Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 56


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


Seorang pria bertatto baru saja sampai di Campo Morado setelah perjalanan selama 6 jam dari Acapulco. Campo Morado adalah tambang bawah tanah multi logam dengan infrastruktur, instalasi dan peralatan yang mampu memproses 3000 ton bijih per hari.


Di sanalah sarang El Sinaloa, semua pasokan narkoba, data keuangan dan semua anggota yang dipercaya Marc. 


Di sana Marc berada, bersembunyi di tengah hutan Campo Morado yang tidak diketahui Norman. Untuk anggota yang awam pun, tidak ada yang tahu. 


Tempat ini dijaga ketat, setiap jalan terdapat perboden dengan penjaga bersenjata. Tanah yang kering dan tandus, debu di mana-mana dengan teriknya sinar matahari.


"Señor Marc."


"Kau menemukan Norman?"


"Tidak, belum. Kami masih mencoba mencarinya."


Marc tahu, Norman pintar bersembunyi dan menatap dalam gelap. "Kau harus menemukannya, jika tidak dia akan datang ke sini."


"Sí, señor."


"Bagaimana dengan Malia?"


Pria itu masih terdiam, enggan menjawab. Membuat Marc kesal dan menembakan senjatanya asal. Kemudian disusul oleh suara tawa menggelengar. 


Pria yang ada dibelakang Marc jelas ketakutan, dia berdehem dan menggeleng tidak menyangka. "Ada sesuatu yang kau inginkan, Señor?"


"Ya, cari mereka," ucap Marc kemudian mengisyaratkan pria itu untuk pergi.


Marc menatap dinding seorang diri, di sebuah ruangan yang mana di sana hanya terdapat kasur dan kamar mandi. Tidak ada yang special, Marc dibawa kemari setelah Norman dinyatakan kabur dan membunuh semua yang ada di mansion.


Kini, hanya tersisa dirinya dan seorang pria yang masih terbaring lemah dihujani banyak peluru.


Marc keluar dari ruangannya, ruang bawah tanah yang pengab dan membuatnya kegerahan. Beruntung Marc kini berada di sini, karena jika tidak pasti Norman sudah menyusulnya.


Memasuki ruangan lain, Marc tertawa seketika saat melihat pria yang terbaring dengan sedemikian alat penunjang kehidupannya. 


Sang psikopat menembakan pistolnya di seluruh bagian ruangan, guna membangunkan pria yang terbaring di sana.


"Bangun kau, Dennis!" Teriak Marc. "Kau tidak boleh mati! Aku masih ingin memanfaatkanmu untuk mengurung kembali Norman!"

__ADS_1


Marc mengakui kalau dirinya sudah tua dan tidak bisa selicik saat masih muda, dia butuh inang. Dan Dennis adalah orang yang tepat, mengingat dia pasti memiliki dendam yang sangat besar pada cucunya.


Setelah menaklukan Norman, baru Marc akan membiarkan Dennis mati tanpa sepeser pun.


"Bangun, Dennis!" Teriaknya memukul sisi ranjang pria itu. "Kau harus bangun! Temukan Norman! Jadilah berguna!"


Dan saat itu, masuklah seorang wanita yang tidak lain adalah perawat yang mereka sekap untuk menyembuhkan Dennis.


"Señor….," ucapnya penug ketakutan.


"Apa itu?" Marc menatap sesuatu di nampan yang dibawakan perawat.


"Ini obat untuknya."


Marc yang memakai tongkat seketika melangkah mendekat dan mengambil jarum suntik.


"Señor, dosisnya terlalu banyak. Anda bisa membunuhnya."


Tanpa berpikir panjang, Marc menyuntikannya pada cairan infus Dennis dan melempar bekasnya. Kemudian dia kembali memukul sisi ranjang. "Bangun kau, Dennis! Bangun! Kau harus mencari Norman! Cepat!"


Perawar itu ketakutan, apalagi saat Marc berbalik dan menatapnya tajam. "Señor."


"Buat lagi! Buat lagi obat!" Teriaknya lalu disusul gelak tawa sambil memutar mutar tongkatnya. Pria tua itu duduk di lantai kemudian menangis tersedu-sedu.


"Bangun! Tangkap cucuku! Kembalikan dia padaku!"


***


Manik Malia perlahan terbuka, dia mendapati ada bunga mawar dan sisir yang ada di ranjang sebelah. Dengan wajahnya yang datar, tangan Malia terangkat ingin menyentuhnya. Ekspresi wajahnya memperlihatkan bagaimana dirinya merasa sangat sedih, air matanya menetes saat dia berkata, "Kau pengecut, Norman."


Malia mengambil setangkai bunga mawar putih, memainkannya dan menghirup aromanya. Alangkah baiknya jika Norman menyampaikannya langsung.


Beranjak duduk, Malia segera ke kamar mandi menggunakan tongkatnya. Kini dia mulai terbiasa dengan kaki yang terseret, goresan di sana tidak membuat Malia kesakitan sama sekali. Dia tidak merasakannya. 


Malia membersihkan diri, guna untuk bercermin dan memakai sisir yang Norman beri. Dia tersenyum melihat dirinya sendiri dalam cermin.


Dan saat pintu terbuka, senyuman Malia kembali memudar.


"Malia, aku membawakan sarapan untukmu."


"Gracias."


Jan menyimpan nampan itu di depan Malia, tepatnya di meja rias yang kosong. "Aku punya beberapa CD film yang dikirimkan temanku, kau ingin menontonnya?"

__ADS_1


Malia mengangguk, dia mulai memakan sarapannya sambil menatap keluar jendela. Melihat anak-anak yang hendak berangkat sekolah. 


"Kau habiskan saja, aku akan mengambil beberapa CD."


Malia mengangguk, tapi sebelum Jan pergi, Maliaa menahannya. 


"Ada apa, Malia?"


"Apa semalam dia….?"


"Señor Norman? Ya… dia datang, aku yakin sisir dan bunga itu juga darimu," ucapnya menunjuk meja rias di depan Malia dengan tatapan. "Ada apa?"


"Tidak."


"Aku akan ke bawah."


Jan mengambil beberapa CD yang dia punya. Sepengetahuannya dari Norman, Malia suka film kartun. Dia mengambil beberapa dan membawanya kembali ke atas.


Jan akan selalu menemani Malia di sini, demi membantu saudarinya. Niat baik Jess membuat Jan menghentikan rutinitasnya.


"Malia, aku punya beberapa film kartun, lihat ini."


Dan salah satu gambar film, mengingatkan Malia akan dirinya bersama dengan Norman.


Jan segera menjelaskan, "Señor Norman memberitahuku, bahwa kau suka film kartun."


Seketika raut wajah Malia kembali redup, dia ingat kenangan di Malibu dirinya bersama Norman banyak menghabiskan waktu bahagia.


Maka dengan berat hati, Malia menyodorkan nampan itu, "Terima kasih atas sarapannya, aku ingin sendiri dulu. Tidak apa?"


"Y-ya?" Jan segera mengangguk. "Tentu saja, panggil aku jika butuh sesuatu."


Jan keluar, meninggalkan Malia. Bersamaan dengan menutupnya pintu, Malia menunduk merasakan sesak. Dia melangkah terseret-seret ke atas ranjang untuk memgambil bunga.


Menatapnya lama kemudian melemparnya dengan asal. "Kau pengecut, Norman. Kau egois."


---


**Maaf ya agak pendek atau telat, Zee lagi sakit. mohon doa nya ya teman-teman.


love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2