"Dia telah membunuh kekasihku, aku akan melakukan hal yang sama."


"Berkatmu aku telah membalas dendam, kini aku hanya ingin cucuku kembali."


Dennis terlalu bodoh, dia tidak tahu Marc kembali memanfaatkannya. Seringnya berbohong membuat Marc lihai dan membuat Dennis kembali tertipu. "Aku akan memberikan El Sinaloa untukmu. Aku menyelamatkanmu, kini giliranmu."


Dennis meregangkan otot-ototnya, dia beranjak dari ranjangnya dan melangkah keluat dari sana. Dia menatap pusat El Sinaloa bekerja, kini sepenuhnya berada di Campo Morado. 


Juga pusat informasi, Dennis bisa mengumpulkan El Sinaloa kapan saja. Dan dia akan melakukannya saat hendak membunuh Malia nanti.

__ADS_1


Marc mengikuti dari belakang. "Apa kau ingin sesuatu, Dennis?"


"Ruangan apa itu? Kenapa tidak terpakai?"


"Itu para perawat dan para pekerja yang kehilangan nyawa mereka."


Dennis mengangguk mengerti, dia melangkah dan berhenti di pagar pembatas. Dirinya berada di tingkat kedua dari lantai paling atas atau permukaan tanah, sementara di lantai ketiga lah adanya aula yang sangat besar berbentuk bulat.


Dennis kembali tertawa. "Aku akan membunuh Malia di sana."


"Dan aku akan sangat menyukainya."


Dennia menengok pada keributan di lantai pertama, tepatnya di permukaan tanah. "Ada apa di sana?"


"Aku akan memeriksanya," ucap Dennis melangkah cepat.


Tubuhnya memang tidak sesehat sebelumnya, tapi Dennis sudah memiliki berbagai rencana licik dalam otaknya.


Dia melangkah menaiki lift menuju lantai pertama, di mana dia melihat ada keributan dalam berbicara.


"Ada apa ini?"


"Señor Dennis."


"Apakah dia yang mengadakan syaembara? Tentang wanita bernama Malia itu?"


"Apa yang ingin kau katakan, Pengedar?" Tanya Dennis mengingatkan posisinya, dia mengisyaratkan pada yang lain agar melepaskan pria itu. "Katakan."


"Aku menemukannya, lihat ini."


Kening Dennis mengkerut saat dia mendapati foto pria itu, di sana ada wanita yang tidak Dennis kenal. "Siapa dia?"


"Dia--"


Dennis menghentikan ucapan pria itu dengan todongan senjata. "Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?"


"Aku… aku pernah mengambil persediaan untuk ke Venezuela, Señor. Aku pernah ke sini."


Akhirnya Dennis mau mendengarkan. "Katakan."


"Wanita ini mirip dengan wanita yang selalu memerintah dan mengancam saat aku akan mengambil pasokan narkoba."


"Siapa?"


"Wanita berkepala botak yang penuh tatto dan luka."


Dan hanya ada satu wanita seperti itu yang Dennis kenal, dia kembali melihat layar ponsel pria itu. Dan Dennis mendapati kemiripan di sana. "Jess?"


"Ya, aku rasa dia. Wanita bernama Malia itu bersamanya, aku pernah bertemu dengannya."


Dennis menatap geram. "Lalu kenapa tidak kau tangkap?"


"Karena senjataku hilang, aku butuh lebih banyak."


Dennis menyeringai, "Bukan hanya senjata yang akan kau dapat, tapi juga pasukan pembunuh."


---


**Love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2