
Vote sebelum membacašš
.
.
Dennis yang tertawa terbata-bata membuat Marc penasaran, pria tua itu mendekat, untuk menanyakan apa yang terjadi. "Kenapa, Dennis?"
"Kau tidak akan percaya, SeƱor, tuhan berpihak pada kita, seseorang mengatakan kalau dia bertemu dengan Malia."
"Bagaimana bisa?"
"Salah satu anggotamu, bernama Jess. Dia berkhianat."
Tangan Marc mengepal kuat. "Siapa dia?"
"Hanya pengedar tidak tahu malu. Aku akan membereskannya, aku rasa di sana Norman berada."
Marc tersenyum. Saat Dennis menyimpan rokok di mulutnya, Marc menyalakannya. Sekarang, pria tua itu seolah yang memuja Dennis, demi satu tujuan yakni mendapatkan Norman dan Malia. Dia tidak ingin Norman memiliki kelemahan, dia hidup untuk membentuk karakter pria itu.
"Akan memakan waktu menuju Acapulco, mungkin mereka sudah bergerak."
"Aku mengerahkan pasukan terbaik," ucap Dennis berjalan menuju lab, diikuti oleh Marc yang ada dibelakangnya. "Dan aku akan memakai senjata biologis terbaik."
"Apa yang akan kau buat?"
"Yang mampu melumpuhkan tubuh lebih lama."
Pria yang berjaga di sana mempersilahkan Marc dan Dennis masuk tanpa pertanyaan dari mereka. Marc hanya mengikuti, untuk saat ini dia menuruti semua keinginan Dennis.
Menunggu pria itu meracik sesuatu, Marc hanya menonton di pinggir lab.
"Maaf, SeƱor, kau harus memakai masker," ucap seseorang mendatangi Marc.
Pria tua itu menerimanya sambil kesal. "Dimana para perawat itu?"
"Aku sudah membereskan mereka, sebagian mereka aku pulangkan."
Sebelum Marc mengatakan sesuatu, wanita itu melanjutkan, "Aku menutup mata mereka, jangan khawatir."
Marc kembali mengatup bibirnya, dia diam di sana menatap Dennis. "Apa yang sebenarnya kau lakukan, Nak?"
"Aku membuat sesuatu yang akan melumpuhkan Norman dan Malia."
"Ingat perjanjiannya."
"Ya, aku ingat," ucap Dennis fokus pada pekerjaannya.
Marc yang kesal duduk di sana segera bergegas pergi dari sana, dia menatap kesal pada pekerja yang mereka culik dan tidak sengaja menyenggol bahunya. Marc kembali pada ruangannya yang aman, tapi tidak nyaman. Di sana hanya ada ranjang, kamar mandi di sini terbatas. Benar-benar tempat paling tidak nyaman, tapi aman dari berbagai serangan apapun. Terlebih lagi, tidak ada yang tahu tentang El Sinaloa yang berada di Campo Morado.
Marc mengisyaratkan pada Frank --tangan kanannya yang sesungguhnya-- untuk mengikuti langkahnya ke ruangan Marc.
"Ada apa, SeƱor?"
"Dennis seperti psikopat, apa kau yakin dia baik-baik saja?"
__ADS_1
"Dia sudah bangun dan punya rencana untukmu, SeƱor."
Marc berdecak. "Bagaimana jika dia melukai Norman?"
"Dia berjanji tidak akan melakukannya, SeƱor."
Marc menggeleng, tidak percaya. "Dia bangun kembali sebagai psikopat."
"Jangan khawatir, SeƱor, aku akan membunuhnya begitu kita mendapatkan SeƱor Norman dan SeƱora Malia kembali."
Marc mengangguk, dia mengisyaratkan Frank untuk mengambilkan sebotol alkohol untuknya. Bibirnya yang keriput meneguknya dengan cepat, membuat beberapa cairan keluar dari mulutnya dan jatuh menuruni lehernya yang keriput. "Awasi dia terus, dia membuat rencana gila."
"Aku melakukannya, SeƱor."
"Kau mendapatkan sesuatu?"
"No, SeƱor. SeƱor Norman pintar bersembunyi."
"Aku dengar Dennis akan mengirim beberapa orang ke Acapulco, kau harus mengikutinya."
"Akan aku lakukan, SeƱor."
Dan saat Frank hendak keluar mengecek sesuatu, bertepatan dengan Dennis yang masuk dan membawa sebuah jarum suntik. "Apa yang hendak kau lakukan?"
Dennis menyeringai. "Aku ingin bertemu dengan Marc."
"Untuk apa itu?"
Dennia menatap Marc, mencari jawaban. Dan pria tua itu mengizinkannya masuk, membuat Frank enggan pergi dari sana.
"Ada apa, Dennis?"
"Kenapa harus aku yang melakukannya?"
Dennis mengangkat bahunya. "Karena aku ingin kau yang mencobanya, untuk melihat sejauh mana kau percaya padaku."
"Hentikan itu," ucap Frank.
Marc segera mengisyaratkannya untuk diam.
"Kenapa, SeƱor Marc? Kau tidak percaya padaku?"
Marc menatap Frank sesaat, pia itu menggeleng agar Marc tidak melakukannya. Namun, Marc berkata lain. Dia membutuhkan Dennis untuk menjadi tameng dan melakukan pekerjaan kotornya. "Baiklah, lakukan."
"Tenanglah, SeƱor Marc, akan aku pastikan kau tidak mati."
***
Norman tidak bisa berhenti berdoa, saat waktu semakin berputar dia semakin ketakutan.
"SeƱor, kau harus makan siang, ini akan menjadi perjalanan yang panjang," ucap Jess memberikan Norman burittos.
"Bagaimana dengan Malia?"
"Jan sedang membantunya bertransformasi."
__ADS_1
Keterdiaman Norman membuat Jess kembali bertanya, "Bagaimana denganmu?"
"Jan bilang ada yang melihat Malia, mereka pasti akan datang. Akan aku bunuh mereka setelah mendapatkan apa yang aku inginkan."
"Aku akan membawanya secepat mungkin."
"Berhenti mengikuti rombongan itu jika kau sudah sampai di Toluca."
"Aku mengerti, tenang saja."
Norman memakan makan siangnya, tanpa ada nafsu. Sampai akhirnya dia mengakhiri. "Aku harus melihat keadaan Malia."
Sebelum Jess membuka mulutnya, Norman sudah pergi ke lantai dua.
Dia membuka pelan pintu, bersamaan dengan Jan yang hendak keluar. "Ups," gumam jan.
"Di mana Malia?"
"Ada di dalam."
Dan Norman tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Istrinya, kekasihnya, kesayangannya kini bertransformasi layaknya pria.
Bukan kebanggan yang Norman dapatkan, melainkan rasa kegagalan.
Malia segera menggeleng. "Jangan berfikir yang macam-macam."
"Maafkan aku, Malia."
"Hentikan, kita sudah membahasnya."
Membuat Norman naik ke atas ranjang, dia duduk di hadapan Malia yang kini berpenampilan seperti pria rock. Tangan Norman menyentuh wajah Malia.
"Aku masih istrimu."
"Boleh aku menciumu?"
Malia terkekeh. "Kau sedang meminta izin?"
Dan Norman, tanpa berkata lagi dia menyatukan bibir mereka. Menarik napas dalam dan memangut bibir kekasihnya.
Mereka akan berpisah lagi, Norman harap ini tidak untuk selamanya.
"Maliaā¦."
"Ssstt, tidak apa, Norman. Kita yang berencana, Tuhan yang menentukan."
Dan saat Norman mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, dengan suara klakson berisik, hati Norman tercubit kembali.
"Hei, Norman, tidak apa. Semuanya akan baik-baik saja, oke?"
"Maaf, Malia, kau harus melewati ini."
Malia menggeleng, dia memeluk suaminya erat. "Kita akan melewati ini bersama-sama, dengan seizin Tuhan dia akan membantu."
---
__ADS_1
**Love,
Ig : @Alzena2108**