
Vote sebelum membaca😘
.
.
"Jan ada apa?"
Norman menuruni tangga saat mendapati wanita yang menjadi saudari kembar Jess terlihat khawatir. "Jess tidak mengangkat telponku."
"Dia sedang berada di Campo Morado."
"Campo Morado?" Mata Jan terlihat terkejut, pasalnya tempat itu cukup jauh. Perlu tujuh jam menuju ke sana. "Apa yang sedang dia lakukan di sana?"
"Pusat El Sinaloa, aku perlu Jess memeriksa apa yang terjadi di sana."
"Lalu? Jika dia menemukan Marc?"
"Akan aku giring Alpha ke sana dan membantai mereka semua. Aku harus membereskan El Sinaloa dari hal terkecil, tidak boleh tersisa."
Jan mengerutkan keningnya, dia memberikan Norman gula saat pria itu mengisyaratkannya dengan tatapan. "Alpha?"
"Peliharaanku."
"Kau memelihara manusia?"
Norman terlihat menimang jawaban. "Anggap saja seperti itu."
"Sangat menarik," ucap Jan dengan nada ketakutan, dia menatap jam di dinding. "Sudah jam makan siang, aku akan keluar. Malia ingin makan ayam."
"Benarkah?"
Kenyataanya, Jan berbohong. Norman tahu dia tidak ingin mengganggu, seperti tadi pagi. Membuat Jan merasa sangat bersalah. Maka darinya, Jan memilih keluar meninggalkan Norman yang masih menunggu kabar.Â
Apapun yang ada di Campo Morado, dia akan ke sana dan membantai yang ada di tempat itu. Dan akan dia temukan Marc sampai ke ujung dunia.
Norman menimang saat dia memegang telpon rumah, dia ingin menghubungi seseorang. Sampai akhirnya dia berani melakukannya, Norman menghubungi pria lainnya.
"Jullian?"
'Holla, Uncle?'
"Berhenti memanggilku seperti itu," ucap Norman kesal. "Apa ingin kau mencari keberadaan Marco Valentio."
'Marco Valentio?' Jullian terdengar ragu. 'Dia yang memimpin perang narkoba tiga puluh tahun silam? Dia sudah mati bukan?'
"Dia masih hidup, aku perlu kau mencari tahu, akan aku kirim fotonya pada emailmu."
'Tunggu.' Jullian menghentikan Norman yang membuka laptopnya. 'Aku tidak berada di Italia.'
"Dimana kau?"
Jullian terdiam.
"Kau berada di Madrid?"
__ADS_1
'Ini terakhir kalinya aku melihatnya dan bermain dengannya.'
"Astaga, Jullian."
'Aku akan kembali ke Sicillia sebelum Papaku menyadarinya. Tenang saja, dan aku akan cari siapa yang kau inginkan saat kembali.'
Belum juga Norman selesai bicara, Jullian menutup telpon. "Jullian? Oh astaga bocah tengik itu."
Norman melempar telponnya sampai akhirnya benda itu terjatuh. Sadar apa yang dilakukannya tidak akan menghasilkan apapun, dia mengambilnya dan merapikannya kembali.Â
Norman naik ke lantai dua, dia menatap Malia yang memejamkan matanya. Melihatnya terlelap membuat Norman tidak tahan untuk segera membawanya pergi dari sini.
Dia datang ke atas ranjang dan memeluknya.Â
Malia membuka matanya. "Ada apa, Norman?"
"Tidak ada."
Dan Norman, jika Jess tidak kembali sampai sore hari, dia akan membawa Malia pergi seorang diri dan memerintahkan Sang Alpha menyerang ke Campo Morado untuknya.Â
"Norman?"
"Kita akan pergi malam ini, Malia."
"Ke mana?"
"Pergi dari Guererro, aku akan mengantarmu pergi."
"Lalu aku ditinggalkan sendirian?"
Malia mengusap kepala Norman yang menggesek di perutnya. "Aku hanya perlu kau di sisiku."
"Dan aku perlu kau hidup agar jantungku bisa tetap bernapas."
"Norman…."
"Istirahatlah, nanti akan menjadi malam yang panjang untukmu."
****
Jess memilih melarikan diri dari Campo Morado guna memberikan informasi ini kepada Norman. Jika dia menembak Marc dan Dennis di sana, Norman tidak akan mendapatkan apapun apabila dirinya mati ditembak di sana.
Menaiki mobil dengan cepat, hanya dalam waktu tiga jam Jass telah sampai di tempat tujuannya. Dia bahkan tidak makan sejak kemarin, dia hanya ingin mengabarkan ini segera pada Norman. Ponselnya dia buang akibat pemeriksaan saat masih menjadi perawat.
Sampainya di rumah Jan, Jess masuk tanpa basa basi. Membuat Jan yang melihat saudarinya dalam balutan perawat itu mengerutkan keningnya. "Jess? Kaukah itu?"
Baru juga beberapa detik Jan memeluk Jess, wanita berkepala botak itu melepaskannya secara paksa.Â
"Jess ada apa?"
"Dimana Norman dan Malia?"
"Mereka akan pergu malam ini."
"Mereka tidak bisa melakukannya," ucap Jess hendak naik ke lantai atas, tapi Jan menghentikannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa keningmu terluka?"
"Jan aku tidak punya waktu, aku harus bicara dengan Norman."
Tanpa berpikir panjang, Jess meninggalkan Jan seorang diri. Dia mengetuk pintu kamar Malia sebelum membukanya, Jess mendapati keduanya sedang bersiap-siap.Â
"Kalian tidak bisa pergi," ucap Jess dengan tatapannya yang ketakutan. "Kalian tidak bisa pergi dari sini."
"Apa maksudmu, Jess?" Tanya Malia.
"Bisakah kita bicara berdua, Señor Norman?"
Norman menatap Malia sesaat sebelum akhrinya perempuan itu mengangguk mengizinkan.Â
Mereka berbicara di lorong lantai dua. Jess menarik napasnya dalam.
"Ada apa, Jess?"
"Dennis, dia masih hidup," ucap Jess berhasil membuat Norman terkekeh kosong.
"Mustahil."
"Campo Morado seperti yang kau duga, di sana pusat pengendali El Sinaloa, mereka mengawasi badan pemerintahan yang berada di bawah kendali mereka, orang-orang kaya yang masuk juga laboratorium dipindahkan ke sana. Ada aula besar di ruang bawah tanah, tempat semua El Sinaloa pernah berkumpul. Dan Marc, dia juga ada di sana."
Jess mengatakannya dalam satu kali tarikan. "Dennis hidup."
"Apa yang telah mereka perbuat?"
"Mereka menyebar foto Malia pada semua anggota El Sinaloa, semua yang memakai tatto. Dennis menggunakan otak liciknya, dia mengadakan syaimbara, siapa yang mendapatkan gadis dalam foto akan mendapatkan emas."
Norman mengepalkan tangannya kuat. Waktunya semakin menipis.
"Señor?"
"Señor Norman! Ada telpon untukmu!" Teriak Jan dari bawah.
Tanoa bicara lagi dengan Jess, Norman turun dan memgambil telpon. "Holla?"
'Norman, Teddy Bear tidak bisa masuk lebih dalam. Aku dicegat saat memasuki perbatasan laut Guererro. Tapi jangan khawatir, Alpha aku kirim menggunakan kapal seorang nelayan, dia akan mengirimnya sampai di Campo Morado.'
Dan Norman tahu, mereka tidak akan bisa melewatinya.
'Norman?'
Norman masih diam.
'Aku terdeteksi oleh badan keamanan dunia, aku harus menyembunyikan Dioses La Asesinos dahulu. Mereka mengintaiku sejak lama, kau tahu itu.'
"Aku tahu, dan akan aku tangani semuanya sendiri di sini."
---
**Love,
ig : @Alzena2108**
__ADS_1