Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 52


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


"Jess, ada apa?"


Jan melotot terkejut saat mendapati saudari kembarnya membawa seorang wanita dalam gendongannya. "Apa dia yang bernama Malia?"


"Bisa kau menyingkir?"


Jan segera mempersilahkan Jess masuk, dia memberi arahan pada Jess untuk menidurkannya di kamar di tingkat kedua. 


"Dia dalam pengaruh?"


"Ambil obat penetralisirnya, Jan."


"Baiklah."


Jan segera mengambil alih Malia. "Kau sudah makan? Biarkan dirimu sendiri memiliki tenaga, dia akan aku urus."


Jess mempercayakannya pada Jan, meninggalkan kamar itu. Dia memilih mengisi tenaganya terlebih dahulu. Membiarkan Jan mengambil alih semuanya.


Dengan cekatan, Jan mengganti pakaian Malia dengan yang lebih tertutup. Dengan menggunakan piyama milik Jan, Malia kini terlihat lebih nyaman, apalagi tubuhnya sudah dibersihkan oleh kain basah. 


Namun, zat narkoba dalam tubuh Malia belum bisa sepenuhnya hilang. Harus menunggu beberapa saat. Sembari menunggu, Jan menuruni tangga untuk menemui saudarinya dan menanyakan kebenarannya.


"Jess, kau membawanya dari mana?"


"Dari apartemen di pusat Acapulco, Norman yang memberiku perintah."


Jan mengerutkan keningnya, dia duduk di mini bar tepatnya di depan Jess. Hanya terhalang meja diantara mereka. "Dia masih hidup?"


"Jangan banyak bertanya, Jan. Aku perlu kau untuk mengawasinya, kau tahu siapa dia dan seluk beluknya. Jaga dia baik-baik."


Karena Jess tahu, tempat Jan adalah tempat paling aman dari anggota El Sinaloa. Di sebuah perumahan di Acapulco, yang Jess tahu orang-orang yang tinggal di sini adalah orang yang mencintai kedamaian dan sangat bahagia.


"Jangan bawa dia keluar dari kompleks perumahan."


"Bagaimana dengan keluar rumah?"


"Hanya sekitar sini. Pastikan dia terlihat berbeda, kau mengerti maksudkh kan?"


"Aku yakin tidak semua anggota El Sinaloa mengetahui siapa itu Malia."

__ADS_1


"Hanya berjaga-jaga, Jan," ucap Jess mulai kesal. "Berhenti mengajakku berdebat."


Wanita berkepala plontos yang dipenuhi tatto itu kembali fokus pada bubur gandumnya. "Kau tidak akan pergi ke manapun bukan?" 


Jan menggeleng. "No."


"Aku butuh kau untuk mengurusnya dan melakukan yang terbaik agar dia tetap berada di lingkarannya."


Jan memutar bola matanya malas. "Aku tahu, diamlah."


Jess segera menghabiskan makanannya, dia mengambil ponselnya dan naik ke lantai atas untuk melihat keadaan Malia. Masih ada bekas borgol di tangannya. Saat Jess menjemput Malia di apartemen yang disebutkan Norman, Malia berada di sana dengan keadaan terikat dan mata tertutup.


Jess segera menghubungi Norman. "Señor, aku sudah membawanya, dia aman bersama kembaranku."


'Bagus, aku akan segera ke sana.'


"Kau di mana?"


'Ada hal yang harus aku lakukan, jangan khawatir. Aku akan ke sana saat menjelang dini hari.'


Jess terdiam saat dia melihat Malia bergerak gelisah. Jess mendekat dan mengendus mulut Malia yang mengeluarkan bau menyengat. "Sebaiknya kau segera datang, Señor."


'Apa yang terjadi?'


"Malia dalam pengaruh obat perangsang."


Jess memeriksa infus yang masuk ke tubuh Malia. Namun, Jess bingung saat zat narkotika mulai hilang, tapi zat lain mengambil alih tubuh Malia.."Kau pasti tidak bodoh, Señor. Dia mulai bergerak gelisah."


'Masih tertidur?'


"Kau tahu dia akan terus terpejam jika dalam pengaruh obat seperti ini."


'Aku akan segera ke sana.'


****


Norman menatap nisan di depannya dengan penuh sesak. Tatapannya mungkin datar, tapi air mata mengenang di sana. Dia menggenggam tangannya yang memegang senjata. 


Hampir dini hari, dan Norman tahu dia harus segera pergi. Dia berbalik, memakai tudung jaketnya dan berbaur dengan orang-orang untuk menutupi kecurigaan ataupun mata yang mengenalnya.


Karena Norman yakin, saat ini Marc mengetahui apa yang dia lakukan. Norman mengendarai mobil curian yang dia modif dengan plat nomornya. Dia memasuki sebuah kawasan perumahan. Di mana Malia ada di salah satu rumah di sana.


Perumahan yang terlihat damai, hanya ada keindahan dari bunga-bunga dan pepohonan rindang. Harapannya, Norman bisa tinggal di rumah yang tenang bersama Malia secepatnya.


Sampai di sana, Norman segera masuk. Dia bertemu dengan Jan. 

__ADS_1


"Señor."


"Di mana, Jess?"


"Di lantai atas, Señor."


"Anda butuh sesuatu, Señor?"


"Tidak, tidurlah, Jan. Dan terima kasih untuk semuanya."


Jan mengangguk, memang ini yang Norman yang dia tunggu. Karena Jess membuatnya berjanji akan memenuhi kebutuhan Malia dan Norman, membantu mereka sampai akhirnya keadaan benar-benar kembali normal.


Jan tahu semuanya, membuatnya ikut menanggung beban dan ikut bertanggung jawab atas semua yang akan terjadi.


Normam menaiki lantai dua, membuka pintu kamar utama di lantai tersebut. Di sanalah Jess sedang menunggu Malia.


"Jess?"


"Señor, Malia belum sadar," ucap Jess mendekat ke ambang pintu. "Dan kau tahu efeknya takkan pernah hilang."


"Aku tahu," ucap Norman menatap istrinya yang tidur gelisah di atas ranjang. "Kau pergi?"


"Aku harus mencari tahu posisi Marc. Dan yang lainnya juga akan mencariku, mengingat kau membantai mansion dan membunuh Dennis."


Norman mengangguk, dia memberikan senjatanya. "Untuk berjaga-jaga."


"Bagaimana denganmu, Señor?" Jess menerima senjata itu. "Kau sudah merencanakan pelarian bersama Malia?"


"Aku akan membawanya ke tempat yang aman, tapi aku akan kembali untuk Marc dan El Sinaloa."


Jess mengisi pistol dengan amunisinya. "Aku mengerti, akan aku siapkan kapal pesiar untuk pelarian kalian."


Norman tahu, dia tidak bisa memakai pesawat mengingat semya bandara di Guererro dipegang erat oleh El Sinaloa. Namun, jika menaiki kapal pesiar, maka pelabuhan berada di Puerto Del Marqués.


"Aku tidak akan naik kapal pesiar. Aku akan naik pesawat. Pergilah, jalur darat aku yang akan mencari. Kau tidak boleh membuat yang lain curiga."


"Sí, Señor."


Setelag kepergian Jess, Norman baru bisa bernapas lega. Dia membuka jaketnya dan mendekat pada Malia yang tidur gelisah di atas ranjang. 


Duduk di pinggir ranjang, menyentuh ujung rambut istrinya. Norman tahu, efek itu akan selalu ada jika tidak dituntaskan.


Maka darinya, Norman mencium kening Malia lalu berkata, "Lo siento, Malia, nuestra primera noche sin tu permiso (Maafkan aku, Malia, malam pertama kita tanpa seizinmu.)" 


---

__ADS_1


**Love,


ig : @Alzena2108**


__ADS_2