
Vote sebelum membaca
.
.
“Aku pergi dulu, Jan.”
“Oke, hati hati di jalan.”
“Baik, dan maafkan aku.”
“Itu bukan salahmu, berhenti
menyalahkan diri.”
“Terima kasih, Ed. Kau pria yang baik.”
“Aku tahu, tapi tidak terlalu baik
untuk Malia.”
“Apa kita akan membahasnya lagi?” tanya
Jan dengan nada bercanda.
Edward segera menggeleng dengan
senyuman di wajahnya. “Maafkan aku.”
Jan terdiam melihat kepergian Edward,
dia senang sudah memberitahukan semuanya kepada pria itu. Tentang masa lalu
Malia, tentang suaminya yang sekarang sedang bersamanya supaya ingatan Malia
kembali lagi.
Dan yang membuat Jan bahagia adalah
kalimat Edward yang mengatakan, “Kalau sejak awal dia bukan milikku, maka aku
tidak akan merebutnya.”
Edward tahu perihal Norman, bahkan Jan
tidak segan memberitahukan masa lalu mereka yang kelam. Karena dengan itu,
membuktikan kalau Malia masih sangat mencintai Norman suaminya.
Saat berbaring lagi, Jan mendapat
telpon dari Jess. Dia segera mengangkatnya.
“Hallo, Sister.”
“Bagaimana?”
“Semuanya baik baik saja, aku sudah
memberitahukannya tentang Norman.”
“Responnya?”
“Aku akan melepaskan Malia jika itu
membuatnya bahagia. Karena aku juga tahu dia bukan milikku sejak awal.”
“Baguslah, dia paham betul.”
“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Jan.
__ADS_1
Jess menarik napas dalam.
“Ada apa?” tanya Jan lagi mulai
khawatir. “Jess!”
“Ada seorang model yang terus menempeli
Senor Norman, namanya Sabrina.”
“Wow, lalu?”
“Dia terus mendekatinya, aku pikir
Senor Norman akan bersamanya karena dia ingin menjauhkan Malia darinya.”
“Itu gila, dia adalah istrinya.
Bagaimana bisa dia bersama dengan wanita lain?”
“Aku akan mencari cara. Aku tutup
telponnya.”
“Baiklah. Jangan terlalu khawatir
dengan ingatan Malia, jika dia masih belum ingat, kita masih punya surat ini.”
“Aku paham.”
*****
Malia mulai mencari karya seni yang
pertama di kemudian hari. Dia mencoba menghubungi Norman, tapi tidak berhasil.
“Kemana pria si Enrique ini?” tanya Malia kesal.
Dia berada dalam taksi menuju kota yang
“Astaga,” gumamnya kesal.
“Apa ada masalah, Senorita?”
“Tidak,” jawab Malia pada supir taksi
itu.
“Aku tahu alamat yang kau tuju itu
ditempati seorang kakek tua, Senorita. Apa kau punya keperluan dengannya?”
“Ya, aku dengar dia pengrajin besi yang
bagus bukan?”
“Iya, tapi kau harus hati hati,” ucap
sopir yang ada di depan itu.
“Kenapa? Apa ada sesuatu?”
“Yang aku dengar, tempat itu menjadi
sarang para mafia jika ingin menyembunyikan senjata.”
“Mafia?” tanya Malia dengan sedikit
suara tawa. Dia tidak berfikir kalau mafia dan sejenisnya masih ada.
“Ya, beberapa tahun lalu ada kejadian
__ADS_1
dimana kartel El Sinaloa berperang dengan anggotanya sendiri.”
Malia mendengarkan, dan semakin banyak
kata yang keluar dari mulut sopir taksi itu, dia mulai merasa pusing, mual,
ketakutan dan juga merasa ngeri.
“El Sinaloa adalah kartel paling
menakutkan di Meksiko, mereka bahkan pernah berperang dengan pemerintah. Hati
hati, Nona. Jika kau melihat pria bertatto jantung, jangan membuat masalah. Kau
bisa bahaya.”
“Hentikan,” gumam Malia yang merasakan
mual.
“Dan mereka akan mengurungmu di bawah
tanah.”
“Tolong hentikan,” ucap Malia penuh
penekanan.
Pria yang menjadi sopir itu menatap
lewat kaca mobil. “Maaf.”
“Aku tidak ingin mendengar hal hal itu
lagi. Ini bayaranmu.”
Malia segera keluar setelah dia
membayar.
Dia diberhentikan di sebuah rumah yang
jauh dari pemukiman. Sejauh mata memandang hanya ada lading yang kering.
Malia membuka pagar dan mulai masuk,
dia mengetuk pintu rumah kayu itu.
Dan ketika membuka, Malia melihat
seorang pria tua yang tersenyum. “Hallo, selamat datang. Apa ada yang bisa aku
bantu?”
“Kau Tuan Fillo? Aku mendengar kau
memiliki karya seni yang luar biasa.”
“Terima kasih.”
“Boleh aku masuk?”
Pria tua itu menelan ludahnya kasar,
pasalnya di balik pintu itu ada pria yang menyodorkan pistol padanya supaya
Malia pergi.
“Boleh aku masuk?” tanya Malia lagi.
----
__ADS_1
Love,
Ig : @Alzena2108