Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 54


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Seharian Jan hanya diam sambil sesekali naik ke lantai dua untuk melihat keadaan Malia. Dia lebih banyak diam, sambil menatap keluar kamar, tepatnya ke arah jendela yang terbuka. Dia terlihat menikmati sapuan angin di wajahnya, yang membelai pelan. 


Jam sudah menganggap Malia teman dibandingkan majikan, karena dia tahu sosok itu juga butuh teman. Meskipun bukan dirinya.


"Malia… kau harus makan siang," ucap Jan membawakan nampan dan menyimpannya di meja rias di sampinh Malia.


Kursinya Malia gunakan untuk melihat pemandangam dari lantai dua. Sejauh mata memandang, hanya ada rumah berjajar.


"Malia…."


Hingga akhirnya perempuan itu menoleh, menatap Jan dengan mengadah. "Gracias."


"Bolehkah aku menemanimu di sini?"


"Tentu."


Jan duduk di pinggir ranjang, tepatnya di belakang Malia yang sedang mulai memakan makan siangnya. Mengawasi setiap pergerakan perempuan bermanik cokelat itu. Jan akui, Malia sangat cantik, kecantikannya terlalu mencolok dan khas. Dan itu akan membuatnya mudah ditemukan.


"Di sini aman," ucap Malia secara tiba-tiba.


Dan Jan mengerti maksudnya, dia segera menggeleng. "Hanya untuk sesaat, kau aman saat keluar dari Acapulco dan memulai semuanya dengan baru."


"Yang baru," guman Malia seolah tidak ingin berada di sini. "Pergi jauh."


"Ya, kau akan pergi. Norman akan membawamu."


Malia memakan makan siangnya dengan lahap, membuat Jan yang ada di belakangnya mulai kebingungan. "Malia, tenanglah," ucap Jan mulai berdiri.


"Malia, tidak akan ada yang melukaimu, tenanglah."


Malia tetap memakan makanannya dengan sangat lahap hingga berserakan di mana-mana. "Malia, tenanglah. Aku mohon. Kau baik-baik saja di sini. Kau aman."


Dan saat Jan menyentuh pundaknya, baru Malia menarik napas dalam. Dia memejamkan matanya sesaat merasakan sesak berlebih.


"Tenang, Malia…. Semuanya baik-baik saja. Kau aman di sini."


Malia meneteskan air matanya perlahan. Membuat Jan mengambil alih makannya dan segera duduk bersimpuh di samping Malia. Jan menggenggam tangan Malia. "Dania dan Dennis mati oleh Norman, jangan khawatir oke?"


Malia perlahan mengangguk, dia kembali membuka matanya. "Jess datang."


Seketika Jan berdiri. "Aku akan ke bawah sebentar."


Membiarkan Jan pergi, Malia hanya diam dengan air mata yang mulai menetes. Dirinya begitu hampa, Malia butuh seseorang untuk menggenggam tangan dan memeluknya saat ini juga.


Sementara di bawah, Jess membawa keluar kanvas dan peralatan melukis dari bagasi mobil.


"Apa ini, Jess?"


"Untuk menghilangkan rasa bosan Malia, dia suka melukis."

__ADS_1


Jan membantunya mengambilkan cat dari dalam bagasi dan membawanya ke dalam.


"Di mana, Malia?"


"Di atas."


"Aku akan ke sana."


Jess mulai menaiki tangga, dia mengetuk daun pintu sebelum masuk ke dalam. Malia tidak menengok sama sekali, membuat Jesa berdehem. "Bagaimana keadaanmu?"


"Kau bisa melihatku, Jess."


"Aku tahu ini sulit," ucap Jess menarik napasnya dalam, dia menunduk. "Tapi semuanya akan baik-baik saja sekarang. Aku akan memastikan kau keluar dari Guererro dengan aman."


"Gracias."


"Mungkin kau harus mengatakannya juga pada Norman."


Malia merasakan dadanya sesak, tapi dia tidak mengatakan apapun.


"Dia melakukan hal terbaik yang bisa dia lakukan."


"Dia tidak ada di sini sekarang," ucap Malia dengan suara tercekat. "Sampaikan padanya bahwa aku membencinya."


***


Norman dengan tudung jaket menutupi kepalanya sedang merokok di sebuah tempat makan pinggir jalan yang cukup ramai oleh pengunjung. Sambil menandai beberapa titik di Guererro, Norman tidak menemukan keberadaan Marc sampai saat ini. Tapi nilai baiknya, dia mendapatkan jalur pelarian untuk Malia.


"Ingin tambah kopi, Señor?"


Norman keluar dari tempat itu setelah membayar. 


Saat berjalan menuju mobil, Norman melihat seorang wanita tua menjual bunga. Segera dia mendekat. "Holla, Nyonya. Aku ingin membeli salah satu bungamu."


Wanita tua yang duduk di pinggir jalan itu mengadah. "Apa yang ingin kau beli?"


"Bunga yang melambangkan cinta."


"Kau ingin mawar?"


"Sebagai permintaan maaf?"


"Mawar putih," ucap wanita tua itu menyarankan.


Norman segera mengangguk menyetujui, dia akan menerima satu buket mawar putih. Menunggu wanita tua itu mengikatnya dengan cantik. "Siapa yang akan kau beri ini?"


"Istriku," ucap Norman dengan pelan.


"Kau punya salah dengan istrimu, Nak?"


Norman mengangguk, dia berjongkok di depan wanita tua itu. "Sí, aku memiliki masalah yang sangat besar."


"Apa itu?"


"Aku menyakitinya."

__ADS_1


"Kau sudah meminta maaf?"


Norman terdiam. "Aku mencobanya."


"Bagaimana dengan perasaanmu?"


Norman masih menatap wanita tua yang mengikatkan pita di buketnya. "Dia adalag jiwaku, jika dia tiada, maka aku tidak akan hidup."


"Dia sangat berarti bagimu."


"Dia nyawaku."


Perkataan Norman membuat wanita tua itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak kalengnya. Dan memberikan Norman seikat bunga beserta sisir perak bercorak bunga teratai yang terlihat sangat tua, tapi keindahannya tidak hilang.


"Apa ini, Nyonya?"


"Sisir rambut istrimu, dia akan menyukainya."


Norman tersenyum, dia menerimanya dan memberikan bayaran lebih.


"Ini terlalu lebih, Señor."


"Sisanya untukmu, Nyonya."


Segera Norman melajukan mobilnya hendak menuju tempat Malia berada. Namun, mengingat dia punya pertemuan dengan Jess. Norman berhenti dahulu di depan sebuah danau yang sepi. Mendapati Jess yang sudah berada di sana, merokok di depan kap mobil.


"Jess."


"Señor." Jess menurunkan rokoknya. "Aku belum menemukan jejak Marc, dia hilang. Dan El Sinaloa kembali seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa."


Norman terdiam. "Dia berada di tempat yang kau maksud, di tengah hutan dimana Dennis mengumpulkan mereka semua."


Jess mengangguk setuju. "Aku juga meyakini hal yang sama. Jangan khawatir, Señor. Aku akan menemukannya sesegera mungkin."


Norman menarik napasnya, dia menerima rokok dari Jess. "Bagaimana dengan Malia?"


Jess terdiam, dia berdehem.


"Katakan, Jess."


"Dia menitipkan pesan untukmu."


"Apa itu?"


Jess menatap Norman seolah ragu. Segera pria itu berkata, "Tidak apa, katakan saja."


"Dia bilang, dia sangat membencimu."


Karenanya, Norman terkekeh. Dia menatap malamnya langit tanpa mengatakan apapun, tapi wajahnya memperlihatkan jelas, bagaimana pria bermanik abu itu sangat sedih.


----


**Love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2