Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 55


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Jan menemani Malia makan malam di kamar Malia. Tidak banyak perempuan itu bicara, hanya diam dan menatap keluar. Kanvas pun belum Malia pegang kembali.


"Malia, jika ada yang kau inginkan, maka katakan saja padaku."


Malia diam, dia menunduk memakan makanannya. "Bagaimana kalau besok kita menonton film di bawah? Aku punya banyak file film yang seru."


Malia menggeleng.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"


Dia tidak menghabiskan spaghetti nya, Malia mendorong piringnya menandakan dia selesai.


"Ada apa, Malia? Kau tidak suka?"


"Aku tidak terlalu suka dengan ini."


"Lalu apa yang kau suka? Ayo kita lakukan."


Lama Malia terdiam sampai akhirnya dia berkata, "Aku suka membuat kue."


"Kue?" Jan mengulangi.


Jan menatap jam, masih belum tengah malam. Dia pikir bagus meninggalkan Malia sekarang, lagipula pusat perbelanjaan masih di dalam perumahan.


"Kalau begitu aku akan membelinya, kue apa yang kau sukai?"


"Aku suka kue kenari."


"Baiklah, aku akan membeli bahan-bahannya."


Faktanya, bukan Malia yang suka kue kenari, tapi Norman. Dan kalimat itu muncul begitu saja dalam benak Malia.


Jan bersiap-siap untuk keluar, sebagai tindakan pencegahan, dia memilih mengunci pintu kamar Malia dan segela pintu yang memungkinkan seseorang bisa masuk. Termasuk setiap jendela.


Mengendarai motor skuter, Jan melaju cepat di kompleks perumahan yang sudah sepi. Namun tidak di pusat perbelanjaan, masih ada beberapa pasang mata yang terbangun.


"Holla, Jan. Lama tidak melihatmu."


"Holla, Cludia, bagaimana kabarmu?"


"Baik," jawab wanita berambut hitam itu. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu."


"Apa itu?"


"Anakku bilang rumahmu berhantu, ada wanita yang mengawasinya saat dia berangkat dan pulang sekolah."

__ADS_1


Jan mengerti, itu bukan hantu melainkan Malia. "Ah, itu kerabatku, dia datang untuk berkunjung."


"Benarkah? Bolekah aku datang dan menyapa?"


"Holla, Sayang."


Kedua mata perempuan itu beralih pada sosok pria yang mendekat. Cludia memberinya pelukan. "Holla, Sayang. Kenalkan, ini temanku Jan."


"Holla, Jan." kemudian pria itu berbisik pada istrinya sebelum berbalik.


Dan yang membuat Jan terkejut adalah tatto yang berada di punggungnya. Pria itu hanya mengenakan kaos dalam, membuat Jan dengan mudah melihat bagian punggungnya. Seperti tanda dari anggota El Sinaloa.


"Jan."


"Ya?" Dia mengerjapkan matanya. "Apa?"


"Bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?"


"Maaf, Cludia. Aku sibuk akhir-akhir ini, kerabatku juga hendak pulang. Maaf ya."


"Tentu saja, tidak apa."


Jan bergegas pergi, dia mengendarai skuternya dengan cepat. Sampai di rumah, dia berlari menaiki tangga.


Bernapas lega saat mendapati Malia sedang melukis di sana.


"Malia… Maaf membuatmu kaget."


Malia tidak menjawab, dia tetap menggerakan kanvasnya dengan perlahan. Sampai akhirnya Jan tahu apa yang dia lukis. Hanya darah yang berlumuran di dinding.


"Malia…. Kau baik-baik saja?"


"Tidak pernah sebaik ini."


"Malia, aku mohon pergilah dari kegilaan dalam pikiranmu. Tenang saja," ucap Jan menyentuh pundak Malia, yang sama sekali tidak membuat Malia bergeming. "Pergi dari sana, kau sudah aman sekarang. Suamimu bersamamu, di sisimu."


Kenyataannya, Norman tidak ada di sampingnya saat ini. Yang mana membuat Malia hampir meneteskan air matanya sesak. Maka darinya, kalimat ini kembali keluar dari bibirnya, "Aku membencinya, sangat. Dengan seluruh hidupku."


****


Norman terdiam di danau yang sama selama beberapa jam. Dia termenung memikirkan Malia yang membencinya. Langkahnya mungkin salah membuat Malia kehilangan sesuatu yang dia jaga, tapi Norman tidak punya pilihan.


Dia menatap bunga yang dibelinya beberapa jam yang lalu. Membuat Norman bertambah sedih.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Dan satu-satunya pilihan Norman adalah pergi ke sebuah tempat yang tidak jauh dari sana, di mana dia kembali menemukan nisan bertuliskan wonderfull Papa, yang tidak lain adalah Don.


Tersembunyi di hutan pinggir danau yang tidak jauh dari perumahan tempat Malia berada. 


Jess yang membantunya mencari pria itu dan menguburkannya dengan sangat layak.

__ADS_1


"Don… maafkan aku, aku terlambat," ucapnya pada nisan di depannya. "Malia membenciku."


Ada rasa sesak di dadanya, menyakitkan seolah dihantam batu yang sangat besar. "Dia bilang sangat membenciku dengan segenap jiwanya."


Keheningan melanda. 


"Tapi jangan khawatir, aku akan selalu menjaganya sampai kapanpun. Kau bisa tenang, kau bisa percaya padaku."


Hanya angin yang menjawab.


"Jika semuanya sudah aman, dan Malia ingin berpisah dariku. Akan aku lakukan, kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga. Jangan khawatir, akan aku gunakan sisa hidupku untuk mengawasinya dan menjaganya agar tetap aman. Semua yang berhubungan dengannya, akan aku selidiki mereka."


Norman menunduk, kemudian dia bergumam, "Sampai titik darah penghabisan."


Wajahnya mungkin datar, tapi matanya memperlihatkan jelas bagaimana kesedihannya. Norman segera beranjak dari sana.


Dan saat hendak mendekati mobilnya, Norman mendapati mobil polisi juga ada di sana. Dia yakin mereka sadar kalau itu adalah mobil curian.


Maka itu, tanpa berkata apapun Norman menarik pelatuk untuk dua polisi yang ada di sana. Membuat mereka tumbang seketika.


Norman memakai masker menggunakan sapu tangan, dia mendekat dan memasukan tubuh keduanya ke dalam bagasi mobil.


Tanpa melakukan apapun lagi, dia pergi dari sana menuju Malia.


Rumah sudah padam. Bersamaan dengan itu, Jan baru saja turun dari lantai dua.


"Dia sudah tidur, Señor. Kau ingin aku membangunkannya?"


"Tidak, jangan. Apa saja yang dia lakukan hari ini?"


"Dia melukis, dan tidak banyak yang dia lakukan."


"Istirahatlah," ucap Norman naik ke lantai atas.


Jan terpaku pada bunga yang Norman bawa, pikirnya mereka akan memadu kasih menyalurkan kerinduan.


Kenyataannya, Norman hanya menatap Malia dari daun pintu penuh kerinduan. Bahkan dia tidak memiliki keberanian untuk melangkah masuk dan memeluk Malia. 


Melihatnya terbaring, dengan maniknya yang damai, membuat Norman enggan mengganggu ketenangan Malia tanpa dirinya.


Dia hanya menatap dari kejauhan.


Norman menyimpan bunga dan sisir yang dia bawa di atas meja rias. Norman tidak tahan, dia akhirnya melangkah ke sana.


Duduk di samping ranjang dan mencoba mengusap rambut Malia, tapi tidak Norman lakukan. Rasa bersalah dan penyesalan menghantamnya kuat, membuat dadanya sesak dan detak jantung yang meningkat.


Maka darinya, Norman hanya mengatakan, "Kau boleh membenciku, memakiku dan memukulku. Tapi aku mohon, Malia, jangan menyuruhku pergi ataupun berhenti mencintaimu."


---


**Love,

__ADS_1


ig : @Alzena2108**


__ADS_2