Bloody Marriage

Bloody Marriage
The Bride 18


__ADS_3

Vote sebelum membaca


.


.


“Aku pergi dulu, Jan.”


“Oke, hati hati di jalan.”


“Baik, dan maafkan aku.”


“Itu bukan salahmu, berhenti


menyalahkan diri.”


“Terima kasih, Ed. Kau pria yang baik.”


“Aku tahu, tapi tidak terlalu baik


untuk Malia.”


“Apa kita akan membahasnya lagi?” tanya


Jan dengan nada bercanda.


Edward segera menggeleng dengan


senyuman di wajahnya. “Maafkan aku.”


Jan terdiam melihat kepergian Edward,


dia senang sudah memberitahukan semuanya kepada pria itu. Tentang masa lalu


Malia, tentang suaminya yang sekarang sedang bersamanya supaya ingatan Malia


kembali lagi.


Dan yang membuat Jan bahagia adalah


kalimat Edward yang mengatakan, “Kalau sejak awal dia bukan milikku, maka aku


tidak akan merebutnya.”


Edward tahu perihal Norman, bahkan Jan


tidak segan memberitahukan masa lalu mereka yang kelam. Karena dengan itu,


membuktikan kalau Malia masih sangat mencintai Norman suaminya.


Saat berbaring lagi, Jan mendapat


telpon dari Jess. Dia segera mengangkatnya.


“Hallo, Sister.”


“Bagaimana?”


“Semuanya baik baik saja, aku sudah


memberitahukannya tentang Norman.”


“Responnya?”


“Aku akan melepaskan Malia jika itu


membuatnya bahagia. Karena aku juga tahu dia bukan milikku sejak awal.”


“Baguslah, dia paham betul.”


“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Jan.

__ADS_1


Jess menarik napas dalam.


“Ada apa?” tanya Jan lagi mulai


khawatir. “Jess!”


“Ada seorang model yang terus menempeli


Senor Norman, namanya Sabrina.”


“Wow, lalu?”


“Dia terus mendekatinya, aku pikir


Senor Norman akan bersamanya karena dia ingin menjauhkan Malia darinya.”


“Itu gila, dia adalah istrinya.


Bagaimana bisa dia bersama dengan wanita lain?”


“Aku akan mencari cara. Aku tutup


telponnya.”


“Baiklah. Jangan terlalu khawatir


dengan ingatan Malia, jika dia masih belum ingat, kita masih punya surat ini.”


“Aku paham.”


*****


Malia mulai mencari karya seni yang


pertama di kemudian hari. Dia mencoba menghubungi Norman, tapi tidak berhasil.


“Kemana pria si Enrique ini?” tanya Malia kesal.


Dia berada dalam taksi menuju kota yang


“Astaga,” gumamnya kesal.


“Apa ada masalah, Senorita?”


“Tidak,” jawab Malia pada supir taksi


itu.


“Aku tahu alamat yang kau tuju itu


ditempati seorang kakek tua, Senorita. Apa kau punya keperluan dengannya?”


“Ya, aku dengar dia pengrajin besi yang


bagus bukan?”


“Iya, tapi kau harus hati hati,” ucap


sopir yang ada di depan itu.


“Kenapa? Apa ada sesuatu?”


“Yang aku dengar, tempat itu menjadi


sarang para mafia jika ingin menyembunyikan senjata.”


“Mafia?” tanya Malia dengan sedikit


suara tawa. Dia tidak berfikir kalau mafia dan sejenisnya masih ada.


“Ya, beberapa tahun lalu ada kejadian

__ADS_1


dimana kartel El Sinaloa berperang dengan anggotanya sendiri.”


Malia mendengarkan, dan semakin banyak


kata yang keluar dari mulut sopir taksi itu, dia mulai merasa pusing, mual,


ketakutan dan juga merasa ngeri.


“El Sinaloa adalah kartel paling


menakutkan di Meksiko, mereka bahkan pernah berperang dengan pemerintah. Hati


hati, Nona. Jika kau melihat pria bertatto jantung, jangan membuat masalah. Kau


bisa bahaya.”


“Hentikan,” gumam Malia yang merasakan


mual.


“Dan mereka akan mengurungmu di bawah


tanah.”


“Tolong hentikan,” ucap Malia penuh


penekanan.


Pria yang menjadi sopir itu menatap


lewat kaca mobil. “Maaf.”


“Aku tidak ingin mendengar hal hal itu


lagi. Ini bayaranmu.”


Malia segera keluar setelah dia


membayar.


Dia diberhentikan di sebuah rumah yang


jauh dari pemukiman. Sejauh mata memandang hanya ada lading yang kering.


Malia membuka pagar dan mulai masuk,


dia mengetuk pintu rumah kayu itu.


Dan ketika membuka, Malia melihat


seorang pria tua yang tersenyum. “Hallo, selamat datang. Apa ada yang bisa aku


bantu?”


“Kau Tuan Fillo? Aku mendengar kau


memiliki karya seni yang luar biasa.”


“Terima kasih.”


“Boleh aku masuk?”


Pria tua itu menelan ludahnya kasar,


pasalnya di balik pintu itu ada pria yang menyodorkan pistol padanya supaya


Malia pergi.


“Boleh aku masuk?” tanya Malia lagi.


----

__ADS_1


Love,


Ig : @Alzena2108


__ADS_2