Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 80


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘😘


.


.


"Aku melihatnya, Malia sepertinya sama sepertimu. Haruskah kita memanggil Jullian?"


Sepasang suami istri itu melangkah menuju mobil, menjauhi rumah Norman dan Malia.


"Jangan libatkan dia," ucap Louis enggan berurusan lagi dengan Jullian. "Aku enggan berurusan lagi dengan Keluarga Hudson."


"Tapi mungkin Malia membutuhkan ini."


"Tidak, dia akan bangun. Percaya padaku, jangan mengandalkan manusia dalam semua hal, ingat? Kita punya Tuhan."


Lucia berdecak, dia menggandeng tangan Louis sambil mengayun ayunkannya. Sesekali dia menyender. 


Saat hendak masuk mobil, Lucia terdiam.


"Ada apa, Sayang?"


"Apa kita melupakan sesuatu?" Tanya Lucia.


"Apa? Kita tidak melupakan apapun?"


"Louisa?"


"Dia bersama Nanny dan Papa."


Lucia diam sesaat, dia berpikir keras. "Aku membawa beban saat datang, kenapa sekarang tidak?"


Sampai keduanya mengadukan pandangan, ingatan akan benda yang dilupakan itu datang begitu saja. 


"Astaga Leon!" teriak keduanya.


Lucia berlari lebih dulu. Dia melupakan putranya yang ditidurkan di salah satu kamar di rumah Norman, dan keluar tanpa dia.


Sebelum mencapai pintu, Norman lebih dulu membuka pintu dengan Leon yang sudah bangun di pangkuannya. 


"Mencari sesuatu?"


"Aku melupakannya," ucap Lucia mengambil alih. "Thank you."


"Pukul 8 pagi. Aku akan menjemput Louisa besok."


"I see. Good Night, Norman."


"Good Night."


Lucia kembali, menuju Louis yang berjalan pelan. "Benda ini yang kau lupakan?"


"Hampir saja benda ini ditinggalkan."


Louis terkekeh, dia mencium puncak kepala Leon.


Sepanjang perjalanan, tangan Louis menggenggam tangan Lucia yang ada di sampingnya. Sambil mengemudi, pria itu mulai bercerita, "Aku akan meninggalkan kapal pesiar di sini."


"Tidak masalah, kau punya banyak bukan?"


"Ya, apa kau tahu, Sayang?"


"Apa?" Lucia menoleh.


"Malibu dikunjungi peselancar dunia lebih dari 3 juta pertahun."


"Lalu?"


"Aku rasa jika aku bu--"


"Jangan coba coba mengusik rumah adikmu."


Louis terdiam seketika, dia menatap sesekali Lucia yang memajukan bibirnya. "Kau marah?"


"Tidak ada yang membuatku marah."

__ADS_1


"Baiklah."


Keheningan memendam keduanya, sampai akhirnya sampai di hotel. Nanny dan Louisa sudah berada di sana lebih dulu, dengan Louisa yang telah tertidur.


Lucia pergi ke kamar untuk mengganti popok Leon. Louis menyusul. "Kita akan pulang besok?"


"Ya, setelah Louisa bermain," ucap Lucia.


"Apa yang tadi kau katakan pada Norman?"


"Untuk tidak berhenti berharap." Lucia kembali menggendong Leon, mendekati Louis yang duduk di sofa. "Aku melihatnya."


"Apa yang kau lihat?"


"Luka luka, Norman."


"Kau mengintip?"


Lucia menatap tajam Louis. "Tidak, dia memperlihatkannya padaku, memberitahu kalau Malia punya banyak luka seperti itu. Dia takut Malia tidak memafkannya."


"Kau memafkanku."


Lucia menggeleng tidak percaya. "Ya, karena Louisa."


"Apa?" Louis menatap terkejut. "Kau tidak mencintaiku?"


"Setelah apa yang kau lakukan padaku?"


"Sayang…."


"Aku hanya bercanda," ucap Lucia mencium pipi Louis. "Kenapa kau begitu tegang?"


Louis menarik napas dalam. "Ceritaku tidak beda jauh dengan Norman, bukan begitu?"


"Ya well, kalian adik kakak yang menyebalkan."


"Aku tidak bisa hidup tanpamu."


Lucia tersenyum, dia mengizinkan Louis menciumnya. "Aku tahu."


"Astaga, dia sangat enggan berbagi."


***


Norman menatap Malia yang sedang dipotongkan kukunya oleh Jan. "Aku akan pergi sebentar."


"Kau bisa mempercayakannya padaku."


"Telpon aku jika terjadi sesuatu."


"Baik, Señor."


Norman meninggalkan Jan bersama beberapa dokter di sana untuk menjaga Malia. Sementara dirinya memiliki janji untuk ditepati pada Louisa. Berbeda dengan Jess dan Yoseph, keduanya masih berada di hotel. Bukan untuk melakukan hal aneh, tapi meminimalisir keluarnya informasi mengenai El Sinaloa dan menyamarkan keberadaannya.


Mengendarai bugatti hitam, Norman menjemput Louisa yang sudah ada di loby hotel bersama Nanny.


"Uncle…." Louisa berlari ke pelukan Norman.


Anak perempuan dengan tas boneka di punggungnya, bando telinga kelinci menghiasi.


"Are you ready?"


"Allways," ucap Louisa turun, dia menggenggam tangan Norman sebelum melambai tangan pada Nanny. "Good bye, Nanny."


Mereka hanya pergi berdua, akan merepotkan jika membawa sepasang suami istri dan bayi.


"Kita akan pergi ke mana dulu, Uncle?"


"Mana yang Lee inginkan? Ada istana boneka di sekitar sini, ada juga taman air."


"Dimana Lee bisa mendapatkan bando dan anting anting?"


"Well, itu di dunia boneka."


Louisa bertepuk tangan saat mobil berjalan.

__ADS_1


"Sudah sarapan?"


"No."


"Wow, kau sungguh ingin menguras uangku, Lee."


Louisa tertawa.


Dan tanpa Norman sadari, dia merasa lebih baik bersama dengan keluarganya. Ketakutan yang menghantui hilang perlahan, Norman melihat nyata buah dari rasa sakit Lucia selama ini. Dan semuanya berakhir bahagia.


"Ada apa, Uncle?" Tanya Louisa yang sedang memakan wafflenya.


"No, aku hanya senang melihatmu."


"Ya, Lee juga."


"Jadi, bagaimana sekolahmu?"


"Sangat baik. Bagaimana dengan Dania?"


Norman terdiam seketika, dia menatap manik Louisa yang fokus pada makanan. "Kau bilang sesuatu, Darling?"


"Lee tidak melihat Dania."


"Ya, Dania telah pergi jauh."


"Sangat jauh?"


"Ya," ucap Norman agak kesal membahas wanita itu. Membuatnya menarik napas dalam.


"Apa kau sesak, Uncle?"


***


Norman dan Louisa bermain sampai sore hari, mereka membeli mainan sampai isi mobil penuh. Dan karenanya, Louisa terlambat naik pesawat. Hal itu membuat Norman langsung membawa Louisa ke bandara. 


Sesampainya di sana, Louis, Lucia, dan Andrean sudah menunggu dengan wajah mereka yang masam.


"Kau terlambat, Norman."


"Maaf, aku tidak bisa berhenti membawa Louisa bermain."


"Mana dia? Kenapa tidak keluar?"


"Louisa tertidur," ucap Norman menatap ke dalam mobil.


Louis berdecak, dia membawanya dari dalam. "Aku harap bisa lebih lama di sini."


"Tidak apa, kalian pergilah."


Satu per satu, mereka berpelukan dengan Norman. Sampai yang terakhir, itu adalah Andrean. Dia memeluk lama putranya, mengusap kepalanya. "Jangan lupa pulang, kau adalah keluargaku, anakku."


"Baik, Papa."


"Kau melakukan yang terbaik," ucap Andrean mengusap pipi Norman dan pergi.


Mereka semua menjauh, sampai menghilang di balik pintu. Norman merasa…. Dia jauh lebih baik.


Dan sekarang, waktunya dia merajut harapan dengan kembali pulang. 


Namun, saat dia membuka pintu mobil, seseorang menelponnya. Itu adalah Jess.


"Jess, ada apa?"


"Señora Malia sadar," ucap Jess membuat Norman menegang. "Dia sedang bersama dokter, kami tidak masuk sebelum menerima izin darimu."


"Malia…. Sadar?"


"Dia membuka matanya, Señor."


----


**Love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2