Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 53


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Perlahan, Norman kembali mengancingkan pakaian Malia, membuatnya nampak utuh kembali. Lama Norman menatap istrinya, membiarkannya memeluknya kembali saat alam bawah sadar memmerintahkannya.


Entah Malia akan ingat kejadian semalam atau tidak, tapi Norman sangat bahagia menjadi yang pertama bagi Malia. Meskipun mungkin akan banyak menyimpan kebencian bagi perempuan itu. Dia mengambilnya tanpa izin, Norman bahkan belum meminta maaf atas segala yang terjadi pada istrinya itu.


"Maafkan aku, Malia. Atas semua yang aku lakukan," ucap Norman yang tidur miring, membiarkan Malia memeluknya semakin erat.


Pria itu kembali memakaikan pakaian pada Malia begitu semuanya selesai. Norman bahkan tidak memejamkan matanya, dia harus segera bergerak agar Malia cepat keluar dari sini.


Waktu menunjukan pukul tiga dini hari, dan tubuh Malia seolah enggan membiarkan Norman pergi menjauh.


"Aku tahu kau membenciku. Tapi untuk saat ini aku takkan menjauh darimu," ucapnya kembali mengecup kening istrinya.


Perlahan, Norman menyingkirkan tangan Malia yang melingkar di pinggangnya. "Tetaplah bermimpi indah, aku akan kembali."


Norman keluar dari tempat itu. Rasa laparnya membuat Norman pergi ke arah dapur dan memanaskan makanan yang ada dalam kulkas. Bagaimanapun, dia butuh tenaga untuk menghadapi Marc. 


Jess belum memberinya kabar lagi, tentang keberadaan Marc.


Makan seorang diri, Norman tersenyum sendiri mengingat kejadian yang dia lewati bersama Malia. Perempuan itu begitu menjaga dirinya dengan baik, dan Norman akan melakukan hal yang sama pada Malia. 


"Kau akan pergi lagi, Señor?"


"Sí."


"Apa kau butuh sesuatu, Señor?" Tanya Jan.


"Tidak, aku akan mencari jalan keluar dari Guererro terlebih dahulu, yang aman untuk Malia."


"Aku akan menjaganya, kau tidak perlu khawatir."


"Aku percaya pada kalian." Norman menghabiskan makanannya, dia selesai dan berdiri menatap Jan. Dari hatinya yang paling dalam, Norman berkata, "Gracias, untuk semuanya."


"Sama-sama, Señor. Aku senang bisa membantu kalian."


"Jaga dia."


Norman keluar mengendarai mobil yang dia curi sebelumnya, semua barang-barang yang bersangkutan dengan Marc, Norman buang semuanya. Dia tidak ingin terlacak.


Dan saat menyalakan radio, sebuah berita mengerikan Norman dengar…..

__ADS_1


"Penemuan mayat ditemukan di hutan menuju pantai Puerto Del Marquès. Lima mayat itu diidentifikasi sebagai anggota El Sinaloa, masyarakat meyakini mereka terlibat perang dengan kartel lawan yang baru saja muncul. Dan anehnya, jumlah wisatawan dari luar negara bertambah ke Guererro, ingin menyaksikan langsung bagaimana anggota El Sinaloa berkeliaran."


Norman tersenyum senang, rencananya berhasil. Kenyataanya, dia yang membuat skenario tersebut.


Karena Malia akan keluar dari Guererro bersama rombongan wisatawan, menaiki bus dan diantara orang ramai. 


Yang Norman lakukan kali ini, dia perlu mencari jalur wisatawan yang aman.


***


Malia perlahan membuka matanya, dia menatap sinar matahari yang masuk menerobos gorden. Suara anak-anak berangkat ke sekolah dan bus sekolah menjadi penyambut harinya. Malia mengerutkan kening, dia mencoba mengingat.


Sampai akhirnya kenangan buruk datang, Malia mendudukan dirinya seketika. Penyiksaan, pembunuhan, dan penjualan, Malia panik seketika. Dia ingin menangis meraung akan semua ini.


"Tenanglah, Malia, tenang. Kau aman sekarang, kau tidak akan terluka lagi, Malia. Tenanglah."


Malia berhenti menjambak rambutnya sendiri, dia menatap wanita yang ada di depannya. "Jess?"


"No, aku Jan. Saudari kembar Jess."


Malia melepaskan tangan wanita yang memegangnya, kepalanga menoleh ke arah jendela, dimana dia mendengar kembali suara anak-anak yang berlarian juga orang-orang yang terdengar sibuk berangkat bekerja.


"Kau ingin melihat lingkungan di sekitarmu?"


Malia bungkam, tapi dia mengangguk.


"Kau selamat dari pelelangan itu oleh suamimu. Dia yang membawamu kemari."


Malia masih membungkam mulutnya enggan mengatakan apapun, membuat Jan bertanya-tanya apa gerangan yang ada dalam pikiran perempuan bermanik cokelat di depannya.


"Kau dalam pengaruh obat perangsang, itu membuatmu tersiksa. Maksudku….. Señor Norman adalah suamimu."


Malia hanya diam dengan wajah datarnya, dia menengok ke arah kanan ranjang, ada darah mengering di sprai, membuat Malia mulai memgingat kepingan kejadian semalam.


Tidak ingin berlarut dalam hal itu, Malia kembali menengok ke arag jendela.


"Kau masih ingin melihatnya?"


Malia mengangguk, membuat Jan sekuat tenaga membantunya berdiri dan melangkah ke arah jendela. Di sana banyak anak menunggu bus sekolah datang.


"Percaya padaku, kau aman. Ini mungkin masih berada di Acapulco, tapi ini kawasan penuh kedamaian. Dan tenang saja, saat ini Señor Norman sedang mencari jalur agar kau bisa keluar dari sini."


Malia tidak banyak bicara, dia hanya menatap kosong.


"Sebaiknya kau sarapan dan setelah itu minum obat untuk memulihkan tenagamu, bagaimana?"

__ADS_1


"Aku ingin ke kamar mandi."


"Baiklah."


"Sendirian," lanjutnya membuat Jan segera melepaskan pegangan tangannya. Jan segera mengambilkan tongkat untuk Malia dan menunggunya di luar kamar mandi.


Di sana Jan mundar mandir, dia menatap jam di tangannya terus menerus karena perempuan itu tidak kunjung keluar.


"Malia? Apa kau baik-baik saja?"


Tidak ada jawaban, membuat Jan kembali bertanya, "Malia…. Apa kau baik? Bolehkah aku masuk?"


Dan ketika tangan Jan mencoba membuka pintu, itu terkunci. "Malia?"


Tidak ada jawaban, bahkan suara air pun tidak terdengar.


"Malia? Señora?! Jangan membuatku ketakutan."


Pasalnya, itu sudah lebih dari 30 menit.


Dan saat Jan hendak menerobos ke dalamnya, pintu terbuka. Memperlihatkan Malia dengan wajahnya yang basah. "Kau membuatku panik. Tunggu di sini, akan aku bawa sarapannya."


Jan bergegas mengambil bubur gandum manis dengan taburan buah-buahan di atasnya, dia menambahkan segelas susu dan cemilan yang akan menguatkan Malia kembali.


Saat masuk kembali ke kamar, Jan melihat Malia yang menatap kosong ke arah jendela. Perempuan itu terlihat seperti kehilangan arah. "Makan ini, Malia. Kau akan merasa baik dan bugar kembali."


Hebatnya lagi, Malia tidak menolak. Dia menyantap makanan itu sampai hampir habis. 


Jam yang melihatnya hanya diam, dia tahu manik cokelat itu menyembunyikan semua rasa takut sampai akhirnya kehilangan arah.


"Malia…..? Kau aman sekarang, makanlah dengan pelan."


Malia tidak melakukannya, dia menyantap makanan itu dengan sangat cepat.


"Malia…."


Tidak dijawab ataupun di dengarkan.


"Suamimu menyelamatkanmu Malia, tidakah kau bahagia?"


Hingga akhirnya tatapan Malia terangkat, dia menatap manik Jan. Dan menjawab dengan wajah datarnya, "Aku membencinya."


---


**Love,

__ADS_1


ig : @Alzena2108**


__ADS_2