
Vote sebelum membaca 😘
.
.
"Jan, aku pulang."
"Aku melihatmu, kau terlihat senang, Malia."
"Edward begitu romantis, apa aku cocok menjadi pendamping dokter?"
"Yang Mulia," ucap Jan menundukan badan membuat Malia tertawa kuat. "Semua yang kau lakukan adalah kebenaran."
"Berhenti mengatakan itu, Jan. Aku ingin mandi."
"Mandi saja, aku sedang marathon."
"Baiklah," ucap Malia masuk ke kamarnya.
Senyum tidak luntur dari wajahnya, dia sangat menyukai Edward. Pria itu baik, penuh perhatian dan sangat mencintainya.
"Ah, akankah Edward melamarku?" Tanya Malia pada diri sendiri, dia membuka pakaiannya hingga tidak tersisa satu pun.
Malia masuk ke dalam bathub dan berendam dengan ketenangan. Malia menggerak gerakan kakinya merasakan kenyamanan, Edward yang membuat Malia bisa merasakan kembali menjadi orang normal.
"Apa yang terjadi padaku selama dua tahun terakhir?"
Tidak dipungkiri, Malia penasaran dengan semua itu. Ingatannya hitam, dia tidak bisa mengingat apa pun.
"Malia! Pakaianmu di sini!"
"Terima kasih, Jan."
"Oke!"
Jan adalah temannya yang sebenarnya tidak Malia ingat. Malia hanya mengingat teman temanya di tempat balet. Namun melihat Jan mengenal semua hal yang bersangkutan dengannya.
Setelah berpakaian, Malia keluar untuk memeriksa Jan yang sedang menonton televisi.
"Kau belum mengantuk, Jan?"
"Aku sedang menonton, tolong jangan ganggu. Kau lelah setelah berkencan bukan? Cepat tidur."
"Astaga, kau menyebalkan," ucap Malia merebut snack dari tangan Jan.
"Hei! Kembalikan!"
"Aku punya pertanyaan untukmu."
__ADS_1
Jan berdecak, dia menyipitkan matanya kesal. "Berikan aku makanan itu."
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Apa? Apa kau ingin aku meramal bagaimana bayimu dan Edward?"
Malia tertawa geli. Dia menggeleng pelan.
"Apa Stacy sudah sampai?"
Ya, sebelumnya Jan memberi pesan kalau Stacy harus pergi karena keluarganya bermasalah dengan hukum. Jadi dia pergi tanpa pamit.
"Aku tidak tahu, aku rasa iya. Jangan khwatir, aku sudah memberinya banyak uang, jadi dia akan aman di manapun berada."
"Aku ingin menanyakan tentang El Sinaloa, apa kau tahu apa itu?"
Jan menegang, dia terdiam sesaat.
"Jan, jawab aku."
Jan menarik napasnya dalam, dia menggeleng pelan. "Cari saja di google, aku tidak tahu."
Malia berdecak kesal, dia memberikan snack pada Jan lalu melangkah menuju kamar untuk mencari tahu apa yang membuatnya penasaran.
"El sinaloa, El sinaloa," gumam Malia sambil mencari informasi tentang kalimat itu.
Malia merinding, dia segera menutup laman web. "Aku yakin masa laluku tidak bersangkutan dengan mereka. Astaga, Tuhan, berikan aku jalan yang terbaik."
****
Jan sangat merindukan Jess, untuk menelpon saja dia dibatas. Jess bilang itu untuk mengurangi keinginan Jan untuk kembali ke tanah kelahirannya. Jan menyayangi Malia seperti saudarinya sendiri, tapi dia juga merindukan tanah kelahirannya yang membesarkannya. Semua yang berhubungan dengan tanah Meksiko, Jan merindukannya.
"Jan, aku buatkan sarapan untukmu, aku akan berangkat."
Jan diam, dia menatap ponselnya yang memperlihatkan foto saudarinya.
Tidak adanya jawaban dari Jan membuat Malia membuka pintu temannya itu. "Jan?"
Jan dengan sigap mematikan ponselnya, dia menengok.
"Lihat, sudah aku bilang jangan bergadang. Kau akan merasa pusing."
"Aku akan menyusulmu nanti."
"Tidak usah datang jika kau sakit."
"Aku tidak sakit, hanya mengantuk," ucap Jan dengan kekehan. Dia mendudukan dirinya saat Malia mendekat. "Apa kau dijemput Edward?"
Malia mengangguk. "Aku akan sarapan bersamanya."
__ADS_1
"Bukankah kau membuat sarapan?"
"Aku membawanya untuk dimakan berdua."
Jan menyipitkan matanya, membuat Malia segera berdiri. "Aku akan pergi, sampai jumpa."
Malia menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Edward, dan tidak lama kemudian terdengar suara klakson mobil. Malia bergegas, dia tersenyum saat melihat pria tampan itu berada di dalam mobil sambil tersenyum.
"Bagaimana tidurmu?" Tanya Edward.
"Sangat nyenyak, bagaimana denganmu?"
"Aku bermimpi tentangmu."
Malia terkekeh, dia mengangkat papper bag. "Aku membuatkanmu sandwich."
"Dan aku membuatkan teh madu."
"Dimana kita akan memakannya?"
Edward berpikir sebentar. "Bagaimana dengan pinggir danau?"
"Aku hanya ikut," ucap Malia.
Dan keduanya berhenti saat berada di pinggir danau, ada banyak bangku di sana. Kebetulan, tempat bekerja Malia dan Edward satu jalur, yang mana membuat Malia memilih ikut dengan Edward.
Keduanya duduk menghadap danau.
Edward memerhatikan Malia yang menyiapkan makanan untuknya. "Apa kita bisa seperti ini setiap saat?"
"Edward, kau mengatakan seolah aku akan mati besok."
"Aku takut kehilanganmu."
Malia tersenyum, dia menggenggam tangan Edward. "Aku milikmu, jangan mengkhawatirkan hal yang aneh."
"Boleh aku mendapat ciuman di pipi?"
Malia tersenyum, malu malu dia mendekatkan bibirnya pada pipi Edward.
"Puas?"
"Terima kasih, Yang Mulia."
****
Love,
Ig : @alzena2108
__ADS_1