
Vote sebelum membaca😘
.
.
"Kenapa kau peduli pada Malia?"
Jess yang membawa mobil itu fokus pada jalanan, tanpa melihat Norman yang sedang merakit senjata. Wanita berkepala plontos itu menarik napas dalam. "Karena aku tahu bagaimana rasanya dijahati semua orang. Dan aku perlu tahu, kenapa kau berubah pikiran, Señor?"
Norman terdiam sesaat sebelum menjawab, "Karena aku tidak bisa kehilangannya."
Kenyataanya, Jess sudah melihat tatapan kepedulian Norman pada Malia sejak pertama melihat mereka berdua bersama. "Dania pernah memberikan obat yang akan membuat Malia tidak bisa mengandung, dia hendak menetralkannya."
Norman mengetatkan rahangnya kuat. Demi apapun, jika dirinya bertemu dengan Dania, maka Norman akan menembaknya tanpa ampun. Dia menyesal, tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pikiran Norman mengingatkannya akan setiap pukulan yang membuat pria bermanik abu itu sakit kepala.
Dan Norman tahu, kini Marc pasti sedang mencarinya, dia dipastikan telah bersekutu dengan Dennis. Maka darinya, Norman menembak ponselnya, dan menghilangkan setiap jejak yang memungkinkan dirinya untuk dilacak.
"Kau baik-baik saja, Señor?"
Semua trauma akan siksaan Marc masih belum hilang, permanen yang membuat jantung Norman berdetak kencang juga ketakutan yang mendalam. Norman mengingatkan pada dirinya sendiri, bahwa kini dia punya alasan untuk membunuh pria itu.
"Señor?"
"Katakan padaku dimana Dennis mengumpulkan semua anggota El Sinaloa dan membuat tanda di tubuh mereka."
"Itu…. Aku kurang yakin, mata kami semua tertutup, diangkut dalam sebuah truk besar."
"Apa dia memasukan sesuatu pada tubuh kalian?"
"No, dia hanya mentatto kami."
"Dasar bodoh," guman Norman dengan bibir menyeringai. "Apa yang kau ingat?"
"Aku tidak ingat apapun tentang tempat Dennis mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin El Sinaloa. Tapi aku rasa, itu berada di atas gunung."
"Di atas gunung?"
Norman berpikir, dimana Dennis membangun atau menjadikan tempat sebagai sarang El Sinaloa yang sebenarnya. Bar, klab dan kasino, semuanya Norma tahu letaknya dengan jelas. Dia ingin menghancurkan Dennis, dia harus mulai pada akarnya.
__ADS_1
"Berhenti di sini," perintah Norman.
Seketika mobil berhenti di pinggir hutan. "Kita belum sampai, Señor."
"Mansion dikelilingi oleh benteng dan CCTV, juga penjaga yang bergantian selama 4 jam sekali. Aku tahu di bagian ini ada CCTV yang tidak berfungsi normal. Jika lewat jalan utama, Marc akan menangkapku."
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?"
Norman menatap Jess lama. "Kau yakin akan melakukannya?"
"Kau tahu diriku, Señor."
"Aku ingin kau mengacau di gerbang utama, membuat sang pengawas CCTV terkecoh. Tembak sebanyaknya CCTV yang kau lihat, dan pergi jika mereka sudah melepaskan 3 tembakan padamu."
"Kau tahu aku tahan hanya dengan tiga peluru."
"No, peluru keempat adalah menyumpal mulutmu dengan granat."
Jess tertawa hambar. "Aku mengerti. Lalu bagaimana kau akan keluar?"
"Sisa masa kecilku berada di sana, aku akan membawa Don dan Malia untuk sembunyi sampai matahari terbenam."
"Lalu? Bagaimana kalian keluar dari benteng yang besar itu? Akan ada penjaga dan CCTV bukan?"
Inilah pertama kalinya Jess bicara cukup lama dengan Norman. Kini dia bisa membiarkan pria itu turun dan pergi.
Norman yang siap dengan senjatanya mulai memasuki hutan, melangkah dengan bibir yang tidak berhenti menghitung. Tepat di langkah ke empat ratus dua puluh tiga, dia baru bisa melihat benteng beton yang menjulang tinggi, dengan CCTV yang bergerak di beberapa titik untuk mengawasi.
Norman mengumpat melihat benda itu sudah berjalan normal kembali. Sampai dirinya melihat sarang lebah yang besar, sebuah ide muncul di benaknya. Norman tidak boleh terlihat menyusup. "Aku akan menjemputmu, Malia."
***
"Jangan lakukan itu," pinta Don saat Marc mendekati putrinya.
"Haruskah aku goreskan pisau di wajahnya?"
"Tidak, kumon jangan lakukan itu." Don meneteskan air matanya.
"Papa…"
__ADS_1
"Kau menginginkan aku, bukan dirinya."
"Tapi aku ingin melihatnya berdarah."
"Malia!"
"Hahahaha!" Tawa Marc menggelenggar.
"Hentikan! Hentikan! Aku yang membawa Diana! Jangan sakiti putriku, kumohon."
"Dia seharusnya tidak melahirkan anak ini! Dia seharusnya hidup bersamaku selamanya."
"Ya…." Don menangis memohon. "Aku yang salah, biarkan aku menebus dosa-dosaku."
Marc akhirnya tertarik, dia mendekat pada Don kembali. Yang mana membuat Malia panik. "No, Papa!"
Marc berjongkok di dekat Don. "Aku ingin kau terjun ke bawah sana."
"Berjanjilah kau akan melepaskannya, aku mohon."
Marc mengangguk dengan wajah liciknya, dia memutuskan tali yang mengikat Don. Membuat pria itu melangkah ke ujung atap. Yang mana membuat Malia panik. "Papa, jangan!"
Don berbalik menatap putrinya. "Ini yang dia inginkan, Malia."
"Papa, No! Papa!"
Malia menjerit kuat tatkala Marc mendorong Don hingga pria itu jatuh. Marc memberi isyarat pada Dennis untuk melepaskan Malia, membuat pemilik manik cokelat segera merangkak menuju lantai bawah.
Sepanjang dia bergerak, air mata menetes.Â
Tidak ada yang membantunya, semua pelayan hanya menatapnya saat Malia merangkak dengan gaun pengantinnya yang berdarah. Air mata jatuh di pipinya, telapak tangannya lecet. Semua rasa sakit di tubuhnya tidak dia rasakan. Hanya satu tujuan Malia, yaitu Don yang terbaring lemah di atas jalanan keras dengan darah keluar dari beberapa titik.
"Papa!"
Dan saat itu, Don masih membuka matanya. Hanya kelopak mata dan bibir yang bergerak. Ketika Malia semakin dekat merangkak dan memeluknya, Don mengeluarkan kalimat terakhir untuk putrinya, "Tetap percaya pada Norman, Malia."
"No, Papa! Bangun! Papa!"
---
__ADS_1
**Love,
ig : @Alzena2108**