
Vote sebelum membaca😘
.
.
"Dan ini saudaraku yang bernama Jan, dia yang menemani Malia akhir akhir ini," ucap Jess memperkenalkan Lucia pada Jan.
"Holla, aku Lucia."
"Senang bertemu dengan anda, Señora."
"Panggil saja aku Lucia, Jan."
"Baik, Lucia."
"Aku akan meninggalkan kalian," ucap Jess. "Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan pada adikku, Señora."
"Panggil aku Lucia, Jess."
"Kau mau ke mana?" Tanya Jan kini pada Jess.
"Aku akan mengantarkan Yoseph pulang ke hotel, kau layani mereka dengan baik."
"Ba--baiklah," ucap Jan membiarkan saudarinya pergi. Dia perlahan menatap Lucia yang begitu cantik, dan Lucia memberikan senyuman padanya.
"Bisa kau bantu aku masak makan malam?"
"Tentu, Señora."
"Lucia."
"Baik, Lucia."
"Jadi…. Kau teman Malia?"
"Ya, banyak hal yang kami lewati bersama."
Sembari bercerita, mereka mulai memasuki dapur dan menyiapkan makan malam porsi besar. Pasalnya keluarga Norman datang.
"Apa kau akan tinggal di sini, Jan?"
"Aku rasa begitu, Malia butuh teman."
"Aku setuju," ucap Lucia mulai memecahkan telur. "Bisa tolong buatkan sup jamur untuk putriku?"
"Tentu."
Menyiapkan makan malam dengan dapur langsung menghadap pantai. Rumah ini memiliki bagian depan dari berbagai arah. Setiap sudut memperlihatkan bagian indahnya masing-masing. Berbanding jauh dengan rumah Lucia yang dominan oleh hutan.
"Apa yang sering Norman makan?"
"Dia sering makan junk food akhir akhir ini, Señora."
Sambil memasak, Lucia menatap Louis dan anak anaknya yang bermain pasir di bawah matahari terbenam. Dia tersenyum melihat pemandangan indah itu. Tanpa mereka ketahui, sosok ayah yang terlihat penyayang itu adalah pemimpin klan Dioses La Asesinos.
"Kau punya keluarga yang bahagia, Lucia."
"Wow, kau mendapatiku tidak melakukan tugas." Lucia mengangkat tangannya ke udara.
"Putrimu mirip dengan Señor Louis."
"Kau pernah bertemu dengannya?"
"Aku dengar dari Jess, dia adalah pembunuh Senator saat senjata miliknya tidak bisa masuk ke Madrid. Dia juga yang melakukan penculikan pada anggota kedutaaan Amerika untuk memberi ancaman."
"Wow, aku melihat dia terkenal oleh kejahatannya."
"Aku juga dengar seorang wanita menaklukannnya, membuatnya sedikit memiliki rasa kasihan pada musuh."
Lucia tertawa seketika, menyiapkan makan malam dengan cepat. Setelah selesai, Lucia berkata, "Aku akan menemui anak anak."
__ADS_1
Mendekati arah matahari tenggelem, Lucia mengintip apa yang sedang dilakukan Leon di balik punggung Louis. Ternyata bayi mungilnya sedang tidur manis dengan jari kelingking Louis yang dijadikan dot.
"Louis?"
"Jangan berisik."
Melihat ke sisi lain, ada Louisa yang memejamkan matanya dengan tubuh terjatuh pada hamparan pasir.
"Kenapa kau membiarkan mereka tertidur?"
"Mata mereka tertutup begitu saja."
Lucia berdecak kesal, bagaimana tidak, pakaian Louisa kotor oleh pasir. Perlahan dia berjongkok dan mengusap pipi putrinya. "Sayang… bangunlah…. Ayo bangun…. Waktunya makan malam."
"Makan, Mum?"
"Sí, ayo bangun."
Tangan Lucia menahan tangan Louisa yang hendak mengucek mata. Dia membersihkannya dahulu dari pasir dan menarik Louisa agar berdiri.
"Lihat tangan Mum, ada berapa?"
"Tiga."
"Bagus, kini waktunya makan malam."
"Norman sudah keluar?" Tanya Louis mengingat Norman dan Andrean ada di sebuah ruangan di dalam sana.
"Belum, tapi ini sudah waktunya makan. Andrean tidak makan sejak tadi."
"Ingin Lee ketuk pintu mereka?"
Lucia tersenyum melihat Louisa yang melangkah menjauh sambil menguap. "Well, hanya ada kau dam aku."
"Singaku bisa bangun, Lucia. Jangan sekarang."
"Singa yang mana, huh?"
***
"Tidak apa, semuanya akan baik baik saja sekarang."
"Malia enggam membuka matanya, Papa."
"Dia akan kembali bangun untuk memelukmu."
Andrean mengusap kepala Norman yang berbaring di pangkuannya.
"Aku banyak menumpahkan darah, termasuk darah Marco Valentio. Aku membunuh anggota keluargaku sendiri, Papa." tatapan Norman begitu kosong. "Tapi aku juga membunuh Don."
"Past is past, biarkan semua berlalu. Jangan biarkan mereka memgendalikan, kini hanya tugasmu melindungi Malia."
"Aku takut, Papa… mereka mencari Sang pemilik Alpha, aku telah membunuh ratusan nyawa." Norman mendudukan dirinya, dia tidak menangis, tapi wajahnya memperlihatkan jelas ketakutan mendalam. "Aku takut mereka akan datang balas dendam. Anggota keluarga mereka masih hidup. Bagaimana jika mereka datang, untuk membalas dendam pada pemilik macan yang menghabisi salah satu anggota keluarga mereka? Bagaimana jika mereka memburu Malia, Papa?"
"Tenanglah, Norman. Malia aman bersamamu."
"Haruskah aku bunuh mereka semua, Papa?"
"Norman, tenang."
Pria tua itu menggenggam tangan Norman, membuatnya menarik napas dalam.
"Kau akan bersama Malia, dia aman bersamamu."
Sampai akhirnya ketukan terdengar. "Uncle, Grappa? Boleh Lee masuk?"
Senyuman Norman berkembang saat pintu terbuka. "Kemarilah, Lee."
"Holla, Uncle," ucap Louisa lalu berlari memeluk Norman. "I miss you too."
Norman terkekeh, dia berdiri menggendong Louisa. "Well, ada apa ini?"
__ADS_1
"Mum menyuruh kita makan malam bersama."
"Wow, ini akan menyenangkan."
"Boleh Lee menemui Malia?"
"Setelah makan malam, oke?" Tawar Norman.
"Oke."
***
"Lee ingin ke taman air di Malibu," ucap Louisa kecil menatap Norman dengan mata berbinar.
"Dia meminta pada pamannya," ucap Louis mengangkat tangan. "Itu bebanmu."
"Kita bisa pergi besok, Lee."
"Horeeee! Kita semua?"
"Ya, tentu." Norman menjawab. "Uncle tahu taman air paling bagus di sini."
Louisa bertepuk tangan semakin riang, menampilkan giginya yang putih kecil.
"Sampai kapan kau libur sekolah, Lee?"
"Eumm…." Lucia menggaruk alisnya. "Sebenarnya kami tidak libur sekolah, aku membawanya bolos."
Norman terkekeh. "Kalian akan menginap di sini?"
"Tidak, aku sudah menyewa hotel. Sayang sekali jika tidak ditempati."
Norman berdecak. "Bilang saja kalian saling merindukan."
"Apa itu buruk, Uncle?"
Semua orang di sana kebingungan menjawab, sampai Louisa kembali bertanya, "Apa Malia juga akan punya anak?"
Lucia menjawab, "Tentu dia akan punya, nanti kau bisa bermain dengan sepupumu, Lee."
"Berapa banyak anak yang milik Malia?"
"Pertanyaan itu pantas untuk pamanmu," ucap Louis.
"Kau akan mendapat banyak keponakan," ucap Norman mengadukan hidungnya bersama Louisa. "Kau ingin menemui Malia?"
"Ya, setelah menghabiskan ini."
Sesuai perjanjian, setelah makan malam, Louisa naik ke lantai dua bersama Norman.
Saat diambang pintu, Louisa berhenti melangkah.
"Ada apa, Lee?"
"Apa Malia seperti Daddy dulu?"
Paham dengan apa yang dimaksud, Norman memgangguk.
"Malia bermimpi terus?"
"Dia akan bangun bukan?"
"Daddy dulu bangun karena Lee, mungkin itu bekerja pada Malia."
Norman berjongkok menatap Louisa, dia berbisik. "Coba bangunkan dia."
Louisa mengangguk, dia berlari menuju Malia yang terpejam. Wajah cantik Louisa menatap lekat Malia yang terlihat damai, wajahnya cantik.
"Apa dia sengaja memendekan rambutnya agar seperti Snow White?"
"Anggap saja begitu," ucap Norman yang masih berada di ambang pintu.
__ADS_1
Louisa kembali menatap Malia, dia tersenyum tipis dan menyentuh pipi Malia yang lembut. Louisa berbisik, "Bangun, Malia, Uncle Norman sedih melihatmu tidur terus."
Lalu Louisa menjauhkan wajahnya, tidak lupa dia memberikan kecupan di pipi. "Good Night, Malia. I Love You too. Kau harus bangun dan buatkan aku kue lagi."