Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 26


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


Malia tidak bisa tidur semalaman, bahkan dia sudah berada di lantai bawah menunggu kedatangan Norman. Malia tidak bisa menghubungi suaminya, mengingat tidak ada signal di tempat ini.Ā 


Maka darinya, Malia hanya bisa menunggu pagi hari agar dia bisa keluar dari rumah ini. Menanti Norman sejak semalaman membuat Malia memgantuk, tanpa disadari matanya mulai terpejam sampai akhirnya Malia tertidur di sofa.


Satu jam…


Dua jam…


Tiga jam...


"SeƱora, SeƱora, bangun. Kenapa anda tidur di sini?"


Malia membuka matanya, menatap pelayan yang membangunkan. "Apa Norman sudah datang?"


"Tidak ada satu pun yang masuk dan keluar, SeƱora."


"Apa kau tahu kemana Norman pergi?"


"Anda sudah menanyakan itu sejak kemarin, SeƱora, ini yang ke dua puluh kalinya."


Malia mengusap wajahnya kasar, dia lupa akan hal itu. Kepalanya terasa pening, tidur menjelang pagi membuat tatapan matanya tidak fokus. "Maaf, apa ada yang tahu kemana Norman pergi?"


"No, SeƱora, Tuan pergi membawa ferarri hitamnya."


Malia menarik napas dalam, dia kembali merebahkan kepalanya di punggung sofa. "Bisa kau ambilkan aku teh hangat?"


"SĆ­."


Percuma Malia memegang ponsel, tidak ada koneksi di sini. Telpon rumah pun tidak aktif, benar-benar membuatnya kebingungan. Andai Malia bisa menyetir dengan kaki yang sempurna, dia akan keluar mencari Norman.


"Ini minuman anda, SeƱora."


"Gracias." Malia meminumnya, menenangkan pikiran sesaat sebelum kembali bertanya. "Apa Marc akan keluar?"


"Tidak, SeƱor Marc akan sarapan di kamarnya."


"Bisakah aku menemuinya?"


Pelayan itu tediam sebelum akhirnya menjawab, "No, SeƱora. Anda tidak bisa menemuinya, SeƱor Marc sedang beristirahat."


Malia mengangguk mengerti. "Baiklah, aku mengerti."


"Ada yang bisa saya bantu lagi?"

__ADS_1


"Apa kau tahu siapa pria yang menjadi supir di sini?"


"Saya pelayan yang tidak tahu apapun, SeƱora." Pelayan itu pergi, dia seolah menghindari pertanyaan itu.


Pemilik manik cokelat itu segera menghabiskan tehnya, dia mengambil tongkat dan mencoba melangkah keluar. Dengan kaki yang terseret-seret, Malia menggapai pintu hendak menemui seseorang yang biasanya menjadi supir.Ā 


Sayangnya tidak ada siapapun di luar. Malia melangkah menuruni tangga yang terbuat dari kaca, cukup licin hingga tangan kanannya menggenggam kuat pegangan.Ā 


Malia baru sadar, setiap pria yang berkeliaran di sekitar rumah yang disebut Norman sebagai bodyguard itu berbeda-beda, begitu pula dengan supir atau seorang yang berjaga, hanya pelayan yang tetap.


Menuju tempat mobil di belakang, Malia kembali melangkah tersered-sered. Sesat Malia menarik napas, membiarkan oksigen segar memenuhi paru-paru. Kesegaran yang diberikan tempat ini memang tidak diragukan, tapi tidak cukup memberikan ketenangan hati.


Malia ingin Norman, dia ingin mengetahui keadaan suaminya.Ā 


"Kenapa tidak ada orang?" guman Malia saat melihat bagian belakang rumah. Menarik napas dalam, Malia hendak menuju basement tempat mobil koleksi Norman maupun Marc berjajar di sana.


"SeƱora, apa yang anda lakukan di sini?" Tanya seorang pria menyadari Malia masuk ke dalam basement.


"Apa kau bisa mengantarku ke kota?"


"Ke kota?"


"Acapulco, bisa kau mengantarku ke sana?" Tanya Malia mendekat.


Pria itu mengisyaratkan agar Malia berhenti. "Jangan mendekat, SeƱora, bagian basement ini tidak baik untuk anda. Mari saya antar ke atas."


"Maaf, SeƱora, saya tidak bisa pergi tanpa izin SeƱor Marc atau SeƱor Norman."


Malia kesal, apalagi saat dia melangkah pria itu menghalangi. "Menyingkirlah!"


"Anda perlu izin, SeƱora."


"Astaga," ucap Malia dengan mata yang mulai berair.


Dia pergi dengan kakinya yang terpincang, dia mengusap air matanya yang hendak menetes. Jantungnya berdetak kencang, memikirkan Norman yang mungkin sedang tidak dalam keadaan baik. Dia mengkhawatirkan suaminya.


Maka dari itu, Malia memberanikan diri masuk ke dalam kamar Marc setelah mengetuk pintunya. "Marc, aku perlu pergi ke Acapulco untuk menghubungi Norman, dia tidak pulang semalaman, aku tidak tahu harus bagaimana, dia mungkin di luar saa sedang tidak dalam keadaan baik?"


"Malia…." Marc yang sedang tertidur dilindungi kelambu itu tertawa. "Kau berbuat kesalahan, bukankah pelayanku bilang kau tidak boleh ke sini?"


****


Malam kembali datang, Norman kembali membuka matanya setelah sekian lama dia terlelap. Dengan tubuh yang pegal, Norman bangun. Dia melihat sekeliling, tanda menandakan Dania tengah pergi bekerja. Dengan meninggalkan memo bertuliskan, "Aku bekerja, Sayang. Jika kau merindukanku, tetaplah di tempatku."


Norman meremaskan, dia menatap punggungnya lewat cermin. Semua luka sudah tertutupi, Dania cukup lihai dalam mengobati, dia bahkan memiliki alat menjahit luka.Ā 


Norman memakai kaos hitamnya, sambil menahan erangan rasa sakit. Dia menarik napas dalam, Norman memutuskan untuk pergi ke bar.


Memakai motor milik Dania, Norman memarkirkannya di pinggir jalan yang dipenuhi oleh wanita-wanita seksi pencari mangsa.Ā 

__ADS_1


"Holla, tampan, apa kau ingin tidur denganku? Aku punya ranjang yang bagus di sekitar sini," ucap seorang wanita mendekat.


Pencahayaan yang kurang membuat wajah wanita itu tidak jelas. Melangkah mendekati cahaya, Norman tahu wanita itu dalam pengaruh narkoba.Ā 


Tangannya mengelus dada Norman. "Ayook kita bercinta, Sayang."


"Lepaskan."


"Aku ingin bersamamu."


Dan tanpa rasa kasihan Norman mendorong, membuatnua terjatuh berteriak dan menarik perhatian wanita lain yang juga mencari mangsa.


"Kenapa kau menolakku, Sayang?" Tanya dia dalam pengaruh narkoba. "Aku baik-baik saja."


Sampai seorang pria bertubuh besar yang selama ini mengawasi dari mobil keluar, dia menarik Norman dan mencengram leher bajunya. "Beraninya kau melukai barangku?"


Membalas pertanyaan dengan pukulan, Norman membuat pria lain datang.Ā 


"Kenapa kau buat masalah di sini? Kau tidak tahu ini tempat siapa?" Pria berkepala plontos itu menodongkan pistol pada kepala Norman. "Kematianmu bahkan tidak akan diketahui."


Wanita dalam pengaruh narkoba itu bangun, dia tertawa melihat Norman. "Makan itu, sialan."


"Cari mangsa lain," perintah sang pria berkepala plontos. "Dan kau akan segera mati."


Tidak ada ekspresi dalam wajah Norman, dia memegang pistol yang menempel di keningnya. Membuat lawan bicaranya tertawa. "Kau menginginkan kematian? Baiklah, kau akan mati di tangan anggota El Sinaloa."


Norman yang kesal mengeluarkan pisau dari saku celananya. Sepersekian detik Norman menusukan pisau itu di leher pria berkepala plontos.


Yang membuat teman pria itu datang, hendak membalas. Namun terhenti saat melihat pisau yanh ditancapkan Norman.


"Hentikan," perintahnya saat temannya yang lain hendak menyerang Norman.


Pemilik manik abu itu mengatakan, "Perbaiki pelayanannya, tidak ada batang yang ingin masuk ke dalam lubang wanita setengah sadar."


Norman berjalan menjauh, memasuki jalan di mana di sana lebih banyak kendaraan, banyak orang dan tentu saja area yang lebih hidup.


Masuk ke dalam bar, Norman harus diperiksa identitas. Karena kenyataannya, hanya segelintir orang yang tahu dialah yang kini memimpin El Sinaloa. Tidak termasuk pria yang sedang memeriksa identitas Norman. "Kau boleh masuk."


Satu langkah masuk, Norman mendapatkan notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal.


Yang berisikan :


"Istrimu berbuat kesalahan, waktunya menghukum. Permainan dimulai, Norman. Kau anak yang baik bukan?"


---


**Love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2